Berita » Kabar Porang dari Pule, Trenggalek

PPL Trenggalek Ibu Tosiah bersama Umbi Porang Trenggalek

PPL Trenggalek Ibu Tosiah bersama Umbi Porang Trenggalek

Walau dihantam pandemi COVID-19 nyatanya usahatani porang tetap tegar dan menjadi primadona komoditas ekspor. Benar kata Mentan Dr. Syahrul Yasin Limpo, pertanian akan tetap jalan, demikian pula dengan porang dari Trenggalek ini.

Porang di Trenggalek telah ditanam petani sejak tahun 1980an kemudian dibudidayakan secara masif oleh masyarakat mulai tahun 2014. Menurut ibu Tosiah, PPL Trenggalek pada tahun 2016 harga per kg umbi porang Rp 3.000,00 bahkan per Agustus 2020 mencapai Rp 13.700,00 per kg.

Budi daya porang di Trenggalek, biasanya ditumpangsarikan dengan kacang tanah dan jagung, atau ditanam di bawah naungan tanaman tahunan seperti sengon pada ketinggian 500-1200 m dpl. Tanah gembur dan lempung berpasir serta kaya akan seresah organik merupakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan porang. Bibit yang digunakan sebagian berasal dari umbi dan katak. Penyiangan dilakukan setiap kali ada gulma yang muncul sehingga harus sering dilakukan pengontrolan, selain itu juga untuk memantau penyakit pada tanaman porang seperti busuk batang bawah. Petani umumnya melakukan penyemprotan dengan fungisida dan memberi kapur pada batang yang busuk.

Pemupukan menggunakan pupuk kandang sapi maupun kambing digunakan sebagai pupuk dasar dan pupuk susulan pada umur 2 dan 3 bulan sebanyak 2 kg per lubang tanam untuk meningkatkan kesuburan tanah, tergantung besarnya umbi. Pembumbunan dilakukan untuk menutup akar serabut karena lubang tanam tidak terlalu dalam.

Musim tanam porang jatuh pada bulan Oktober/November, dan akan mengalami fase dorman mulai bulan April, sehingga petani biasanya sudah menanam kacang tanah yang akan dipanen sebelum umbi porang di tanah tumbuh lagi. Setelah itu, berganti dengan tanaman jagung. Begitulah pola yang biasa dilakukan oleh petani porang di Trenggalek.

Di tahun pertama penanaman porang akan diperoleh umbi dengan bobot umbi 2-3 kg, pada tahun kedua bobot umbi sekitar 7 kg dan tahun ketiga dapat mencapai bobot umbi hingga 12 kg bahkan lebih dari 12 kg. Produktivitas umbi untuk benih asal umbi sekitar 40-60 ton/ha/tahun, sedangkan jika benih asal katak mencapai 2-3 kw/ha/tahun. Harga umbi porang ditingkat pengepul Rp 8.000,00 – Rp 13.700,00 /kg (Juli, 2020). Menghitung pendapatan yang sedemikian menggiurkan dari budi daya porang ini, tak heran muncul petani-petani porang baru di Trenggalek juga dari tempat lain.

Sampai saat ini, petani hanya menjual dalam bentuk umbi dan belum sampai pada pengolahannya. Dari pengepul, umbi porang kemudian dikirim ke pabrik menjadi tepung olahan yang kemudian diekspor ke negara lain seperti China dan Jepang. Teknologi pengolahan dan pemanfaatan porang menjadi tantangan inovasi teknologi bagi negeri ini, selain itu juga penyediaan benih menjadi pondasi tak terpisahkan bagi kemajuan produksi porang dalam negeri.

Pertanaman Porang di Pule, Trenggalek

Pertanaman Porang di Pule, Trenggalek

Panen umbi porang umur 6 bulan

Panen umbi porang umur 6 bulan

AA