Berita » Kacang Hijau, untuk Lahan Kering Iklim Kering

1-iklim-kering-2

Pekan Pertanian Lahan Kering Iklim Nasional (PPLKIKN), 10–14 September 2012, bertemakan Sistem pertanian terpadu lahan kering beriklim kering berbasis inovasi untuk menghadapi perubahan iklim, dilaksanakan di KP Naibonat, BPTP NTT.  Balitkabi berperanserta dalam pengawalan kacang hijau, yang memang menjadi objek kunjungan lapang terluas, di samping gelar beberapa varietas ubijalar serta mendukung gelar pameran. Kacang hijau, prospektif untuk lahan kering iklim kering, karena umurnya pendek, hanya 55 hari, bermekanisme terhindar dari kelangkaan air, sehingga dijuluki toleran kekeringan. Kacang hijau varietas Vima 1, Murai, Sriti, Perkutut, Kutilang, Betet, mendominasi gelar teknologi di lapang. NTT, khususnya di lokasi gelar teknologi, sekarang betul-betul kering. Sejak Maret curahan air hujan sedikit. Tidak salah kalau pilihannya jatuh pada komodias kacang hijau. PPLKIKN diawali dengan panen varietas kacang hijau Vima 1 oleh Gubernur NTT, Bupati Kupang, Ketua DPRD NTT serta didampingi oleh Kepala Badan Litbang Pertanian.  Di sela-sela panen tersebut, Kepala Balitkabi, menjelaskan bahwa kacang hijau Vima 1 yang dipanen sekarang berada pada kondisi kekeringan yang cukup panjang, namun masih mampu berproduksi sekitar 800 kg, dengan 3 kali pengairan, yang berasal dari embung yang memang tersedia di BPTP NTT.  Dengan harga jual sekitar Rp 17.000/kg, maka kacang hijau prospektif untuk lahan kering iklim kering. Dalam sambutan pembukaan PPLKIKN, Gubernur NTT sangat suka mengunjungi lahan yang ada di BPTP NTT, alasannya di KP Naibonat selalu hijau, ditanami beragam tanaman pangan serta di sini banyak inovasi teknologi pertanian. Gubernur NTT berterima kasih kepada Badan Litbang Pertanian. Yang harus diingat, harapan Gubernur NTT, BPTP NTT jangan menepuk dada dulu, karena ukuran keberhasillannya bukan dalam pagar BPTP NTT, tetapi bagaimana teknologi yang ada ini sampai dan dikembangkan oleh petani di luar pagar BPTP NTT.  Kritikan yang sebetulnya untuk seluruh jajaran peneliti Badan Litbang Pertanian. Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, memberikan perhatian juga terhadap komoditas kacang hijau.  Mestinya dengan umur yang hanya 55 hari, dapat digerakkan dan dikembangkan oleh masyarakat NTT, yang memang beriklim kering.  Perlu diingatkan bahwa yang selalu menjadi masalah adalah penyediaan benihnya.  Sambil berkelakar, disampaikan jangan sampai benih datang pada saat petani sedang panen raya. Benih harus diproduksi di NTT sendiri agar memenuhi prinsip 6 Tepat. Pameran beragam contoh biji aneka kacang, dapat memberikan informasi akan kekayaan varietas unggul aneka kacang milik bangsa kita. Juga dipamerkan umbi dari ubijalar ungu dan oranye sebagai alternatif pangan masa depan. Apalagi Gubernur juga mencanangkan Gerakan Konsumsi Pangan Lokal, pangan yang harus berasal dari tanah NTT, pangan yang dapat ditanam dan berproduksi di NTT, bukan didatangkan dari luar NTT.  PPLKIKN juga dirangkai dengan Seminar Nasional dan sebanyak 7 makalah peneliti Balitkabi dipresentasikan pada Seminar Nasional tersebut. Pada akhir sambutannya, Gubernur NTT menyampaikan sumber daya alam bisa habis, tetapi inovasi dan kreasi tidak akan pernah habis.  Teruslah berinovasi.

Gubernur NTT panen kacang hijau Vima 1.

Varietas Murai, tumbuh mumpuni.

Pelajar mengamati biji aneka kacang.