Berita » Kunjungan Tim Kajian Kelembagaan Litbang

ristek1

Balitkabi sebagai Pusat Riset Aneka Kacang dan Umbi, menjadi salah satu Pusat Unggulan Iptek yang dijadikan kajian untuk penyusunan rekomendasi kebijakan pembinaan kelembagaan litbang. Kajian dilakukan oleh Kedeputian Kompetensi Kelembagaan dari Kementerian Ristek dan Dikti, dilakukan tanggal 11 Maret 2015 di Aula Balitkabi. Tim kajian terdiri dari Kompetensi Kelembagaan (3 orang), Penataan Kelembagaan (2 orang), Legislasi Iptek (3 orang), serta Budaya dan Etika (3 orang). Kepala Balitkabi, Dr. Didik Harnowo, memberikan apresiasi atas kunjungan tersebut, dan beban sebagai pusat riset akan semakin berat. Namun diumpamakan, semut yang kecil mampu menggeret beban yang berat. Kuncinya adalah kerja sama. Dan budaya kerja sama, telah tumbuh dan berkembang di Balitkabi. Disampaikan bahwa tujuan kajian adalah untuk penyusunan peraturan menteri tentang pembinaan kelembagaan dan pengembangan pusat unggulan iptek. Tim Pengkaji menyampaikan prestasi Balitkabi luar biasa, karena pertama mendaftarkan sebagai PUI langsung ditetapkan sebagai pusat riset, tanpa melalui pembinaan.

Berbagai kajian dan pertanyaan meliputi alasan perlunya mendapatkan hak kekayaan intelektual, kendala komersialisasi produk, pemeringkatan PUI yang terkait dengan pembobotan dsbnya, serta pengembangan budaya ilmiah, budaya teknologi, budaya inovasi. Kepala Balitkabi memaparkan bahwa Balitbangtan berkomitmen menerapkan corporate culture. Adanya BPATP merupakan bukti kuat pentingnya perlindungan dan komersialisasi produk. Pembinaan secara berjenjang melalui piramida pembinaan dari peneliti senior ke peneliti yunior telah disusun dan diterapkan. Balitbangtan juga telah menerapkan detasering. Berbagai kendala hilirisasi produk disampaikan oleh peneliti diantaranya banyaknya komoditas yang menjadi beban Balitkabi, adanya prioritas komoditas, nilai jual komoditas akabi. Pada akhir pertemuan, Tim Kajian menyimpulkan (1) manajemen litbang yang harus memperhatikan SDM, (2) penguatan kapasitas riset: database klasifikasi bidang riset, valuasi hasil riset dsbnya, (3) perlunya mengkaji pusat unggulan yang bersifat spesifik lokasi.


MMA