Berita » Kawasan Mandiri Benih Mendukung Kedaulatan Pangan

Penguatan produksi nasional tanaman pangan, khususnya padi, jagung dan kedelai, menjadi perhatian dan program strategis pada pemerintahan baru di Indonesia. Upaya penguatannya distrategikan salah satunya melalui kecukupan dan kedaulatan perbenihan tanaman pangan pada setiap kawasan. Balitbangtan, 3 November 2014, melakukan pembahasan perencanaan Model Kawasan Benih Mandiri Tanaman Pangan. Pertemuan dipimpin oleh Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Dr. I. Made Mejaya, dihadiri oleh Kepala BB Padi beserta Kabid PE dan peneliti, Kepala Balitsereal beserta Kasie Yantek dan Kepala Balitkabi, Dr. Didik Harnowo yang disertai oleh Kasie Yantek (Dr. Yusmani Prayoro), Koordinator Kedelai (Prof. Dr. Marwoto) dan pemulia kedelai Muchlish Adie.Kepala Balitbangtan, Dr. Haryono, menyampaikan bahwa warga Kementerian Pertanian, khususnya Balitbangtan harus berbangga, karena pertanian masih diposisikan penting pada saat ini. Kita harus merespons cepat terhadap perubahan dan harus tetap bersemangat dan bekerja keras. Produk yang bersifat investment harus tercatat dan bermakna. Scientific report tetap menjadi kebutuhan dan ukuran keberhasilan, tetapai jangan dilupakan bahwa logistik dari suatu produk harus semakin digerakkan. Kedaulatan benih harus dipikirkan dan digerakkan, merupakan kebutuhan fundamental, salah satunya melalui Model Kawasan Mandiri Benih.

Pada tahun 2015 akan dimulai Gerakan Penerapan (GP) PTT, penyempurnaan dari SL-PTT untuk padi, jagung, dan kedelai. GP PTT kedelai untuk satu kawadan terdiri dari 3000 ha, dan Kawasan Mandiri Benih akan berada dalam kawasan tersebut. Sebagai Model Kawasan Mandiri Benih Kedelai pada tahun 2015 direncanakan di NTB, Sulsel atau DIY.Hasil pertemuan merumuskan: (1) Membuat beberapa skenario untuk mendukung GP-PTT yang berupa penentuan rencana lokasi model desa mandiri benih untuk masing-masing komoditas dan melakukan identifikasi keberadaan penangkar/gapoktan masing-masing lokasi, luas lahan produksi, fasilitas yang dimiliki, dan lain-lain (profil penangkar), (2) Penerapan model desa mandiri benih yang direncanakan, (3) Jumlah lokasi model desa mandiri benih untuk masing-masing komoditas minimal 2 lokasi (anggaran sudah direncanakan), (4) Diperlukan koordinasi antara Puslitbang TP dan BB/Balit dengan BPTP setempat, direktorat terkait untuk implementasi model desa mandiri benih di kawasan GP-PTT, dan (5) Puslitbang TP merencanakan workshop pemantapan model kawasan mandiri benih peserta, Balit, BPTP dan Direktorat.

MMA/AW