Berita » Mandiri Benih Kedelai di Lampung

Lampung merupakan salah satu provinsi yang ditargetkan meningkat produksi kedelainya pada tahun 2016. Upaya peningkatan produksi tersebut, harus dibarengi dengan memandirikan benih kedelai pada sentra produksi di Lampung. Balitbangtan melalui Balitkabi dan BPTP Lampung, pada tahun 2016, melakukan pendampingan terhadap program Mandiri Benih Kedelai.

Pendampingan diawali dengan memberikan Bimbingan Teknis budidaya kedelai untuk produksi benih yang dilakukan pada bulan Mei 2016. Pada tanggal 23 Juni 2016 juga dilanjutkan dengan pendampingan oleh Sri Wahyuni Indiati, Runik DP, dan Muchlish Adie, serta empat peneliti dari BPTP Lampung, pada kelompok tani Sri Makmur III, Desa Margodadi, Ambarawa, Pringsewu. Pendampingan tersebut bersamaan dengan awal sekolah lapang dengan topik pengendalian hama penyakit pada kedelai. Dihadiri sekitar 20 petani, Penyuluh Pertanian, POPT, dan PBT (BPSB).

Pendampingan Mandiri Benih kedelai dan observasi lapang produksi benih kedelai.

Pendampingan Mandiri Benih kedelai dan observasi lapang produksi benih kedelai.

Dinas Pertanian Provinsi Lampung memberikan perhatian khusus terhadap ketersediaan dan kecukupan benih kedelai, bahkan menurut Ir. Jamhari (BPTP Lampung), sedang disiapkan pembangunan gudang benih yang berlokasi di Kecamatan Ambarawa. BPTP Lampung pada musim ini memiliki rencana produksi benih kedelai seluas 5 ha untuk menyediakan benih pada musim puncak pertanaman kedelai Agustus nanti.

Namun karena curah hujan yang masih tinggi, maka sebagian petani beralih menanam padi, sehingga baru terealiasi seluas 1 ha, yang terbagi pada lima petani. Produksi benih tersebut telah ditanam dan berumur antara 20–30 hari, dengan menggunakan Varietas Anjasmoro dan Lokon.

Pemaparan pengenalan dan pengelolaan hama terpadu pada kedelai disampaikan oleh peneliti BPTP Lampung dan dilengkapi oleh Ibu Sri Wahyuni Indiati (Balitkabi). Peserta sangat antusias dan diskusi dilakukan cukup aktif. Dimulai dengan pengenalan hama, hama potensial di lokasi dan upaya pengendaliannya.

Secara umum petani cukup memahami berbagai jenis hama pada kedelai dan masih diwaspadai efektivitas pengendaliannya. Bahkan POPT juga menyampaikan memiliki kelompok pengendalian hayati, yaitu Puspa Hayati, dan akan dicoba untuk dikembangkan di Ambarawa. Hama potensial merugikan adalah penggerek, pengisap polong dan ulat grayak.

Runik DP menyampaikan tentang hasil analisis tanah yang telah dilakukan oleh Balitkabi, pemupukan organik dan teknik budidaya kedelai. Setelah pendampingan dilanjutkan dengan kunjungan dan diskusi di lokasi pertanaman kedelai di lapang.

MMA