Berita » Jelajah Polo Pendem Lokal Malang Selatan

Malang Selatan adalah wilayah bagian selatan Kabupaten Malang dengan pegunungan kapur yang membujur ke selatan di sepanjang garis pantai selatan. Dahulu daerah ini dikenal sebagai daerah minus karena tanahnya yang tandus dengan sumber air yang terbatas bahkan sebagian besar daerah pertanian hanya mengandalkan air hujan. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat daerah Malang Selatan banyak menanam berbagai jenis umbi-umbian (mereka menyebut “Polo Pendem”) atau dapat diartikan sebagai umbi-umbian yang terpendam dalam tanah untuk mendukung ketahanan pangan mereka. Sekitar tahun 90 an, makanan pokok masyarakat Malang Selatan adalah tiwul, berbahan dasar ubi kayu kering atau gaplek. Mereka juga memanfaatkan polo pendem lainnya seperti Gembili, Uwi, Suweg, dan Gadung sebagai makanan camilan.

Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengantarkan aneka umbi lokal turut memperkokoh ketahanan pangan nasional. Tepat sekali sebagai dukungan bagi program Kementerian Pertanian dengan slogan “Indah Bahagia dengan Pangan Lokal”. Hasil jelajah ke Malang Selatan, Kami menemukan beberapa umbi lokal unik.

Gembili bokor. Gembili Bokor, adalah salah satu jenis umbi-umbian asli pulau Jawa yang semakin langka. Ukurannya jauh lebih besar dibanding saudaranya si Gembili Emprit, walau rasanya tidak beda, sama-sama enak. Jika dipanen sesuai umurnya (sekitar 12 bulan), satu batang Gembili Bokor mampu menghasilkan 12 umbi besar (tiap umbi sebesar paha orang dewasa yang gemuk) atau sekitar 30 – 40 kg. Saat kami mendapatkan umbi tersebut, kebetulan tanaman masih berumur sekitar 6 bulan sehingga ukurannya masih tergolong sedang (seperti yang terlihat pada foto).

Rasanya? Jangan ditanya, enak sekali, apalagi jika sudah cukup umur, daging umbinya akan terasa manis dan pulen dengan sensasi khas. Jaman dulu gembili ini selain menjadi tambahan makanan pokok, juga sering dijadikan camilan keluarga.

umbi4 umbi5
 Gembili Bokor, umbi besar rasa enak, gembili varietas lokal Malang Selatan.

Gembili sangat berpotensi untuk mendukung ketahanan pangan nasional, karena umbinya dapat bertahan hidup di dalam tanah ketika musim kemarau dan akan tumbuh secara alami ketika musim hujan. Umbi ini juga dapat hidup dibawah pepohonan yang rindang sekaligus memanfaatkan batangnya sebagai rambatan. Dengan banyaknya duri-duri yang tumbuh di sekujur batangnya, tanaman merambat ini juga sangat cocok dibuat pagar hidup di sekeliling kebun.

Ciri khas dari jenis umbi ini adalah adanya duri kemarung (istilah orang Jawa), di mana duri ini tumbuh di perakaran sekitar umbi. Kemungkinan Tuhan menciptakan duri kemarung ini adalah untuk melindungi umbi Gembili dari serbuan hama babi hutan atau kera. Dengan demikian manusia tidak perlu repot-repot lagi menjaga tanamannya dari serbuan hama-hama yang sulit diatasi tersebut.

Sayangnya, Kami belum menemukan seorangpun petani yang membudidayakan secara intensif gembili ini. Pada umumnya, umbi ini ditanam hanya sebagai tanaman sela yang keberadaannya kurang mendapat perhatian serius. Saat ini tanaman gembili semakin langka. Diperlukan langkah nyata penyelamatan plasma nutfah ini, agar anak cucu kita dapat merasakan umbi dan merawat tanaman gembili.

Uwi legi. Uwi adalah sejenis umbi yang batangnya merambat namun tidak berduri seperti gembili. Pada jaman dahulu, uwi digunakan sebagai makanan pokok seperti ubi kayu, selain juga digunakan sebagai makanan camilan. Salah satu jenis uwi yang rasanya enak dan manis adalah Uwi Legi, yaitu uwi lokal asli Malang Selatan. Uwi legi ini rasanya benar-benar enak, berbeda dengan saudaranya, Uwi ungu, meskipun rasanya juga enak, tetapi masih diikuti dengan rasa sedikit gatal.

Pak Purwanto, petani Desa Srigonco, Kec.Bantur, Kab. Malang memperlihatkan Uwi Legi, salah satu koleksi tanaman umbi di lahannya

Pak Purwanto, petani Desa Srigonco, Kec.Bantur, Kab. Malang memperlihatkan Uwi Legi, salah satu koleksi tanaman umbi di lahannya

Ubi kayu Kapuk Putih dan Kapuk Merah. Kedua jenis ubi kayu rasa enak tersebut adalah asli Malang Selatan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat sekitar. Ciri khas yang membedakan kedua varietas lokal tersebut adalah ubi kayu kapuk putih, kulit batang berwarna putih dan kulit umbinya jika dikelupas permukaannya juga berwarna putih. Sedangkan ubi kayu kapuk merah, kulit batangnya agak kehijauan dengan kulit umbi jika dikelupas akan berwarna merah. Keduanya sama-sama mempunyai rasa yang enak sehingga sangat disenangi petani. Pada umumnya petani membudidayakan kedua varietas lokal tersebut untuk kebutuhan pangan sendiri, baik untuk dimakan langsung setelah dikukus atau dikeringkan menjadi gaplek sebagai bahan dasar tiwul.

umbi umbi2
 Kapuk Putih (kanan) dan Kapuk Merah (kiri), ubi kayu lokal Malang Selatan. Rasanya enak dan tahan “poyo” jika disimpan lama.

DS