Berita » Ketika Porang Berjumpa Temu Lawak

Tumpangsari Porang dengan tanaman rempah Temu Lawak (Curcuma xanthorrhiza)

Tumpangsari Porang dengan tanaman rempah Temu Lawak (Curcuma xanthorrhiza)

Porang saat ini menjadi salah satu komoditas pertanian dengan potensi ekspor tinggi. Harga porang melonjak tajam dalam lima tahun terakhir. Banyak petani beralih membudidayakan secara intensif komoditas yang dahulu tumbuh liar di pekarangan maupun di hutan. Mereka mendatangkan benih dari luar daerah maupun mengeksplorasi sendiri ke dalam hutan. Mendesak untuk dilakukan adalah pelepasan varietas porang untuk penyediaan benih porang yang semakin meningkat.

Dalam rangkaian tahapan pelepasan varietas porang, Balitbangtan melalui Balitkabi melakukan observasi tanaman porang lanjutan ke kabupaten Trenggalek dan Ponorogo pada akhir Januari. Pada dua lokasi tersebut diturunkan tim observasi porang yang terdiri dari Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi, Kasie Jaslit Bambang Sri Koentjoro M.Kom, Koord. Program Eriyanto Yusnawan Ph.D, Dr. Novita Nugrahaeni, Joko Susilo Utomo Ph.D, Ratri Tri Hapsari, M.Si, dan Sutrisno, S.P.

Kunjungan ke Dinas Pertanian kab. Trenggalek (kiri) dan kunjungan lapang ke pertanaman  porang di Kab. Trenggalek (kanan)

Kunjungan ke Dinas Pertanian kab. Trenggalek (kiri) dan kunjungan lapang ke pertanaman porang di Kab. Trenggalek (kanan)

Kepala Dinas Pertanian kabupaten Trenggalek. Ir. Agung Sudjatmiko saat menerima tim Balitkabi mengemukakan harapannya agar Balitkabi dapat memberikan bimbingan kepada petani mengenai teknologi budidaya porang, serta menyuarakan ke tingkat atas terkait ketersediaan pupuk bersubsidi bagi petani. Kepala Dinas berharap ke depan di Trenggalek dibangun pabrik pengolahan porang sehingga dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Observasi tanaman porang dilakukan di desa Jombok kec. Pule kabupaten Trenggalek dan di desa Selur kec. Ngrayun, kabupaten Ponorogo. Diketahui setiap daerah memiliki variasi genotipe porang. Pada lokasi tersebut porang ditanam di berbagai ketinggian tempat 600-1000 m dpl, dengan suhu udara 20-23°C.

Tanaman porang di kedua lokasi tersebut ditanam di bawah tegakan tanaman sengon, pinus, maupun tanaman hutan lainnya. Menariknya, porang juga dibudidayakan secara tumpangsari dengan tanaman habitus rendah seperti tanaman rempah (temu lawak), tanaman hortikultura (pepaya), dan tanaman pangan (jagung dan ubi kayu). Keragaan tanaman cukup baik di lokasi tersebut. Beberapa petani juga menanam di lahan terbuka/tanpa naungan.

Semangat bertanam porang di kecamatan Pule tidak bisa dipisahkan dari cerita sukses pak Parwanto yang menanam porang hingga mencapai luas 9 ha. Pak Parwanto mengawali kisah suksesnya ketika mulai menanam porang pada tahun 2017 dengan modal sebesar tiga juta rupiah, mendapatkan hasil penjualan hingga 19 juta rupiah.

Penampilan fenotipe tanaman porang sangat bervariasi di Kabupaten Trenggalek. Di sana terdapat dua jenis porang yaitu porang dengan batang berwarna ungu kehitaman dan batang berwarna hijau. Selain warna, batang juga mempunyai corak khas yang beragam pola dan bentuknya. Balitkabi juga melakukan konservasi sumber daya genetik porang selain kegiatan observasi, eksplorasi dan karakterisasi porang.

Ragam pola dan corak batang porang di kab. Trenggalek

Ragam pola dan corak batang porang di kab. Trenggalek

Stn/NN