Berita » Kacang Hijau di Lahan Salin Pantura

Pertanaman kacang hijau Poktan Karya Sejahtera Desa Dasin, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Maret 2020

Pertanaman kacang hijau Poktan Karya Sejahtera Desa Dasin, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Maret 2020

Kacang hijau mulai diminati petani kembali, terutama setelah menjadi komoditas ekspor dengan permintaan yang tinggi, disamping permintaan dalam negeri yang cukup banyak untuk industri makanan bayi maupun olahan berbasis kacang hijau. Perhatian pemerintah terhadap komoditas ini sangat besar, apalagi setelah Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo mencanangkan Program Gratieks di tahun 2020. Keunggulan lain komoditas ini dapat dipanen pada 55 – 65 hari, toleran kekeringan, dan relatif adaptif pada lahan kurang subur, sehingga potensial dikembangkan di lahan sub optimal.

Menurut data BPS 2018 luas panen kacang hijau dari lahan sawah dan tegal mencapai 206.525 ha. Luas panen kacang hijau di Jawa 153.242 ha atau 74,2% dari luas panen nasional, sebagian ditanam di lahan salin sepanjang pantai utara dan selatan Jawa. Sisanya 25,8% kacang hijau ditanam di luar Jawa.

Alih fungsi lahan subur di Jawa mengharuskan ekstensifikasi kacang hijau ke lahan sub optimal (lahan potensial) seperti lahan kering masam, lahan kering iklim kering, lahan rawa pasang surut, lahan rawa lebak dan lahan gambut. Dalam upaya mendukung pengembangan budidaya kacang hijau di lahan salin, Balitbangtan melalui Balitkabi akan melaksanakan penelitian VUB kacang hijau toleran lahan salin dengan teknologi budidaya pendukungnya pada tahun 2020.

Merujuk kriteria salinitas tanah menurut USDA (1954) dan Jones (2002) yaitu : tanah non salin (DHL <1.0 dS/m), sangat rendah (DHL 1.1 ‒ 2.0 dS/m, sedang (DHL 2.1 ‒ 4.0 dS/m), agak tinggi (DHL 4.0 ‒ 8.0 dS/m), dan tinggi (DHL 8.1 ‒ 16.0 dS/m) dari ekstrak pasta jenuh (ECe). Akan dilakukan Uji Multi Lokasi (UML) kacang hijau toleran lahan salin dengan tujuan mendapatkan galur harapan kacang hijau toleran salinitas (DHL 6 ‒ 7 dS/m), potensi hasil 1,0 t/ha, umur 56 hst, dan masak serempak disertai teknologi pendukungnya. Penelitian direncanakan dilaksanakan di daerah pantura Jawa Timur, yaitu Tuban, Lamongan, Gresik, Pasuruan, dan Probolinggo.

Berkaitan dengan program tersebut telah dilakukan kegiatan mencari lokasi UML galur harapan kacang hijau toleran lahan salin pada bulan Maret 2020. Tim kacang hijau Balitkabi menyisir beberapa lokasi di sekitar pantura Tuban sampai Gresik untuk mencari lokasi penelitian dengan spesifikasi tanah salin untuk tanaman kacang hijau dan berhasil mengindentifikasi calon lokasi dengan kategori tanah salin. Tim kacang hijau membidik lokasi dengan DHL tanah di atas 4,0 dS/m. Tingkat salinitas tanah diukur dengan menggunakan EC-meter portable digital, sehingga DHL tanah segera diketahui langsung dari layar alat.

Salinitas tanah di daerah Kecamatan Palang Kabupaten Tuban berkisar antara 8,0 – 17,0 dS/m. Di daerah Kecamatan Jenu, Tuban DHL tanah berkisar antara 7,0 – 14, 0 dS/m. Di daerah Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan juga menunjukkan kadar salinitas di atas 7,0 (7 – 11 dS/m).Pengukuran salinitas tanah dilanjutkan ke Dukuh Brengkok, Desa Sidomukti, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan pada lahan bekas tanaman jagung DHL tanah adalah 8 – 17 dS/m. Selain di Tuban dan Lamongan, tanah salin juga dijumpai di Desa Bolo, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, di lahan sawah yang sedang ditanami padi dan jeruk, DHL tanah berkisar antara 7 – 14 dS/m. Lahan dengan kadar salinitas ringan hingga sedang merupakan harapan pengembangan kacang hijau dengan dukungan VUB toleran salinitas dan teknologi budidaya yang efisien, efektif dan ramah lingkungan.

Pelaksanaan kegiatan penelitian Balitbangtan di daerah menuntut kerjasama atau koordinasi dengan instansi terkait seperti Dinas setempat, yaitu Dinas Pertanian Tuban, BPP Jenu dan BPP Tambakboyo. Pihak Dinas Pertanian Kabupaten Tuban diwakili oleh Sekretaris Dinas Pertanian yang menyatakan kegembiraannya dapat bersinergi dengan Balitbangtan (Balitkabi) untuk pengembangan penelitian komoditas kacang hijau wilayah kabupaten Tuban. Lebih lanjut Kabid Produksi yang diwakili Ir. Supriyono mengharapkan dapat berbagi teknologi di bidang pertanian, agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani wilayah Tuban. Di Tuban kacang hijau banyak dibudayakan di Kecamatan Palang, Jenu, Kerek dan Tambakboyo, umumnya ditanam di lahan kering dan sawah setelah padi sawah.

salin salin2
 Koordinasi dengan Dinas Pertanian Tuban diwakili Bapak. Ir. Supriyono, (kiri) dan dengan BPP Tambakboyo (kanan), Maret 2020

Pengukuran salinitas tanah di lahan BPP Tambakboyo dilakukan bersama dengan PPL setempat. Pengamatan DHL dari beberapa lokasi sebesar 7,0 – 14 dS/m. Menurut Ibu Azizah, SP, koordinator BPP Tambakboyo, kacang hijau masih diminati petani di desa Dasin dan Tambakboyo. Kacang hijau ditanam di lahan tegal setelah tanaman jagung, tetapi petani tidak mengetahui varietas kacang hijau yang mereka tanam. Di daerah Tambakboyo dijumpai hamparan kacang hijau yang tumbuh subur, ada yang ditanam secara monokultur, maupun tumpangsari dengan cabai, singkong dan jagung. Kadar salinitas tanah di lokasi ini berkisar 3,0 – < 8,0 dS/m. Lahan dengan pola polikultur cukup mendominasi lahan tadah hujan di pantura Jawa Timur.

salin3 salin4 salin5
 Pertanaman kacang hijau petani Poktan Cokro Makmur Desa Cokrowati, Kecamatan Tambakboyo, Tuban, Maret 2020
salin6 salin7 salin8
 Pengukuran DHL tanah di Kecamatan Palang (kiri) dan di Kecamatan Jenu (tengah) Kabupaten Tuban serta di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan (kanan), Maret 2020

SAR/HK/RDP