Berita ยป Koordinasi Pengelola SI/TI Litbang Pertanian

Untuk meningkatkan ketersediaan data dan keamanan informasi sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan jaringan teknologi informasi lingkup Badan Litbang Pertanian, maka diperlukan sistem pengamanan website secara tepat sekaligus efisien. Untuk itu pengelola Sistem Informasi dan Teknologi Informasi (SI/TI) UK/UKT di bawah Badan Litbang Pertanian yang jumlahnya mencapai 65 UK/UKT perlu mendapatkan informasi yang tepat, sehingga paham dan pada saatnya akan mampu menerapkannya sesuai arahan dan aturan yang berlaku. Untuk itu Badan Litbang Pertanian menyelenggarakanKoordinasi Pengelolaan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi (SI/TI) lingkup Badan Litbang Pertanian. Koordinasi angkatan pertama berlangsung di Bandung (2-4/9).Untuk angkatan pertama peserta berasal dari Balai Penelitian dan Pusat Penelitian. Balitkabi mengutus Achmad Winarto dan Artdhe Nugroho mengikuti acara tersebut.
Sebagai nara sumber adalah: (1) Ir. Bambang Heru Tjahjono, M.Sc., Direktur Keamanan Informasi Kemkominfo dengan materiMeningkatkan Aspek Keamanan Informasi di Lembaga/Instansi Pemerintah, (2)Adhityo Priyambodo, S.Kom, MTI, CISA*, CISSP* dari Universitas Indonesia, yang mengupas tentang Keamanan Jaringan Terkait Pengembangan Private Cloud Computing di Litbang Pertanian,(3)Moch. Arief, SP, MM. dari Pinpoint Research and Database,memaparkanData Warehouse dalam mendukung Manajemen Litbang Pertanian,dan yang terakhir (4)Perpustakaan Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) yang memaparkanPengembangan Aplikasi dan Publikasi.

Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia tumbuh pesat, kini pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta pengguna (2013). Indonesia menempati urutan keempat setelah Cina, India, dan Jepang maka keamanan internet menjadi sangat penting sekali.”Keamanan website sangat penting karena pada tahun 2008 akibat hacking terjadi kerugian 1 triliun US Dollar,30.000 website terinfeksi malware setiap hari, tahun 2010, 230 vulnerabilities dideteksi danhanya 53% diselesaikan. Sementara untukpendeteksian bug/celah baru dibutuhkan waktu selama 156 hari”, tutur PakBambang Heru Tjahjono, M.Sc.Secara nasional beliau menyampaikan tujuh langkah yang perlu diambil dalam keamanan internet, yaitu: (1) Peningkatan Kepedulian (information security), (2) Sosialisasi Budaya Keamanan, (3) awareness, (4) Penyusunan Kebijakan Tata Kelola dan Regulasi (information security governance), (5) Penegakan Hukum (Law Enforcement), (6) Dukungan Infrastruktur &Teknologi seperti Perlunya Pendirian Unit Keamanan Informasi dan Penanganan Insiden Keamanan Informasi – CSIRT (Computer Security Incident Response Team), serta (7) Penyidikan dan Penindakan (Cybercrime & Forensic Investigation).

Sedang hal praktis dan prinsip yang ditegaskan beliau adalah jangan pernah sedikit pun membuka peluang orang lain mengetahui password baik milik lembaga atau pribadi.

AW/AN