Berita » Katam Menjawab Kerentanan Sektor Pertanian

Perubahan iklim yang terjadi saat ini merupakan keniscayaan yang dipicu oleh aktivitas manusia (antrophogenik) yang menghasilkan energi GRK. Sektor pertanian, khususnya tanaman pangan, dinilai rentan terhadap perubahan iklim. Menyadari ancaman tersebut, Badan Litbang Pertanian merancang Kalender Tanam (Katam) dan di-launching oleh Menteri Pertanian pada 28 Agustus 2007. Katam berupa peta yang menggambarkan potensi pola dan waktu tanam tanaman pangan (padi dan palawija) berdasarkan potensi dan dinamika sumberdaya iklim serta ketersediaan air, atau peta yang memberikan informasi spasial dan tabular tentang awal tanam & tutup tanam, Indeks Pertanaman (IP), pola tanam, potensi luas areal tanam dan rekomendasi teknologi tanaman pangan pada lahan sawah berdasarkan variabilitas dan perubahan iklim serta sifat tanah. Untuk memperkuat dan memberikan potensi manfaat dari Katam, telah dibentuk Tim Gugus Tugas (TGT) Katam pada`setiap BPTP. Untuk mengevaluasinya dilakukan FGD tentang Katam Terpadu, 18–20 September 2013 di Auditorium Utama Ir. Sadikin Sumintawikarta, Kampus Pertanian Cimanggu Bogor; diikuti oleh TGT Katam dari seluruh BPTP, dan ikut hadir adalah peneliti Balitkabi (Muchlish Adie). Narasumber berasal dari BBP2TP, BBSDLP, BMKG dan IPB.
Suasana FGD Katam Terpadu di BogorFGD yang bertemakan Katam terpadu menjawab kerentanan sektor pertanian terhadap perubahan iklim, pada intinya ditujukan untuk pemantapan tugas TGT Katam; mengevaluasi dan mengatasi problem dan permasalahan implementasi Katam di tingkat operasional. Selain penyegaran dari beberapa narasumber, setiap TGT BPTP memaparkan success story implementasi Katam Terpadu, yang saat ini muatannya tidak hanya untuk padi, tetapi telah berkembang untuk Katam tanaman jagung dan kedelai. Diskusi yang mengemukaka tentang implementasi Katam dan updating database masih cukup banyak, di samping manfaatnya yang dinilai cukup banyak. Di antara persoalan implementasi Katam di antaranya adalah masih lebarnya prediksi musim tanam dengan kenyataan di lapang; OPT belum sesuai, varietas anjuran belum sesuai dan jika sesuai benih tidak tersedia, data untuk kedelai serta jagung masih banyak yang kosong dsbnya. Rekomendasi pemupukan dianggap telah memadai. Dengan FGD diharapkan masing-masing akan memiliki komitmen terhadap keberhasilan dan penyempurnaan dari Katam Terpadu. Indikatornya akan lebih akurat (komplain menurun); lebih tepat sasaran; lebih mudah dipahami; dan yang penting juga adalah lebih cepat dari sebelumnya. Ke depan Katam Terpadu akan menjadi bagian dari Agro Map Info. Semoga terlaksana.
MMA/AW