Berita » Gelar Budidaya Kedelai di Kawasan Hutan Kayu Putih

1-kayu-putih-1

Diawali saat temu wicara Menteri Pertanian RI dengan petani LMDH di Ngawi, 9 Januari 2012 yang lalu, Pak Panikun, petani pesanggem di hutan kayu putih Ponorogo, menyampaikan kepada bapak Menteri Pertanian bagaimana meningkatkan produksi kedelai dan ketersediaan benih berkualitas untuk varietas Gepak Kuning.

Petani berharap, aparat pemerintah menanggapi permintaan tersebut. Badan Litbang Pertanian pun bergerak cepat, memerintahkan Balitkabi segera merespons permintaan Pak Panikun dan kawan-kawan petani lainnya. Tim Peneliti Balitkabi pun turun ke lapang, diskusi dengan KPH di Madiun dan LMDH setempat. Maka diputuskan untuk melakukan Gelar Budidaya Kedelai di Kawasan Hutan Kayu Putih Ponorogo seluas 7 ha. Varietas Gepak Kuning mendominasi pertanaman gelar tersebut, disandingkan dengan varietas kedelai lainnya serta calon varietas kedelai toleran naungan, agar petani pesanggem bisa langsung membandingkan.

Ketidakpastian curah hujan pada awal tanam dapat diatasi oleh peneliti Balitkabi. Buktinya, keragaan tanaman kedelai sangat bagus. Observasi Kepala Balitkabi, Ketua Program (Prof. Marwoto) bersama penanggung jawab Gelar Budidaya, Gatut Wahyu MP, di areal Gelar Budidaya, 8 Mei 2012, menyimpulkan ”Pertumbuhan kedelai optimal dan berpeluang memperoleh hasil hingga 2 t/ha” taksir Dr. Muchlish Adie, Ka Balitkabi. Lahan di bawah tegakan hutan kayu putih, potensial untuk produksi kedelai. Prof. Marwoto menyampaikan kepada petani dan Ketua LMDH, lahan di bawah tegakan hutan kayu putih, berpotensi untuk produksi kedelai secara permanen atau sepanjang tahun, hal ini berbeda dengan kawasan hutan jati, yang hanya dapat ditanami kedelai hingga pohon jati berumur 5 tahun. Jika lebih dari 5 tahun kanopi pohon jati sudah menutup, kedelai tak kebagian cukup sinar matahari. Kondisi ini berlainan dengan hutan kayu putih, yang dapat ditanami kedelai sepanjang waktu, tidak dipengaruhi umur pohon kayu putih. Di Ponorogo saja, tersedia 3700 ha hutan kayu putih.  Harapan yang disampaikan Ketua LMDH, Bapak Suroso, pesanggem di sini hanya butuh kedelai Gepak Kuning dengan kualitas benih yang baik.

Petani pesanggem, kedelainya mantap

Gepak Kuning dan Gepak Ijo, merupakan hasil pemurnian varietas lokal Ponorogo. Pada 2008, kedua varietas tersebut dilepas menjadi varietas kedelai unggul. Dua varietas tersebut sangat sesuai untuk bahan baku tahu, rendemennya sangat tinggi (400%), kualitas tahunya lebih baik. Di areal Gelar Budidaya, keragaan varietas Gepak Kuning sangat bagus.

Gepak Kuning, harapan petani di kayu putih

Optimalnya pertumbuhan tanaman kedelai di bawah tegakan hutan kayu putih, tidak lepas dari dukungan Mitra Kerja Balitkabi yakni produsen Pestisida dan Pupuk seperti FMC, Petrosida, Petro Kayaku, Bayer dan Alam Jaya. Petani mendapatkan pembe­lajar­an dari sisi budidaya kedelai yang benar; sekaligus mendapatkan bimbingan pengguna­an pestisida dan pupuk yang benar dan efisien. Panen Raya dirangkai dengan Temu Lapang direncanakan pada 30 Mei 2012.

Terima kasih pak petani Pesanggem, Sahabatku; terima kasih para Mitra Kerja.

Varietas kedelai terbaru Gema, ditampilkan