Berita » Gerakan Pra dan Pascapanen Kedelai 2015 pada Temu Lapang di Sulteng

Hingga saat ini, Indonesia masih merupakan negara pengimpor kedelai, diperkirakan 1,9 juta ton kedelai masih harus diimpor dari negara lain setiap tahun. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri menuju swasembada kedelai, perlu meningkatkan areal tanam dari 0,9 juta ha menjadi 2 juta ha.

Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar untuk pengembangan kedelai. Total terdapat kurang lebih 2,8 juta hektar dan 2,36 juta hektar merupakan lahan kering, dan berpotensi untuk dikembangkan kedelai. Di Kabupaten Konawe Selatan, tepatnya di Desa Wonuakua, Kecamatan Sabulakua, telah ditanam kedelai Varietas Anjasmoro dengan keragaan yang cukup baik.

Daerah ini merupakan lahan kering dengan kondisi lahan bergelombang dan berada di pinggiran sungai, sehingga masih layak untuk ditanami kedelai. Terbukti penampilan utuh tanaman termasuk jumlah polong per tanaman cukup baik (lebih dari 50 polong/tanaman).

Temu lapang di Kabupaten Konawe Selatan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2015, dihadiri oleh Gapoktan, Dinas terkait, Bupati dan Ketua DPRD membahas tentang budidaya kedelai mulai dari prapanen hingga pascapanen, serta pemasaran hasil panen, dengan narasumber dari Balitkabi (Prof. Subandi), Unhalu (Dr. Ansharullah), BB Pascapanen (Ir. Marsudi), serta Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (Ir. Suhartini).

3-11-15a

Kegiatan panen raya oleh Bupati dan DPRD Kabupaten Konawe Selatan. Hasil temuwicara dengan Bupati dan DPRD Konawe Selatan diperoleh kesepakatan dengan akan diluncurkannya bantuan alsintan berupa beberapa unit traktor, pompa air, dan power threser kepada gapoktan yang penggunaannya akan diatur lebih lanjut. Harapannya dengan penyediaan alsintan tersebut jumlah lahan yang akan ditanami kedelai dapat diperluas pada tahun berikutnya.

3-11-15b

Bupati dan Ketua DPRD Konawe Selatan sedang mencoba alat power threser untuk membijikan kedelai. Dari hasil kegiatan temu lapang, diperoleh beberapa keinginan dan harapan dari semua yang hadir antara lain akan menjadikan kabupaten Konawe Selatan sebagai pusat penangkaran perbenihan kedelai untuk wilayah Sulawesi Tenggara.

3-11-15c

Oleh karena itu pada tahun 2016 akan segera dibangun jembatan yang menghubungkan Kabupaten Konawe Selatan dengan Kabupaten Konawe diikuti dengan pengaspalan jalan serta pengadaan alsintan. Dengan terbangunnya jembatan penghubung dan perbaikan jalan maka proses pemasaran hasil panen akan lebih cepat, lebih mudah dan biaya yang dikeluarkan oleh petani akan menjadi lebih ringan.

Pada kesempatan ini pula Bupati Konawe Selatan meminta dukungan Balitkabi dan BPTP Sultra untuk melakukan pengawalan dalam pelatihan produksi benih, termasuk pelaksanaan demo plot berbagai varietas unggul kedelai dengan skala yang lebih luas.

Dengan demo plot berbagai varietas unggul maka petani akan memiliki pilihan varietas yang paling sesuai. Rencana lokasi akan dibangun jembatan penghubung Kabupaten Konawe Selatan dengan kabupaten Konawe.

RI/Subandi