Berita ยป Memacu Produksi Kedelai dari NTB

Provinsi NTB konsisten menjadi penyumbang produksi kedelai nasional. Pada tahun 2015, provinsi NTB dipacu produksi kedelainya melalui Upsus Kedelai, GPPTT Kedelai dan Mandiri Benih Kedelai. Balitkabi yang mendapat tugas melakukan pendampingan pada berbagai program tersebut, 25 Juni 2015, melakukan pendampingan terhadap peneliti BPTP NTB di aula BPTP NTB, dilakukan oleh Prof. Dr. Marwoto dan Muchlish Adie.

Kunjungan lapang didampingi oleh peneliti BPTP NTB ke Lombok Tengah dan Lombok Barat. Pendampingan diawali dengan melakukan diskusi di Aula BPTP NTB. Masalah ketersediaan benih, budidaya kedelai dsbnya, didiskusikan pada pertemuan tersebut, termasuk rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh BPTP NTB pada MKII 2015.

Seperti sentra produksi kedelai lainnya, harga kedelai yang saat ini hanya Rp5.000โ€“6000, menjadi kendala memacu minat petani meningkatkan produksi kedelai, walaupun sebenarnya teknologi yang telah diramu dan dirakit oleh peneliti Balitbangtan telah tersedia.

Petanipun memahami makna teknologi tersebut, tetapi jika komponen teknologi tersebut diterapkan secara penuh akan berkosekuensi pada meningkatnya biaya berusahatani kedelai, yang hingga saat ini belum diikuti oleh pendapatan usahatani kedelai yang memadai, karena belum berjalannya HPP kedelai di lapang.

Diskusi di BPTP NTB dan pertanaman kedelai petani di Lombok Tengah.

Diskusi di BPTP NTB dan pertanaman kedelai petani di Lombok Tengah.

Kunjungan ke penangkar kedelai dan diskusi dengan penyuluh.

Kunjungan ke penangkar kedelai dan diskusi dengan penyuluh.

Provinsi NTB sebagai sentra produksi kedelai ditopang oleh produksi benih oleh penangkar. Kunjungan ke penangkar benih berskala besar di Lombok Tengah dan skala kecil di Lombok Barat, varietas Anjasmoro dan Burangrang diproduksi secara massif.

Burangrang saat ini mulai diminati oleh petani, karena polong relatif banyak, jarak antar buku lebih pendek dan umur lebih genjah dibandingkan Anjasmoro. Informasi dari peneliti BPTP NTB, di Bima, varietas Burangrang juga diminati oleh petani.

Diskusi di Desa Sesela, Lombok Barat bersama dengan penyuluh dan penangkar, petani di Sesela memiliki pola tanam padi โ€“ padi โ€“ kedelai, dan kedelai selalu ditanam setiap tahun. Pada tahun 2015 telah ditargetkan program GPPTT kedelai seluas 150 ha di Sesela yang terancam tidak bisa dilaksanakan karena adanya aturan subsidi hanya diberikan sekali pada satu lahan.

Hal ini akan berdampak terhadap pengurangan target areal kedelai yang sudah ditetapkan melalui CPCL, bahkan besar kemungkinan akan berdampak terhadap pemasaran benih kedelai dari para penangkar kedelai.

MMA