Berita » GCMS Terpasang, Penelitian harus Lebih Maju

GCMS (Gas Chromatografy Mass Spectrometry) atau juga dikenal kromatografi gas spektrometri massa merupakan metode yang mengkombinasikan kromatografi gas (GC) dan spektrometri massa (MS) untuk mengindentifikasi senyawa yang berbeda dalam analisis sampel.

Dengan kombinasi teknik ini, kita dapat mengetahui “what is there and how much is present” ungkap Adi Purwanto selaku Application Enginering Alphasains Dinamika dalam acara “Overview Penggunaan GCMS di Bidang Pertanian” yang diselenggarakan di Balitkabi tanggal 13−14 Februari 2017. Acara tersebut dihadiri oleh peneliti dan teknisi Balitkabi, serta peneliti Balittas. Selanjutnya, pada tanggal 15−17 Februari 2017, dilaksanakan training pengoperasian alat.

Pada prinsipnya, ada dua blok utama dalam instrumen GCMS, yaitu GC dan MS. GC menggunakan kolom kapiler yang tergantung pada dimensi kolom (panjang, diameter, ketebalan film) serta sifat fase. Perbedaan sifat kimia antara molekul-molekul yang berbeda dalam suatu campuran dapat dipisahkan dengan melewatkan sampel sepanjang kolom.

Molekul-molekul tersebut memerlukan waktu yang berbeda (waktu retensi) untuk keluar dari GC. Berdasarkan data waktu retensi yang sudah diketahui dari literatur, bisa diketahui kandidat senyawa apa saja yang ada dalam sampel. Hasil yang didapat dari GC kemudian dimasukkan dalam instrumen MS, sehingga dapat diperoleh informasi mengenai massa molekul relatif dari senyawa sampel tersebut. Setiap senyawa memiliki keunikan, yaitu memiliki waktu retensi dan berat molekul yang berbeda.

gcms

Gambar komponen GCMS.

Tidak semua senyawa dapat dianalis dengan GCMS. Umumnya, senyawa yang dapat dianalisis dengan GCMS adalah senyawa yang dapat diuapkan (<350 ͦC) dan tidak terdekomposisi, contohnya sebagian besar solvent, pestisida, flavor, hidrokarbon, obat-obatan, dan lain-lain.

Keunggulan instrumen GCMS adalah resolusi dan sensitivitas tinggi, spesifik, fleksibel (mudah digabung dengan instrumen fisika/kimia lainnya), dapat memberikan informasi struktur, dan efisien (membutuhkan jumlah sampel sedikit, waktu pemisahan yang dibutuhkan relatif cepat). Kelemahan dari GCMS adalah kurang cocok untuk analisa senyawa labil pada suhu tinggi karena akan terdekomposisi pada awal pemisahan.

Dalam bidang pertanian, GCMS banyak digunakan untuk menganalisis POPs (Polutan Organik Persisten) seperti pestisida yang terkandung dalam bahan pangan, bahan kimia industri, produk yang tidak sengaja dihasilkan PCDD (Poly Chlorinated Dibenzop-Dioxins), PCDF (Poly Chlorinated Dibenzo Furans), PCB (Poly Chlorinated Biphenyl), karakterisasi tanaman (lignin, inositol, lemak, asam lemak, karbohidrat, flavonoid, antioksidan), metabolomics (fitohormon), analisa flavor, dan lain sebagainya.

Semoga dengan adanya GCMS milik Balitbangtan yang ditempatkan di Balitkabi dapat memperkaya hasil penelitian Balitbangtan dan berdampak positif bagi petani dan masyarakat luas.

gcms1

GCMS di Laboratorium Sentral Balitkabi.

RTH/EY