Berita » Kedelai Hitam: Kaya Gizi dan Bernilai Ekonomi

sem_litbang_22mei_1

Mencermati tantangan dari lingkungan strategis pertanian yang terus berkembang, suasana keilmuwan di lingkungan penelitian memang harus digerakkan lebih cepat. Tahun 2012, Badan Litbang Pertanian menyelenggarakan seminar mingguan. Pada seminar 22 Mei 2012 dipaparkan tiga pemakalah yakni Kedelai hitam: varietas, kandungan gizi dan potensi bahan baku industri (Muchlish Adie, Balitkabi); Dukungan mekanisasi pada pembangunan pertanian di Cina (Anjar Suprapto, BB Mektan); dan Keragaan, permasalahan dan upaya mendukung akselerasi program swasembada daging sapi (Nyak Ilham, PSE/KP).

Delapan tahun terakhir, kedelai hitam mulai naik daun. Konon kedelai berkulit biji hitam (kedelai hitam) dijuluki sebagai the king of plant protein. Di Indonesia, kedelai hitam tidak sepopuler kedelai berkulit biji kuning. Kurang cepatnya perakitan dan pelepasan varietas kedelai hitam dibandingkan dengan kedelai berkulit biji kuning (kedelai kuning) menyebabkan terdesaknya areal tanam kedelai hitam. Sentra produksi kedelai hituam pun tergeser, digantikan oleh kedelai kuning.

Kedelai hitam memiliki potensi nutrisi dan juga sebagai bahan baku industri. Di Indonesia peruntukan utama kedelai hitam untuk bahan baku kecap. Keunggulan kedelai hitam, sebagai bahan baku kecap, adalah meningkatkan kualitas warna kecap menjadi coklat hitam. Kecap yang dibuat dari kedelai hitam varietas Merapi memiliki kandungan protein sebesar 3,20%, lebih tinggi dibandingkan kecap asal varietas kedelai kuning yaitu Argomulyo (2,37%).  Kecap dari kedelai hitam tidak hanya memiliki kandungan protein tinggi, tetapi juga bermanfaat untuk kesehatan karena kandungan pigmen hitam yang terdapat pada kulit biji, dan berpotensi sebagai sumber antosianin yang baik karena didominasi oleh kandungan cyanidin-3-glukosida dan delphinidin-3-glukosida.

Selama kurun waktu 93 tahun (1918–2012), Pemerintah  Indonesia  telah melepas 73 varietas kedelai dan tujuh di antaranya adalah varietas kedelai hitam. Dari tujuh varietas kedelai hitam tersebut, tiga di antaranya dilepas pada awal sejarah pemuliaan kedelai di Indonesia yaitu Otau (dilepas tahun 1918), No 27 (dilepas tahun 1919), Merapi (dilepas tahun 1938). Cikuray diperoleh dari seleksi terhadap persilangan antara galur No 630 dengan varietas Orba, dilepas tahun 1992.  Pada tahun 2007 UGM melepas varietas Mallika, hasil seleksi dari varietas lokal Bantul.

Untuk memperkuat penyediaan kedelai hitam, pada tahun 2008, Badan Litbang Pertanian melepas varietas Detam 1 dan Detam 2. Detam 1 memiliki potensi hasil hingga 3,45 t/ha dan ukuran biji besar (14,84 g/100 biji) dan kandungan proteinnya sangat tinggi (45,36% bk); artinya Detam 1, menjadi varietas kedelai hitam pertama berukuran biji besar dan menjadi varietas kedelai berkandungan protein tertinggi. Sedangkan Detam 2 memiliki ukuran biji sedang, kandungan protein mencapai 45,58% bk; dan menjadi varietas kedelai hitam dengan kandungan protein sangat tinggi, sekaligus galur bersangkutan agak tahan kekeringan. Semakin tinggi protein biji kedelai, kadar protein kecap yang dihasilkan juga semakin tinggi. Sifat sensoris kecap, meliputi warna kecap Detam 1 dan Detam 2 berkriteria paling disukai. Aroma kecap berkisar agak suka sampai suka.

Saat ini, Badan Litbang Pertanian, sedang menyiapkan pelepasan dua varietas kedelai berumur super genjah.  Tujuh varietas kedelai hitam yang sudah dilepas, tidak satu pun berumur genjah (<80 hari). Pada kondisi perubahan iklim saat ini, varietas berumur genjah bernilai strategis; lebih toleran terhadap kekeringan dan hama melalui mekanisme escape (terhindar) serta meningkatkan indeks pertanaman (IP). Calon varietas kedelai hitam yakni W9837 x Cikuray-66, potensi hasil bijinya tinggi, hingga 3,15 t/ha (rata-rata 2,88 t/ha), berumur genjah (75 hari); rendemen kecap mencapai 888%; dan kecap yang dihasilkan berkategori disukai oleh panelis. Galur harapan  W9837 x 100H-236 memiliki potensi hasil 2,89 t/ha (rata-rata 2,54 t/ha); toleran kekeringan pada fase reproduktif; berumur genjah; agak tahan hama kepik coklat dan karat daun; kecap yang dihasilkan berkategori disukai oleh panelis. Untuk mempercepat penyebaran inovasi kedelai hitam, perlu dibangun kemitraan dengan swasta dan petani.


Suasana Seminar di Badan Litbang, 22 Mei 2012

Dr Muchlish Adie (paling kanan), mencermati pertanyaan peserta seminar di Badan Litbang, 22 Mei 2012