Berita » Masalah Kegaraman di Lahan Pertanian Indonesia dan Solusinya

26-7-16Cekaman kegaraman atau salinitas menjadi isu penting bidang pertanian dunia saat ini. Lahan dengan masalah kegaraman tersebar di berbagai wilayah dunia seperti Amerika, Afrika, Eropa, Timur Tengah, Asia, bahkan Indonesia.

Luas lahan salin di Indonesia belum diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan cukup luas mengingat Indonesia merupakan negara maritim dengan garis pantai sepanjang lebih dari 100 ribu km.

Lahan dengan cekaman kegaraman biasanya memiliki tekstur tanah yang padat, mengakibatkan tanaman sulit menyerap air dan potensi toksisitas ion tinggi.

Lahan dikategorikan salin apabila memiliki elektrokonduktivitas tanah >4 dS/m, bahkan tanah dengan elektrokonduktivitas antara 2−4 dS/m dapat dikategorikan bersalinitas rendah. Tanaman peka biasanya telah mengalami penurunan hasil sebesar 10% pada salinitas rendah.

Balitkabi telah mengangkat isu salinitas dan menjalankan penelitian tentang salinitas pada tiga tahun terakhir. Prof. Dr. Subandi pada kesempatan seminar internal Balitkabi tanggal 25 Juli 2016 menyampaikan bahwa solusi terpadu sangat dibutuhkan untuk menangani masalah kegaraman di Indonesia.

Solusi terpadu tersebut meliputi varietas toleran salinitas, pola tanam, dan pengelolaan lahan. Komoditas Balitkabi yang telah terindikasi toleran salin adalah kacang tanah dan kedelai. Varietas kacang tanah yaitu Domba, Bison, dan Tuban menunjukkan respon toleran terhadap salinitas pada penelitian-penelitian yang telah dilaksanakan Balitkabi, sedangkan kedelai toleran salinitas masih berupa galur yaitu Argomulyo/IAC dan IAC/Bur/Mlbar-10-KP-21-50.

Prof. Dr. Subandi mengusulkan pola tanam pada lahan salin yaitu padi gogo pada musim hujan dilanjutkan tanaman palawija yaitu kacang tanah atau kedelai pada musim kering.

Upaya pengelolaan lahan dengan masalah kegaraman dapat dilakukan dengan memperbaiki drainase, meningkatkan pelindian garam di permukaan tanah, mengurangi penguapan dan ameliorasi. Teknik budidaya yang diusulkan untuk mendukung upaya pengelolaan lahan tersebut adalah dengan menyiapkan bedeng-bedeng selebar 2−2,5 m dengan selokan selebar 0,5 m dan sedalam 0,6 m, di sela-sela bedeng.

Selokan di sela-sela bedeng bertujuan menjadi pos aliran pelindian garam dari permukaan bedengan sehingga tanaman yang ditumbuhkan di selokan tersebut adalah tanaman yang tahan terhadap salinitas, seperti rumput Kallaran di Pakistan. Amelioran yang dapat digunakan adalah gipsum pada awal tanam di musim hujan, serta mulsa jerami sebelum ditumbuhi palawija.

Penanganan masalah kegaraman pada lahan pertanian membutuhkan penelitian terpadu jangka panjang setidak-tidaknya tiga tahun. Survey potensi luas lahan salin di Indonesia dan penelitian berbasis multidisiplin kepakaran yaitu pemuliaan, agronomi dan proteksi juga perlu dilakukan.

PHP