Berita » Lokakarya Ubi Kayu di Pematang Siantar

Kepala Balitkabi mewakili Direktur Akabi menyampaikan paparan kebijakan pengembangan ubi kayu di Indonesia.

Kepala Balitkabi mewakili Direktur Akabi menyampaikan paparan kebijakan pengembangan ubi kayu di Indonesia.

Lokakarya Model Bisnis dan Pengembangan Kebijakan Ubi Kayu di Sumatera Utara telah dilaksanakan selama dua hari tanggal 21−22 November 2018 di Pematang Siantar Sumatera Utara. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerjasama penelitian internasional “Developing Value-Chain Linkages to Improve Smallholder Cassava Production System in Vietnam and Indonesia” antara the University of Queensland, CIAT, Balitkabi, dan Universitas Brawijaya yang didanai oleh ACIAR.

Lokakarya yang dihadiri oleh stakeholders terkait ubi kayu dari Dinas Pertanian, BPTP Sumut, Perguruan Tinggi, pelaku bisnis tapioka, industri pengolah ubi kayu, pedagang besar ubi kayu, petani, serta mahasiswa, dibuka oleh Ketua Tim Peneliti Ubi Kayu yang terlibat dalam kegiatan ini yaitu Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo. Mengapa komoditas ubi kayu yang diangkat dalam kegiatan ini. “Ubi kayu memiliki potensi yang sangat besar, untuk memenuhi kebutuhan pangan masa depan,” kata Wani, di hadapan peserta lokakarya. Kepala BPTP Sumut Dr. Khadijah El Ramija menjelaskan status pengembangan ubi kayu sebagai komoditas pangan di Sumut. Presentasi menarik Direktur Aneka Kacang dan Ubi Ditjentan Kementan yang disampaikan oleh Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi sangat informatif dan memberikan gambaran kepada seluruh peserta lokakarya sejauh mana program dan strategi pengembangan ubi kayu 2018−2019.

Materi substantif ubi kayu di Sumatera Utara dari aspek usahatani dan pengolahan serta pemasaran ubi kayu disampaikan secara lugas oleh peneliti senior Balitkabi, Ir. Rully Krisdiana, M.S. Peneliti Ahli Utama Ir. Yudi Widodo, M.S. melengkapi paparan sebagai bahan landasan kebijakan pengembangan ubi kayu di Sumatera Utara. Selanjutnya dipaparkan hasil kegiatan adopsi dan pengembangan varietas Malang 4 di Sumatera Utara oleh Dr. Kartika Noerwijati. Tak cukup dengan paparan hasil penelitian, peserta lokakarya juga diperkaya wawasan dan informasi kekiniannya lewat “Kebijakan Pengembangan Ubi Kayu di Sumatera Utara” oleh Kepala Seksi Aneka Ubi Diperta Prov. Sumut Ir. Unedo Koko Nababan.

Tanpa menunjukkan rasa lelah dan seakan tidak beranjak dari ruangan, lokakarya berlangsung selama 4 jam tanpa henti bahkan peserta begitu aktif di sesi diskusi hampir 2 jam. Prof. Wani membingkai diskusi untuk dijadikan komitmen bersama menyusun rencana aksi dan rencana bisnis ubi kayu dalam satu model bisnis ubi kayu berbasis model bisnis di Sumatera Utara pada umumnya.

Peserta lokakarya.

Peserta lokakarya.

Muara Sirait mewakili Sekretariat Asosiasi Petani dan Pengusaha Singkong Siantar dan Simalungun (AP2S3) mempertanyakan harga ubi kayu selalu fluktuatif. Demikian juga dengan Paber Sitorus ungkap alasan harga ubi misalnya harga ubi kayu untuk kripik Rp 1700/kg dengan persyaratan memiliki diameter ubi 4 cm. PT. Bumi Sari Prima di Pematang Siantar menjelaskan, pihaknya tetap menerima segala ukuran ubi kayu dengan harga Rp 1450/kg dengan potongan (refraksi) 10−15%.

Semakin menarik saat Ir. Osmar Silalahi, M.Si., Asisten II Kabupaten Tapanuli Utara dengan tegas nyatakan bahwa lokakarya ubi kayu ini sangat bermanfaat, karena hadirkan para peneliti dari Litbang Kementan dan Perguruan Tinggi di Sumut, Diperta Provinsi/kabupaten/kota Sumut, jelas hasilnya dapat segera dirasakan oleh rakyat khususnya petani di Sumut. Dicontohkan ubi kayu varietas Malang 4 yang telah diadopsi dan ditanam oleh sekitar 82 petani.

Limapuluh peserta juga dimanjakan dengan ilmu dan hal teknis praktis tepat guna saat mengikuti acara Farmers Field Day tentang varietas Malang 4 di lahan seluas 1,5 ha milik Pak Mukhlis. Dituturkan dihadapan seluruh peserta, Pak Mukhlis menyatakan awalnya menerima bibit Malang 4 dari PT Bumi Sari Prima sebanyak 6 batang hingga berkembang menjadi sekitar 1 ha (25 rante). Petani menyukai Malang 4 karena hasilnya yang tinggi hingga 2,25 ton/rante (atau 56 t/ha), bahkan lebih. Namun demikian terdapat sedikit kendala dalam budi daya Malang 4. “Jika musim hujan, ubi Malang 4 ada yang terserang busuk umbi,” kata Mukhlis. Masalah tersebut akan menjadi bahan kajian pada kegiatan penelitian tahun 2019.

Kemudian bertempat di Kebun PT Bumi Sari Prima, Prof. Dr. Titik Islami dari Universitas Brawijaya melakukan pelatihan pembuatan pakan ternak berbasis daun ubi kayu pada 22 orang peternak kambing. Prinsip pakan ternak “cassava leaves ensilage” sangat mudah yaitu daun ubi kayu dirajang, dicampur dengan dedak ataupun jagung halus, dimasukkan ke dalam kantung plastik kedap udara, diamkan selama 3 minggu untuk proses fermentasi. Daun ubi kayu yang banyak mengandung protein diharapkan mampu meningkatkan bobot ternak.

Harapan adanya kemajuan cepat agar masalah ubi kayu dapat segera tertangani serta informasi model bisnis dan kebijakan pengembangan ubi kayu di Pematang Siantar dapat dijadikan role model. Pada akhir lokakarya, Prof. Wani juga menginformasikan bahwa negara-negara yang tergabung dalam kegiatan penelitian ini seperti Thailand, Vietnam, Laos dan Kamboja juga ingin bertukar pengalaman tentang ubi kayu Asia Tenggara di bulan Juni-Juli 2019 dan diusulkan dilaksanakan di Sumatera Utara.

Foto bersama Ir. Unedo Koko Nababan Kasi Aneka Umbi Dinas Pertanian Prov. Sumut (kiri) dan pelatihan pembuatan pakan ternak berbahan baku daun ubi kayu (kanan).

Foto bersama Ir. Unedo Koko Nababan Kasi Aneka Umbi Dinas Pertanian Prov. Sumut (kiri) dan pelatihan pembuatan pakan ternak berbahan baku daun ubi kayu (kanan).

YW/KN/RK/YB