Berita » Langkah Derap 1 di Nganjuk

Derap 1 di Nganjuk pada MK1 2018.

Derap 1 di Nganjuk pada MK1 2018.

Hama pengisap polong, Riptortus linearis, merupakan salah satu hama perusak polong yang menjadi ancaman produksi kedelai di Indonesia. Balitkabi berhasil melepas varietas kedelai toleran terhadap hama tersebut dengan nama Derap 1 berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 342/Kpts/TP.010/05/2018 pada tanggal 7 Mei 2018. Pada MK1 2018, Derap 1 dicoba dikembangkan di lahan sawah di Nganjuk, bersamaan dengan program pengembangan BuDesa (budi daya kedelai di lahan sawah). Keragaan tanaman sangat bagus. Pada lahan yang cukup subur dan irigasi tercukupi, Derap 1 memiliki umur masak 79 hari. Jumlah polong di atas 60 polong/tanaman dengan ukuran polong cukup besar, menandakan ukuran biji Derap 1 tergolong besar. Dengan keragaan tanaman yang demikian, beberapa petani menyampaikan Derap 1 sesuai dikembangkan di Nganjuk. Petani menyukai Derap 1 karena umurnya genjah dan berbiji besar. Pak Subono, Ketua Kelompok Tani Ngudi Mulyo, menyampaikan Derap 1 yang ditanam hanya dikendalikan dengan insektisida 3 (tiga) kali. “Hanya sebagai tindakan pencegahan saja”, kata pak Subono.

Memang keunggulan dari Derap 1 selain berdaya hasil tinggi, juga memiliki ukuran biji besar sekitar 17 g/100 biji, dengan umur relatif genjah, dan toleran hama pengisap polong. Polong Derap 1 memiliki trikoma (bulu) yang padat dan berwarna putih. Karakter inilah yang menjadi penyebab Derap 1 lebih toleran terhadap hama pengisap polong.

Polong dari Derap 1 di Nganjuk.

Polong dari Derap 1 di Nganjuk.

Pak Putut, produsen benih UD Adi Jaya (Nganjuk), menyarankan varietas baru Derap 1 dikembangkan di Nganjuk, sehingga petani mengenal dan memiliki pilihan varietas kedelai terbaru di Indonesia. Hasil yang diperoleh Derap 1 pada lahan seluas 100 ru (0,14 ha) mencapai 390 kg atau setara dengan 2,70 t/ha, lebih tinggi dari rata-rata hasil kedelai petani yang mencapai 2,1 t/ha. Semoga Derap 1 melangkah lebih luas di Indonesia.

AyK