Berita » Kedelai di Pematang Sawah

Kedelai di pematang sawah (foto: Bpk Supono).

Kedelai di pematang sawah (foto: Bpk Supono).

Pemerintah terus mengupayakan peningkatan produksi dan ketersediaan kedelai dalam negeri, diantaranya melalui perluasan areal tanam baru (PATB). Di beberapa lokasi, petani juga membudidayakan kedelai di pematang sawah, bersamaan dengan saat tanam padi. Banyak fungsi yang diperoleh diantaranya sebagai sumber benih, refugia (tanaman perangkap OPT), penyubur tanah, dan sebagainya.

Pemanfaatan pematang sawah untuk budi daya kedelai telah lama dilakukan oleh petani di Ambarawa, Pringsewu, Provinsi Lampung. “Pemanfaatan pematang sawah telah lama digunakan di daerah ini sebagai sumber benih kedelai,” kata Bapak Supono, salah satu ketua kelompok tani di Margodadi, Ambarawa. Penanaman kedelai berupa baris tunggal atau baris ganda (seperti pada Gambar), tergantung pada lebar pematang. Penanaman kedelai pada pematang sawah seluas ¼ ha mampu menghasilkan benih kedelai sekitar 20 kg.

Pemanfaatan pematang sawah untuk kedelai cukup potensial. Direktorat Aneka Kacang dan Umbi telah menyusun juklaknis pengembangan kedelai di lahan pematang sawah. Juklaknis tersebut digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pengembangan kedelai di pematang sawah yang dimulai pada tahun 2018. Pemulia kedelai Balitkabi (Muchlish Adie) hadir pada pembahasan juklaknis, dan menyampaikan perlunya terminologi yang jelas, karena selama ini sering diistilahkan refugia. Disepakati bahwa benih yang diperlukan dalam 1 ha sawah untuk pemanfaatan kedelai di pematang sawah adalah 10 kg. Saprodi yang lain menyesuaikan dengan luas pematang yaitu sekitar 5% dari total lahan sawah.

Pak Supono, lebih menekankan pemanfaatan pematang sawah sebagai sumber benih untuk pertanaman kedelai pada MK1. Tidak diperlukan budi daya yang spesifik, hanya pematang perlu ditinggikan sekitar 25 cm untuk menghindari kelembaban tanah terlalu tinggi pada tanaman kedelai.

MMA