Berita » Hama Penggulung Daun pada Tanaman Kedelai

Di Indonesia, penggulung daun kedelai Lamprosema indicata Fabricius Lepidoptera: Pyralidae merupakan salah satu hama utama di daerah sentra produksi kedelai. Hama penggulung daun dapat menimbulkan kerusakan pada daun kedelai yang sangat parah. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 80% bahkan puso apabila tidak ada tindakan pengendalian. Hama ini tersebar hampir di seluruh provinsi. Hama penggulung daun menyerang daun kedelai dengan tanda tanda serangan terlihat dengan adanya daun-daun yang tergulung menjadi satu. Bila gulungan dibuka, akan dijumpai ulat atau kotorannya yang berwarna coklat hitam. Ngengat betina berukuran kecil, berwarna coklat kekuningan dengan lebar rentangan sayap 20 mm. Ngengat betina meletakkan telur secara berkelompok pada daun-daun muda. Setiap kelompok terdiri dari 2-5 butir. Ulat yang keluar dari telur berwarna hijau, licin, transparan dan agak mengkilap. Pada bagian punggung (toraks) terdapat bintik hitam. Seperti namanya, ulat ini membentuk gulungan daun dengan merekatkan daun yang satu dengan yang lainnya dari sisi dalam dengan zat perekat yang dihasilkannya. Di dalam gulungan, ulat memakan daun, sehingga akhirnya tinggal tulang daunnya saja yang tersisa. Panjang tubuh ulat yang telah tumbuh penuh 20 mm. Kepompong terbentuk di dalam gulungan daun. Kadang-kadang ulat jenis Tortricidae dijumpai dalam gulungan daun. Selain menyerang kedelai, ulat ini juga menyerang kacang hijau. kacang tolo, kacang panjang, Calopogonium sp. dan kacang tanah. Pengendalian hama penggulung daun pada tanaman kedelai dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Strategi PHT adalah mendukung secara kompatibel semua teknik atau metode pengendalian hama didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi. Prinsip operasional PHT adalah: (1) Budidaya tanaman sehat, tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama. Untuk itu penggunaan paket-paket teknologi produksi dalam praktek-praktek agronomis yang dilaksanakan harus diarahkan kepada terwujudnya tanaman yang sehat; (2) Pelestarian musuh alami, musuh alami (parasit, predator dan patogen serangga) merupakan faktor pengendali hama penting yang perlu dilestarikan dan dikelola agar mampu berperan secara maksimum dalam pengaturan populasi hama di lapang; (3) Pemantauan ekosistem secara terpadu, pemantauan ekosistem pertanaman yang intensif secara rutin oleh petani merupakan dasar analisis ekosistem untuk pengambilan keputusan dan melakukan tindakan yang diperlukan. (4) Petani sebagai ahli PHT, petani sebagai pengambil keputusan dan ketrampilan dalam menganalisis ekosistem serta mampu menetapkan keputusan pengendalian hama secara tepat sesuai dengan dasar PHT. Komponen pengendalian hama penggulung daun kedelai adalah: (1) Tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari; (2) Pergiliran atau rotasi tanaman yang baik adalah bila jenis tanaman pada suatu musim berbeda dengan jenis tanaman yang ditanam pada suatu musim berikutnya dan jenis tanaman tersebut bukan merupakan inang hama tanaman yang ditanam pada musim sebelumnya. Dengan pemutusan ketersediaan inang pada musim kedua, populasi hama yang sudah meningkat pada musim pertama dapat ditekan; (3) Cendawan entomopatogen Lecanicillium lecanii mampu menginfeksi telur, nimfa hama penggulung daun dengan tingkat mortalitas yang sangat tinggi dan dapat mencapai 50%; (4) Semprot dengan insektisida bila populasi mencapai ambang kendali (klorfluazuron, betasiflutrin, sipermetrin, alfametrin, carbosulfan, sihalotrin, sipermetrin).

Gejala serangan hama penggulung daun kedelai L. indicata F. Ulat dan kepompong di dalam gulungan daun kedelai.

Prof Marwoto/AW