Berita » Mantapkan Sertifikasi Umbi-umbian, BPSB Jatim ke Balitkabi

bpsb1_jatim

Benih atau bibit unggul adalah varietas/klon yang memiliki potensi hasil tinggi, seragam, jelas asal usulnya; benih unggul merupakan hasil budidaya yang baik, tidak mengalami tekanan baik biologis (serangan hama, penyakit) maupun deraan lingkungan (kekurangan atau kelebihan air), dan diproses secara benar. Berkait dengan itu peran Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) sangat penting. Untuk tanaman padi, jagung, dan kacang-kacangan kompetensi para sertifikator dari BPSBTPH sudah sangat baik, namun untuk umbi-umbian, karena relatif baru, perlu pendalaman ilmunya. Oleh karena itu “Kami perlu memperdalam pengetahuan dan praktik untuk modal kami di lapangan”, tutur Pak Edy, pendamping rombongan petugas sertifikassi dari BPSB Jatim, Kamis (19/7). Rombongan diterima langsung di petak visitor plot oleh Ir Tinuk Sri Wahyuni, M.S., Ir M. Anwari, M.S., dan Ir Margono Rahmad, M.P., dan Pak Winarto. Penerimaan di lapang memudahkan penjelasan karena ada contoh langsung yang mudah diamati, sebagaimana diminta rombongan. “Dengan pengamatan langsung di lapang akan memperjelas kami dalam penerimaan materi dan mudah mengingatnya,” tutur pak Edy.

Bu Tinuk identifikasi ubijalar dan ubikayu kepada rombongan BPSB Jawa Timur Kamis (19/7).

P Margono menjelaskan varietas kacang dan umbi di visitor plot KP Kendalpayak kepada rombongan BPSB
Jawa Timur Kamis (19/67).

Sesuai dengan permintaan, penjelasan materi fokus pada umbi-umbian (ubikayu dan ubijalar). Beberapa hal penting yang disampaikan adalah tentang perstekan (tentang stek) umbi-umbian dan panduan identifikasi untuk dasar pekerjaan sertifikasi. Tentang stek Bu Tinuk menjelaskan bahwa stek yang baik panjangnya cukup untuk ditanam (sekitar 25 cm), diameter stek tidak terlalu besar atau terlalu kecil, dan umur tanaman siap diambil steknya adalah 2-3 bulan. “Terlalu tua atau muda kurang baik” urai bu Tinuk. Sementara tentang penurunan hasil umbi jika menggunakan stek dari generasi ke-4 (F4) dan seterusnya, bu Tinuk belum mengadakan penelitian secara khusus. Namun berdasar pengalaman dan kajiannya bersama petani Magelang, diperoleh informasi bahwa tidak terdapat perbedaan hasil umbi, asalkan pertanaman itu dikelola secara optimal, tidak mengalami deraan (stress) saat di lapang. Di samping itu banyak hal yang menjadi penciri varietas ubijalar dijelaskan panjang lebar oleh Bu Tinuk yang mengambil tesis pemuliaan ubijalar.

Tentang panduan identifikasi umbi-umbian dijelaskan bahwa pemulia Balitkabi memadukan panduan yang telah diterapkan oleh berbagai negara, lalu merangkumnya. Pada kesempatan itu P Anwari juga memberikan penerapan aneka praktik pengelolaan benih sumber di UPBS Balitkabi. Pak Margono memberikan penjelasan tentang praktik budidaya umbi-umbian baik untuk penelitian atau untuk produksi bibit di KP Kendalapayak.

Pada akhir kunjungan rombongan diterima oleh Dr Muchlish Adie, Kepala Balitkabi. Pak Muchlish menyam­paikan bahwa Balitkabi sudah mengirimkan panduan umum identifikasi umbi-umbian ke Direktorat Perbenihan, dan kini menunggu tanggapan. “Namun jika belum ada buku khusus panduan identifikasi, kawan-kawan BPSB bisa menggunakan deskripsi varietas yang diterbitkan oleh Balitkabi” tutur pak Muchlish yang memberikan pencerahan pada para petugas sertifikasi ini.

Suasana diskusi di KP Kendalpayak, saat Kepala Balitkabi, Dr Muchlish Adie memberi pencerahan dan solusi
alternatif kepada petugas sertifikasi BPSBTPH Prov Jatim.

Sebelumnya rombongan ini mampir ke M-KRPL yang lagi ramai dengan panen aneka sayur. Suasana menjadi bertambah ramai karena karyawan beserta rombongan BPSBTPH Jatim panen bersama di secuil areal M-KRPL Balitkabi.

Karyawan-karyawati Balitkabi dan Rombongan BPSBTPH Jatim sedang asyik panen aneka sayuran di secuil areal M-KRPL Balitkabi

“Salam sertifikasi!”