Berita » Lahan Sawah sebagai Lahan Potensial bagi Peningkatan Luas Tanam Kedelai di Sulawesi Tenggara

Berdasarkan data produksi kedelai tahun 2014, Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan salah satu provinsi dari 12 provinsi yang memiliki konstribusi kecil terhadap produksi kedelai nasional. Pada tahun 2014, dari areal panen seluas sekitar 5.071 ha diperoleh hasil kedelai sekitar 5.682 ton.

Guna mendukung Pemerintah dalam upaya meningkatkan produksi kedelai nasional (di samping padi dan jagung) menuju target berswasembada kedelai tercapai pada tahun 2017, semua potensi sumberdaya lahan yang ada di wilayah nusantara harus diidentifikasi dan dikaji, salah satunya adalah wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Untuk mencapai swasembada kedelai, Pemerintah melakukan Upaya Khusus (Upsus) pengembangan tanaman kedelai, yang sebagian upayanya adalah “Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT)”, “Perluasan Areal Tanam (PAT)” dan Peningkatan Indeks Pertanaman (PIP)” kedelai.

Khusus untuk program PIP kedelai, Provinsi Sulwesi Tenggara mempunyai potensi lahan sawah yang dapat dan harus diberdayakan. Sesuai data penggunaan lahan tahun 2013, luas keseluruhan lahan sawah di Provinsi Sulawesi Tenggara mencapai 121.222 ha, terdiri atas:

  • sawah irigasi 94.923 ha,
  • sawah tadah hujan 24.446 ha,
  • rawa pasang surut 1.553 ha, dan
  • rawa lebak 302 ha.

Secara umum lahan sawah merupakan lahan yang sangat strategis bagi pengembangan kedelai, mengingat:

  • secara umum tanahnya lebih subur daripada lahan kering karena topografinya relatif datar atau sebagai wilayah pengendapan,
  • insfrastruktur (jalan, irigasi) lebih mapan, serta
  • tenaga kerja dan kelembagaan pendukung pertanian lebih mendukung.

Suhubungan dengan hal-hal tersebut di atas, Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) menugaskan Prof. Dr. Subandi dan Dr. Andy Wijanarko untuk melakukan pendampingan terhadap Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tenggara di dalam melakukan pendampingan UPSUS oleh Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) Sulawesi Tenggara, berlangsung dari tanggal 7–10 Juli 2015.

Data luas panen padi sawah Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2013 adalah sebesar 122.702 ha, ini berarti bahwa Indek Pertanaman padi (IP-padi) pada lahan sawah di provinsi tersebut masih rendah, yakni hanya 1,01 (diperoleh dari data luas panen padi dibagi luas lahan sawah).

Data IP-padi ini memberikan indikasi kuat bahwa masih ada peluang besar untuk meningkatkan penggunaan lahan sawah dengan mengusahakan padi dan atau palawija (termasuk kedelai) sehingga IP pada lahan sawah meningkat menjadi 2–3, tergantung pada ketersediaan air, baik dari hujan, air irigasi permukaan, maupun air tanah (ground water) yang dimanfaatkan untuk irigasi dengan pompanisasi.

Lahan sawah yang dikunjungi di Kabupaten Kolaka (Desa Silea, Kecamatan Wundulako), dan di Kabupaten Kolaka Timur (Desa Andoengga, Kecamatan Poli Polie) selain mempunyai fasilitas irigasi teknis, juga mempunyai potensi air tanah yang dangkal, menurut informasi petani hanya sekitar 5 m dan dengan debit yang memadai (dipompa tidak habis).

Untuk lokasi Kabupaten Kolaka, petani umumnya hanya mengusahakan sawahnya untuk menanam padi dua kali dalam setahun, padahal berdasarkan potensi lahan (air) semestinya lahan masih dapat dimanfaatkan untuk menanam kedelai sekali (pada musim kemarau setelah panen padi).

Pada saat kunjungan lapangan, di lokasi ini (8 Juli 2015) terdapat pertanaman kedelai (pertanaman GP-PTT) seluas sekitar 1,0 ha pada fase pengisian hingga pemasakan polong. Dari fakta pertanaman kedelai GP-PTT tersebut, dapat disampaikan bahwa dalam budidaya kedelai masih perlu ada perbaikan, diantaranya yang penting adalah:

  • saluran drainase/irigasi dalam petakan tidak dibuat, saluran ini penting untuk dibuat guna membuang kelebihan air ke luar petakan jika ada hujan susulan, dan/atau menyalurkan air irigasi agar cepat menyebar ke seluruhan areal petakan jika dibutuhkan tambahan air, serta
  • populasi tanaman rendah karena jarak tanamnya longgar, yakni jarak antar barisan sekitar 60 cm, dan jarak antar tanaman (rumpun) dalam barisan 40 cm atau 60 cm x 40 cm (Gambar), seharusnya 40 cm x 15‒20 cm (2−3 tanaman/rumpun). Jarak tanam yang longgar selain tidak akan menjamin perolehan hasil yang tinggi/optimal, juga mendorong pertumbuhan gulma cepat/lebat.

Di Kabupaten Kolaka Timur, karena ketersediaan air irigasi kurang memenuhi, maka dilakukan pengaturan sebagai berikut:

  • Pada areal sawah yang luasnya sekitar 100 ha dibagi menjadi tiga kelompok, dalam setiap kelompok dalam satu tahun menanam padi tiga kali dan menanam palawija sekali (palawija yang biasa di tanam adalah kacang tanah dan kacang hijau), padahal sebetulnya bisa menanam dua tahun enam kali pertanaman, atau satu tahun tiga kali pertanaman dengan memanfaatkan potensi air tanah, dengan pola tanam: “Padi-Padi-Palawija (termasuk kedelai)”
  • Khusus untuk kelompok III yang arealnya dikunjungi, petani praktis belum pernah/pengalaman menanam kedelai, pada saat dikunjungi beberapa petani yang telah menanam kedelai (program GP-PTT), tanamannya tumbuh sangat buruk (populasi rendah, benih sedikit tumbuh/banyak yang mati) atau tidak tumbuh sama sekali karena tanahnya becek, sebab tidak dibuat saluran drainase (Gambar).

Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam memberdayakan lahan sawah di Provinsi Sulawesi Tenggara disarankan:

  1. Perlu dilakukan pembinaan/pendampingan petani secara memadai dalam budidaya kedelai karena petani setempat belum berpengalaman menanam kedelai. Pembinaan/pendampingan dilakukan oleh Dinas/Penyuluh. Staf Dinas dan penyuluh pertanian harus ditingkatkan kemampuan dan keterampilannya dalam bertanam kedelai, dan
  2. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tenggara, sebaiknya menyiapkan Buku saku atau Leaflet Teknologi Budidaya yang berukuran kecil sehingga dapat dibawa/disaku, dan dicetak dalam jumlah banyak untuk dibagikan ke Dinas-Dinas/Penyuluhan.
Keragaan tanaman kedelai di lahan sawah irigasi di Desa Silea, Kec. Wundulako, Kolaka (kiri) dan di Desa Andoengga, Kec. Poli Polie Kolaka Timur (kanan).

Keragaan tanaman kedelai di lahan sawah irigasi di Desa Silea, Kec. Wundulako, Kolaka (kiri)
dan di Desa Andoengga, Kec. Poli Polie Kolaka Timur (kanan).

AWj/KN