Berita » Inovasi Teknologi Ubi Kayu Siap Dikembangkan di Lahan Pasang Surut Tipe C di Bumi Lambung Mangkurat

Penyampaian materi tentang teknologi produksi ubi kayu di lahan pasang surut tipe C, Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor, 10 Agustus 2017

Penyampaian materi tentang teknologi produksi ubi kayu di lahan pasang surut tipe C, Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor, 10 Agustus 2017.

Prof. Sudaryono penelitinya. Sejak empat tahun terakhir penelitian teknik budi daya ubi kayu telah diuji di lahan pasang surut di Kalimantan Selatan, daerah Kabupaten Barito Kuala. Penelitian mulai tahapan-tahapan hingga mendapatkan teknologi yang tepat untuk didaratkan di Bumi Lambung Mangkurat.

Penggunaan varietas unggul Badan Litbang Pertanian yang dirakit oleh tim pemulia ubi kayu Balitkabi dengan didukung hasil teknologi inovasi unggul oleh tim peneliti lainnya merupakan kerja nyata bagi negeri. Informasi keunggulan teknologi ubi kayu spesifik (lahan pasang surut tipe C) tersebut disampaikan dihadapan Kapuslitbang Tanaman Pangan, para pemerhati ubi kayu, peneliti, maupun dinas lainnya di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, di Bogor pada tanggal 10 Agustus 2017.

Hasil uji beberapa teknologi budi daya ubi kayu di lahan pasang surut menunjukkan keragaan produktivitas umbi segar antara 24‒40 t/ha (seperti pada tabel di bawah). Ragam penggunaan varietas ubi kayu menunjukkan juga ragam produktivitas umbi yang diperoleh. Hal yang penting juga diperhatikan adalah ketersediaan stek ubi kayu di daerah pengembangan dan calon pengembangan ubi kayu, demikian arahan Kapuslitbang Tanaman Pangan.

Hasil umbi dan kadar pati percobaan uji teknologi budi daya ubi kayu di Simpangjaya dan Sidomulyo Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan MT 2015.
Klon Simpangjaya Sidomulyo
Hasil (t/ha) Kadar pati (%) Hasil (t/ha) Kadar pati (%)
Var. CMM 2048-6 36,67 a 18,10 31,03 ab 18,54 b
Var. Ketan Jabung 32,42 b 17,94 33,43 a 18,48 b
Var. Kristal 31,74 b 18,75 24,04 b 20,17 a
Perlakuan
T1 = Kontrol 30,90 b 17,55 29,38 a 19,24
T2 35,42 a 18,20 30,46 a 17,17
T3 34,50 b 19,01 29,65 a 18,77
Keterangan: (T1) rekomendasi setempat (90 kg N/ha), (T2) rekomendasi nasional (200 – 100 – 100 = Urea-SP36-KCl), dan (T3) inovasi (112,5 kg N + 108 kg P2O5 + 120 kg K2O) + PPC-ZPT + 300 kg/ha dolomit. Sumber: Sudaryono dkk. 2016.
Hasil umbi dan kadar pati percobaan uji teknologi budi daya ubi kayu di lokasi Kolam Makmur dan Sidomulyo, Wanaraya, Barito Kuala, Kalimantan Selatan MT 2016.
Klon/ Varietas Kolam Makmur Sidomulyo
Hasil (t/ha) Kadar pati (%) Hasil (t/ha) Kadar pati (%)
Var. Gajah 33,84 a 15,09 a 38,28 a 16,67 b
Var. Mentega 35,16 a 15,87 a 30,17 b a 18,87 a
Var. Kristal 24,74 b 15,73 a 27,93 b 17,13 b
Perlakuan
T1 = Kontrol 24,55 b 17,36 a 19,73 c 17,26 a
T2 31,24 a 13,82 a 29,85 b 18,66 a
T3 33,67 a 14,37 a 38,56 a 17,28 a
T4 35,51 a 16,71 a 40,38 a 17,04 a
Keterangan : T1= kontrol (0 kg/ha); T2 NPK kg/ha = 200-100-100; T3 NPK+Dolomit kg/ha=250-200-240 +300; T4 NPK+Dolomit kg/ha = 300-200-300+500. Sumber: Sudaryono dkk. 2016

Tanaman ubi kayu memiliki kemampuan yang besar untuk tumbuh dan beradaptasi untuk menghadapi perubahan iklim global, degradasi kesuburan lahan, dan perubahan-perubahan lingkungan yang lain.

Keunggulan agronomis ubi kayu adalah: (1) potensi hasil tinggi, (2) kadar pati tinggi, (3) toleran terhadap keasaman tanah dan kekeringan, (4) umur panen fleksibel, dan (5) fleksibel dalam usahatani.

Kesimpulan yang dapat dirumuskan untuk pengembangan ubi kayu ke depan adalah: (1) Ubi kayu memliki peluang dan peran yang besar dan strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional di masa depan, (2) Pengembangan sistem produksi ubi kayu terbuka sangat luas baik dari aspek luas lahan maupun pasar, (3) Ketersediaan varietas unggul ubi kayu cukup banyak, (4) Teknologi pendukung pengembangan ubi kayu tersedia cukup, dan (5) Pengembangan agribisnis ubi kayu akan menciptakan multiplier effect lini-lini agribisnis yang sinergis dan berkelanjutan.

Untuk itu, Kapuslitbang Tanaman Pangan memerintahkan peneliti ubi kayu untuk membuat rekomendasi kebijakan ubi kayu di Indonesia.

Semoga bakti untuk negeri hasil inovasi teknologi ubi kayu oleh Profesor Dr. Sudaryono dan tim peneliti ubi kayu dapat mensejahterakan para petaninya.

GWAS