Berita » Lost in Translation pada Hilirisasi Produk Riset

lost

Workshop “Mengurangi lost in translation dalam percepatan hilirisasi produk unggulan”, dilakukan di Ruang Komisi Utama BPPT Jakarta, 13 Desember 2017, merupakan bagian dari agenda Apresiasi Lembaga Litbang tahun 2017. Workshop dibuka oleh Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Kemenristekdikti, Ir.Kemal Prihatman M.Eng, yang mengemukakan hilirisasi diawali oleh proses “kenal” dan lanjutkan dengan “komunikasi”. Persepsi industri harus dipahami dan dituangkan dalam riset. Keberhasilan riset adalah dimanfaatkannya produk riset oleh industri. Di STP Eindhoven Belanda mampu mendapatkan 4 paten per hari, bandingkan dengan lembaga PUI yang ada di Indonesia dengan rata-rata 4 paten per tahun.

Narasumber workshop adalah pebisnis, UMKM, Kadin, dan DRN. Pembingkaian workshop oleh Ketua Dewan Riset Nasional (DRN), Dr. Ir. Bambang Setiadi, mengemukakan bahwa lost in translation bermuatan proses mengidentifikasi cara lembaga litbang melakukan kolaborasi untuk mempromosikan penelitian inovatif dan interaksi produktif, dan proses menciptakan ekosistem penelitian yang menghasilkan penelitian inovatif, terapan dan translasional melalui kolaborasi yang lebib erat antara litbang dan pebisnis. Kegiatan R & D merupakan investasi negara. Riset yang tidak mampu mengantarkan inovasinya ke sektor bisnis tidak lebih dari kegiatan prakarya.

Periset dinilai kurang memahami pebisnis. Industri riset harus ikut serta memasukkan unsur pasar, inovasi, dan nilai keunggulan. Sebagian masalah tidak bertemunya kepentingan riset dan bisnis diantaranya adalah penelitian sering tidak memasukkan unsur scale up, bahkan saat peneliti ditanyakan malah tidak mampu menjawab. Banyak penelitian dilakukan dengan menggunakan bahan kimia berkualitas mahal, padahal industri tidak akan pernah menggunakan bahan-bahan kimia tersebut. Riset semestinya selalu menggunakan nilai tertinggi dalam risetnya, harus jelas dipetakan keunggulannya, bukan untuk menjawab permintaan industri saat ini, yang penting menjawab permintaan industri masa depan, sehingga pebisnis tidak ragu-ragu menggunakannya karena ada nilai keunggulan, ada nilai keuntungan. Pemahaman periset akan kemauan pasar memang belum terlalu kuat.

Pembukaan dan wokshop periset dan pebisnis, 13 Desember 2017.

Pembukaan dan wokshop periset dan pebisnis, 13 Desember 2017.

Keunggulan riset harus tercermin pada high value, rendemen tinggi, dan investasi rendah. Jika hal tersebut tidak dipikirkan oleh periset maka daya saing produk riset yang dilakukan di Indonesia akan semakin lemah, akan sulit bersaing dengan negara lain. Saat workshop juga disampaikan, sudah saatnya, menentukan ukuran keberhasilan riset adalah seberapa banyak produk riset dimanfaatkan oleh industri dan pengguna lainnya.

 

MMA