Berita » Kedelai Bergandengan dengan Jeruk

Posisi Banyuwangi sebagai lumbung pangan di Jawa Timur tidak perlu diragukan lagi. Bahkan tidak berlebihan jika petani di Kabupaten Banyuwangi merupakan petani andalan untuk komoditas kedelai. Luas areal kedelai yang ada di Banyuwangi mencapai sekitar 36.000 hektar, merupakan areal kedelai terluas di Jawa Timur. Konstribusi Banyuwangi terhadap kebutuhan kedelai di Jawa Timur mencapai 16%. Rata-rata produksi kedelai per hektar telah mencapai 1,49 ton/hektar, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata hasil per hektar di Jawa Timur yang baru mencapai 1,37 ton per hektar.Komoditas jeruk juga menjadi andalan ekonomi petani Banyuwangi, dengan hamparan terlihat di berbagai kecamatan seperti di Tegal Dlimo, Purwoharjo, Muncar, Cluring dsbnya. Yang mengesankan lahan di bawah tegakan jeruk dimanfaatkan secara optimal melalui penanaman kedelai. Pada tahun 2007, Balitkabi, juga telah melakukan produksi benih kedelai di bawah tegakan jeruk, dan hasil benih kedelainya tidak mengecewakan.
Bergandengan mesra jeruk dan kedelaiPetani kedelai di Banyuwangi sudah menggandrungi varietas Anjasmoro, yang dulunya didominasi oleh varietas Baluran. Berdasarkan observasi yang dilakukan teknisi Balitkabi, Arifin SP dan Sugiono (teknisi KP Genteng), pertengahan Agustus 2013, penanaman kedelai di bawah tegakan jeruk tetap dilakukan dan berkecendrungan semakin meluas. Data statistis Banyuwangi mengindikasikan bahwa luas tanam kedelai di Tegal Dlimo dan Purwoharjo meningkat, bisa jadi, salah satunya disumbang oleh kedelai di bawah jeruk. Berdasar penuturan Pak Tumiran, yang cocok di bawah jeruk ya kedelai, bukan jagung. Jeruknya tambah subur, hasil biji kedelainya juga tinggi. Perkiraan Pak Tumiran, hingga jeruk berumur 4 tahun masih bisa dilakukan penanaman kedelai. Hasil biji kedelai jika ditanam di bawah jeruk ¼ hektarnya berkisar 300–400 kg. Karena lahan yang bisa ditanami kedelai sekitar 50%nya. Ternyata terjadi simbiosis mutualistik.
MMA/AW