Berita » Kawasan Perhutani Penopang Utama Pengembangan Kedelai di Jawa Barat

jabar1

Luas tanaman kedelai di Provinsi Jawa Barat tahun 2013 adalah 35.682 ha yang tersebar di 10 kabupaten. Sentra tanaman kedelai di Jawa Barat terdapat di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Garut, Sukabumi, dan Indramayu, dengan produktivitas tertinggi di Indramayu (Tabel 1). Dalam program GPPTT (Gerakan Pelaksanaan Pengelolaan Tanaman Terpadu) kedelai tahun 2015, Kabupaten Indramayu ditetapkan sebagai lokasi pengembangan untuk Provinsi Jawa Barat, dan akan dipusatkan di Kecamatan Gantar, Kroya serta Terisi (tiga kecamatan sentra kedelai) dengan target seluas 34.000 ha. Dalam kondisi normal, luas tanaman kedelai di Kabupaten Indramayu berfluktuasi dari 1.200 ha hingga 4.300 ha (data tahun 2011−2013).Target tanam kedelai seluas 34.000 ha tersebut akan dicapai melalui program GPPTT kawasan 1.500 ha, GPPTT non kawasan 10.000 ha, melalui program PAT (perluasan areal tanam) dan PIP (peningkatan indeks pertanaman) seluas 21.500 ha, serta dari dana APBNP 2015 seluas 1.000 ha. Target utama penanaman adalah pada kawasan lahan milik perhutani (90%) dan lahan milik petani (10%).

Sebagian besar kedelai di Jawa Barat di tanam pada lahan sawah tadah hujan dalam pola tanam padi-padi-kedelai atau padi-kedelai-kedelai, dan pada lahan kering dengan pola tanam padi-kedelai-kedelai atau kedelai-kedelai-kedelai, tetapi mayoritas ditanam dalam pola tanam padi-kedelai-kedelai dan padi-padi-kedelai. Pola tanam tersebut didukung oleh curah hujan yang terjadi sepanjang tahun, tetapi bulan basah terjadi selama 7 bulan (November hingga Mei) dan bulan kering selama 5 bulan (Juni hingga Oktober) (Gambar 1). Selain itu juga didukung oleh kondisi suhu yang sesuai untuk pertanaman kedelai. Suhu udara maksimum tidak lebih dari 30oC dan suhu minimum sekitar 20oC, sedangkan perbedaan antara suhu maksimum dan minimum tertinggi terjadi antara bulan Agustus hingga Oktober (Gambar 2).


Gambar 1. Curah hujan bulanan dan jumlah hari hujan di Provinsi Jawa Barat tahun 2009‒2014 (data diolah dari BPS Jawa Barat, 2014).
Gambar 2. Suhu udara bulanan di Provinsi Jawa Barat tahun 2009‒2014 (data diolah dari BPS Jawa Barat, 2014).
Observasi lapang yang dilakukan pada tanggal 23‒24 April 2015 di Kecamatan Gantar dan Terisi, terlihat bahwa tanaman kedelai banyak ditanam di antara tanaman jati dan kayu putih (Gambar 3−6) dalam pola tanam kedelai-kedelai-kedelai, padi-kedelai-kedelai, dan padi-padi-kedelai. Untuk alasan keamanan dan kelestarian kawasan hutan, kawasan lahan hutan karet tidak diperbolehkan ditanami tanaman lain, sesuai peraturan pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat.


Gambar 3. Kawasan lahan hutan kayu putih di Kecamatan Gantar dengan pola tanam padi-padi-kedelai.


Gambar 4. Kawasan lahan hutan kayu putih di Kecamatan Gantar dengan pola tanam padi-kedelai-kedelai.


Gambar 5. Kawasan lahan hutan jati di Kecamatan Terisi dengan pola tanam kedelai-kedelai-kedelai.


Gambar 6. Kawasan lahan hutan karet di Kecamatan Gantar yang potensial untuk pengembangan kedelai.Luas hutan produksi di Jawa Barat untuk tanaman jati adalah 176.511 ha, kayu putih 6.533 ha, dan karet 23.130 ha. Tahun 2011−2013, Perhutani unit III Jawa Barat telah berperan dalam menyukseskan program GP3K (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi) untuk komoditas padi dan jagung dengan total luas 28.900–33.850 ha. Menurut kasie produksi Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu (Ir. Abdul Mu’in) bahwa lahan kawasan Perhutani inilah yang menjadi sasaran utama untuk menyukseskan program peningkatan produksi kedelai tahun 2015. Berdasarkan pengamatan lapang, elevasi tertinggi dimana kedelai dibudidayakan adalah sekitar 100 m dpl. Dalam pelaksanaan program pengembangan kedelai tahun 2015, Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu hingga akhir bulan April 2015 telah menyelesaikan pendataan CP-CL (Calon Pelaksana Calon Lokasi) untuk 34.000 ha. Hingga akhir bulan April 2015 telah terealisasi tanam 4.950 ha (periode tanam Maret 2015), sedangkan sisanya akan dilaksanakan pada musim tanam Mei/Juni. Dari aspek kesuburan lahan, lahan yang berpola tanam padi-padi-kedelai lebih subur dibandingkan lahan yang bepola tanam padi-kedelai-kedelai atau kedelai-kedelai-kedelai. Hasil padi dan kedelai menurut pengalaman petani pada kedua pola tanam tersebut adalah padi 6−7 t/ha dan kedelai 1,5−2,0 t/ha, bila dikelola dengan baik. Koordinasi dan dukungan semua pihak terkait sangat diharapkan agar program pengembangan kedelai dapat sukses dan berdampak tidak saja terhadap peningkatan produksi nasional, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani.

Abdullah Taufiq