Berita » Kedelai Kembali Menggeliat di Lampung

Gambar 1. Temu lapang pengembangan kedelai pada lahan kering masam di Kec. Metro Kibang, Lampung Timur 30 Oktober 2018.

Gambar 1. Temu lapang pengembangan kedelai pada lahan kering masam di Kec. Metro Kibang, Lampung Timur 30 Oktober 2018.

Di era tahun 2000-an, Provinsi Lampung pernah menjadi salah satu lumbung kedelai di Indonesia. Namun, kharisma kedelai di Lampung lambat laun memudar seiring dengan naiknya pamor komoditas jagung dan ubi kayu yang mampu memberikan keuntungan lebih baik. Untuk menggeliatkan kembali usahatani kedelai di Lampung, Badan Litbang Pertanian melalui BPTP Lampung dan Balitkabi bekerjasama dengan Dinas Pertanian Lampung Timur pada musim tanam 2018 melakukan diseminasi teknologi budi daya kedelai pada lahan kering masam dan sawah tadah hujan di Lampung Timur.

Diseminasi teknologi budi daya kedelai pada lahan kering masam, dimotori oleh BPTP Lampung dilaksanakan di Desa Margototo, Kec. Metro Kibang, Lampung Timur melibatkan Kelompok Tani Mulya Tani seluas 1,5 ha. Saat ini, di Metro Kibang hanya segelintir petani saja yang masih mau bertanam kedelai. Kedelai yang ditanam umumnya varietas lokal dengan teknik budi daya seadanya, sehingga rata-rata hasilnya juga sangat rendah, yakni 0,80 t/ha, jauh di bawah produktivitas nasional yang mencapai 1,57 ton/ha. Petani di wilayah Metro Kibang, setiap tahun umumnya memanfaatkan curah hujan sebaik mungkin dengan menerapkan pola tanam tumpang gilir antara tanaman jagung dengan cabai. Pada saat tanaman jagung memasuki periode pengisian tongkol, diantara tanaman jagung ditanami cabai. Petani berharap saat tanaman cabai sudah menjelang berakhir, diantara tanaman cabai dapat ditanami kedelai untuk memanfaatkan curah hujan yang masih tersisa.

Selaras dengan keinginan petani tersebut, pada akhir musim hujan 2018 BPTP Lampung didukung oleh Balitkabi mengembangkan varietas Demas 1 di Desa Metro Kibang, yaitu kedelai yang adaptif pada lahan masam berpotensi hasil 2,5 ton/ha. Dengan penerapan paket teknologi budi daya kedelai rekomendasi Balitkabi, pertumbuhan tanaman varietas Demas 1 di lapangan tampak lebih baik dibandingkan varietas lokal dengan teknologi petani. Menurut Ketua Kapoktan Margonoto Bapak Eko dalam temu lapang (Gambar 1), keragaan tanaman cukup bagus meskipun pada awal pertumbuhan tanaman mengalami cekaman kekeringan. Namun, keberhasilan itu menurut Eko baru terasa 50%, karena petani belum dapat melihat hasilnya dalam bentuk rupiah. Petani perlu bukti bahwa secara ekonomi usahatani kedelai memang mampu memberikan keuntungan yang memadai. Jika produksi kedelai bisa mencapai >2 ton/ha seperti potensi hasil varietas Demas 1, dan harga jual setidaknya dapat mencapai Rp12.000/kg, menurut Eko, minat petani untuk bertanam kedelai akan muncul dengan sendirinya.

Sementara itu, diseminasi teknologi budi daya kedelai pada lahan sawah tadah hujan, yang dimotori oleh Balitkabi telah dilaksanakan di Desa Rejobinangun, Kecamatan Rahman Utara pada bulan Mei-Agustus 2018 seluas 30 ha. Petani secara umum menyambut baik adanya Demplot kedelai yang dicanangkan bisa menghasilkan benih kelas ES, karena disamping petani mendapat bimbingan penuh dari Balitkabi, jejaring pasarnya juga telah dibentuk oleh Balitkabi, diantaranya hasil demplot akan dibeli oleh CV Ramayana di Lampung seharga Rp. 12.000/kg. Diperkirakan hasil kedelai dapat mencapai 1,8‒2,0 kg/ha calon benih, dengan rendemen menjadi benih antara 80‒90%. Dari beberapa varietas kedelai yang diperkenalkan, petani tertarik dengan varietas Dega 1 karena umurnya sangat pendek, yakni dapat dipanen umur 71 hari, dan berukuran biji besar. Disamping itu, petani juga tertarik dengan varietas Demas 1 yang dikembangkan di Kec. Metro Kijang karena jumlah polongnya banyak, tetapi umurnya yang agak panjang menjadi pertimbangan petani untuk memilihnya.

Ketua Gapoktan Ketut Mudita dan penangkar benih CV Krame Tani Nyoman Mawa mengungkapkan bahwa varietas kedelai Gepak Kuning saat ini juga sedang menjadi idola petani di Rejobinangun. Kedelai berbiji kecil ini banyak dicari oleh pengrajin kecambah dan dihargai cukup tinggi, yakni Rp12.000 hingga Rp 15.000/kg. Dari benih Gepak Kuning yang diperoleh dari UPBS Balitkabi, Ketut Mudita pernah menanam seluas 0,25 ha dan mendapatkan hasil 400 kuintal. Saat ini, Ketut Mudita akan memperbanyak benih varietas Gepak Kuning agar dapat dikembangkan petani di Rejobinangun untuk dapat memenuhi kebutuhan pengrajin kecambah (Gambar 2).

Saat ini, peningkatan produksi kedelai di Lampung untuk mendukung pencapaian swasembada kedelai memang masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi seluruh stakeholder yang terlibat. Namun semangat harus tetap dijaga, agar Provinsi Lampung dapat menjadi salah satu lumbung kedelai kembali seperti di era tahun 2000-an.

Gambar 2. Temu lapang teknologi budi daya kedelai pada sawah tadah hujan (BIO-DETAS) dan wawancara dengan penangkar benih petani kooerator di Rahman Utara- Lampung Timur.

Gambar 2. Temu lapang teknologi budi daya kedelai pada sawah tadah hujan (BIO-DETAS) dan wawancara dengan penangkar benih petani kooerator di Rahman Utara- Lampung Timur.

DAAE/AH