Berita » Kemtan Rancang Teknologi Budi Daya Kedelai untuk Mencapai Swasembada

1-pakarked-4

Dalam rangka upaya pencapaian swasembada kedelai, Kementerian Pertanian telah membuat modeling pencapaian swasembada kedelai.  Hasil simulasi pencapaian swasembada kedelai melalui pendekatan System Modelling, menunjukkan bahwa: 1) Luas areal yang dibutuhkan adalah minimal 1,8 juta ha dan yang tersedia saat ini sekitar 0,7 juta ha, sehingga masih diperlukan tambahan 1,1 juta ha lahan sawah,  lahan kering, lahan pasang surut/rawa dan kawasan hutan Perhutani/perkebunan, 2)  Rekomendasi kebijakan yang diperlukan adalah: a) penambahan luas lahan dari  700 ribu ha menjadi 2 juta ha pada 2014, b) Upaya meningkatkan produktivitas 1,3 ton/ha menjadi 1,54 ton/ha.  Disamping upaya perluasan areal, dukungan kebijakan untuk pengembangan kedelai adalah :  a) jaminan harga jual yang menguntungkan dan adanya stabilitas harga di tingkat petani, b) perlindungan kepada petani dalam negeri dari serbuan produk impor, c) penetapan bea masuk, d) penguatan konsorsium penelitian kedelai yang telah dirintis Badan Litbang Pertanian, e) pengembangan sistem perbenihan spesifik lokasi, dan f) peran kelembagaan BUMN/Bulog untuk stabilitas ketersediaan kedelai melalui penampungan dan penyangga cadangan kedelai nasional sangat diperlukan.

Diskusi para pakar kedelai untuk membahas inovasi teknologi budidaya kedelai diselenggarakan di Kementerian Pertanian Jakarta, pada 5 September 2012, diskusi diikuti oleh 50 orang  pakar kedelai dari Badan Litbang Pertanian, Batan, LIPI dan Perguruan Tinggi (IPB dan UGM).  Hadir dalam pertemuan ini Menteri Pertanian Dr. Suswono, Ir. Baran Wiryawan MSc staf ahli menteri Pertanian, Dirjen Tanaman Pangan,  Kepala Badan Litbang Pertanian yang di wakili oleh Dr. Hasil Sembiring, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.  Bapak Menteri dalam sambutannya menekankan bahwa pencanangan swasembada kedelai telah ditetapkan, mau tidak mau harus kita jalankan walaupun perlu pengorbanan. Kunci swasembada adalah penetapan harga jual yang menguntungkan petani, perluasan areal dan peningkatan produktivitas. Upaya peluasan areal dilakukan dengan konsekuensi perlu inovasi teknologi spesifik lokasi untuk meningkatkan produktivitas kedelai.  Inventarisasi teknologi budidaya kedelai dari berbagai pihak (Badan Litbang Pertanian, Perguruan Tinggi, LIPI, Batan) yang ada di Indonesia sangat diperlukan untuk bisa dirakit dalam satu kesatuan rakitan teknologi spesifik lokasi untuk meningkatkan produktivitas kedelai di berbagai ekosistem yang ada di wilayah Indonesia.  Badan Litbang Pertanian menyajikan kesiapan teknologi budidaya kedelai spesifik lokasi di lahan sawah irigasi, sawah tadah hujan, lahan kering/kering masam, pasang surut/rawa dan budidaya kedelai di kawasan hutan/perkebunan yang dipresentasikan Prof. Dr. Marwoto. Pakar dari UGM membahas kesiapan teknologi budidaya kedelai di lahan gambut yang dipresentasikan oleh Prof. Dr. Didik Indra Dewa  dan IPB membahas kesiapan teknologi budidaya kedelai di lahan jenuh air di lahan pasang surut dan rawa yang dipresentasikan oleh Prof. Dr. Munif Ghulamahdi. Dr. Harry Is Mulyana dari PATIR BATAN mempresentasi peningkatan produksi kedelai dengan varietas unggul.

Hasil penelitian UGM dan IPB dalam paparannya secara  langsung telah mengkombinasikan dengan temuan Badan Litbang Pertanian, yakni dalam obyek penelitiannya menggunaan varietas unggul Badan Litbang Pertanian. Secara umum teknologi yang dipaparkan UGM, IPB, dan BATAN ada keterkaitan dengan hasil penelitian Litbang Pertanian bahkan saling melengkapi. Hasil penelitian Badan Litbang mencakup semua aspek budidaya kedelai dari pembentukan varietas, teknik budidaya berbagai ekosistem, potensi kesesuaian lahan, analisis usahatani, dan nilai kompetitif budidaya kedelai dengan komoditas lain.   Dari rangkuman hasil penelitian dari berbagai pihak ini diharapkan dapat dirakit sebagai rakitan teknologi yang dapat diterapkan dan direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas kedelai di berbagai agoekosistem.  Inti dari hasil diskusi para pakar kedelai bahwa dukungan teknologi tidak menjadi masalah dan telah siap untuk diterapkan, dalam rangka pencapaian swasembada kedelai.


Menteri Pertanian Dr. Suswono didampingi Dr. Baran dan Dr. Hasil Sembiring dalam diskusi inovasi teknologi kedelai.


Prof. Dr. Arief Harsono, Ir. M Anwari, MS dan Dr Heriyanto peneliti Balitkabi Sedang mengikuti diskusi inovasi
teknologi budidaya kedelai di Kementerian Pertanian.


Bapak Menteri Pertanian dan Bapak Dirjen Tanaman Pangan saat diskusi inovasi teknologi budidaya kedelai.