Berita » Memahami Pertanian Ramah Lingkungan

pahami-pertanian-ramah-ling

Dalam rangkaian Seminar Nasional Inovasi Peternakan Ramah Lingkungan di Makassar 20 Juni 2013, berbagai konsep dan pemahaman tentang ramah lingkungan didiskusikan. National Priority and Action Plan 2010-2014, menekankan tiga hal penting yakni keamanan pangan, energi, dan lingkungan. Menyadari hal tersebut, menurut Kapuslitbangbun, masalah lingkungan tidak lagi ditempatkan sebagai sub-sistem dalam sistem pertanian tetapi telah menjadi bagian utama dalam suatu sistem. EcoFarming atau Pertanian Ramah Lingkungan (PRL) merupakan sistem pertanian yang mengelola seluruh sumberdaya pertanian dan input usahatani secara bijak, berbasis inovasi teknologi untuk mencapai peningkatan produktivitas berkelanjutan dan secara ekonomi menguntungkan serta diterima secara sosial budaya dan berisiko rendah atau tidak merusak/mengurangi fungsi lingkungan. Tentu pertanian organik merupakan bagian dari PRL, penjelasan KaBBSDLP. Menyadari pentingnya masalah lingkungan, Badan Litbang Pertanian menyusun model m-AP2RL2 (model Akselerasi Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan Lestari), yang mencakup 9 unsur, yakni peningkatan produktivitas, rendah emisi gas rumah kaca, adaptif terhadap perubahan iklim, penerapan pengendalian hama terpadu, rendah cemaran logam berat, zero waste, pemanfaatan sumberdaya lokal, terjaganya biodiversitas, dan integrasi tanaman-ternak. Pada dasarnya konsep PRL adalah memadukan dan mengintegrasikan sektor produksi, lingkungan dan social-ekonomi. Indikator untuk produksi berupa peningkatan produktivitas (kualitas dan kuantitas) secara berkelanjutan dan diversifikasi produksi. Unit indikator lingkungan terdiri dari rendah emisi gas rumah kaca, adaptif terhadap perubahan iklim; pengendalian hama penyakit secara bijak; rendah cemaran logam berat dan residu agrokimia (on site dan off site); zero waste; terjaganya kualitas lahan dari degradasi fisika, kimia, dan biologi; serta terjaganya keanekaragaman hayati. Sedangkan untuk indikator ekonomi dan sosial budaya terdiri dari peningkatan pendapatan dan efisiensi (B/C ratio, IRR, NPV); mudah dilaksanakan; secara sosial dapat diterima serta terpeliharanya kearifan dan teknologi lokal (local wisdom and local technical knowhow). Strategi umumnya berupa sinergisitas dan keterpaduan antar-teknologi; integrasi tanaman-ternak; spesifik lokasi; berbasis komoditas unggulan; serta optimalisasi sumberdaya dan input produksi. m-AP2RL2 bukan sekesar konsep tapi segera diimplementasikan di lapang. MMA/AW