Berita » Langkah Strategis untuk Mencapai Swasembada Kedelai

arief

Pemerintah menetapkan target swasembada padi, jagung dan kedelai dalam kurun waktu 3 tahun (2015-2017). Oleh karena itu, serangkaian program untuk meningkatkan produksi kedelai terus diupayakan demi tercapainya target swasembada kedelai. Pada hari Senin, tanggal 9 Maret 2015, Prof. Dr. Arief Harsono menyampaikan pemikirannya melalui seminar internal Balitkabi tentang langkah strategis peningkatan produksi kedelai untuk mencapai swasembada kedelai.

Sejak tahun 2000 hingga 2014 telah digulirkan tiga program peningkatan produksi kedelai, antara lain: Gema Palagung, Bangkit Kedelai, dan SLPTT Kedelai, tetapi belum memberikan hasil sesuai harapan. Saat ini, pemerintah menetapkan program GPTT dan UPSUS. Untuk mensukseskan program tersebut dalam waktu relatif singkat, diperlukan langkah strategis. Dalam jangka pendek (2015-2017) perluasan areal panen kedelai sebaiknya diarahkan pada areal panen yang dalam 5 tahun terakhir: (1) meningkat meskipun tidak signifikan, (2) relatif singkat, dan (3) yang sedikit menurun. Di daerah tersebut, perlu dibangun kawasan usahatani kedelai (500-3000 ha/kawasan) yang dilengkapi infrastruktur dan perangkat agribisnis memadai. Langkah operasional yang perlu dilakukan dalam pengembangan kawasan kedelai diantaranya adalah: (1) penentuan kawasan pengembangan, (2) sosialisasi program pengembangan, (3) bantuan saprodi (benih, pupuk, dan pestisida), (4) perbaikan jaringan irigasi, (5) bantuan alsintan (alat tanam, panen, dan prosesing hasil), (6) integrasi/sinergisme antar instansi terkait, dan (7) keterlibatan pelaku agribisnis. Langkah kebijakan yang perlu dilakukan agar upaya peningkatan produksi kedelai dapat berhasil, antara lain: (1) meningkatkan daya tarik usahatani kedelai agar petani dan investor tertarik untuk bertanam kedelai, di antaranya dengan meningkatkan harga kedelai menjadi sama hingga 1,5 harga beras melalui subsidi, (2) peningkatan sinergisme kebijakan dan implementasi program pusat daerah, dalam upaya peningkatan produksi dan penyediaan sarana produksi, (3) menentukan target luas panen pada berbagai agroekologi di tiap provinsi, kabupaten, hingga kecamatan agar tercapai luas sasaran produksi, (4) penurunan impor secara bertahap hingga penghentian impor kedelai, (5) percepatan transfer teknologi, pemberdayaan tenaga fresh graduate, kredit modal, panduan teknologi budidaya spesifik lokasi, pelatihan, demplot, dan pendampingan secara intensif, (6) peningkatan kerja sama antarinstitusi, kelompok tani, dan investor, agar usahatani kedelai dapat berkembang yang didukung oleh pemasaran yang sehat, (7) jaminan pasar usahatani kedelai (pembelian kedelai oleh pemerintah/Bulog) dengan harga yang menarik.

KN