Berita » Memaksimalkan Potensi Hasil VUB dengan Modifikasi Pendekatan Metode Uji Multilokasi

Bertempat di Aula Balitkabi pada tanggal 24 Mei 2017, Prof. Subandi menyampaikan hasil pemikirannya mengenai uji multilokasi sebagai salah satu syarat pelepasan varietas. Pemikiran tersebut didasari oleh fakta di lapang bahwa varietas-varietas yang telah dilepas oleh Balitkabi sebenarnya memiliki potensi hasil melebihi yang tertulis dalam deskripsi varietas.

Prof. Subandi mencontohkan pada “kasus ubikayu”, di lahan petani dengan input tinggi, produktivitas ubikayu bisa mencapai minimal 10 kg/pohon, padahal deskripsi varietas unggul hanya berkisar antara 22–60 t/ha (kecuali Darul Hidayah yang bisa mencapai 102 t/ha).

Hal tersebut tetapi tidak menutup kemungkinan digunakan untuk komoditas yang lain. Oleh karena itu Prof. Subandi mempunyai gagasan untuk mengubah pendekatan metode uji multilokasi dengan menambahkan input tinggi pada set uji multilokasi sehingga diperoleh potensi hasil maksimal dari genotipe-genotipe harapan.

uji

Prof. Subandi mengusulkan dua alternatif metode uji multilokasi untuk mengetahui/memunculkan potensi tertinggi dari genotipe-genotipe harapan, yaitu: (1) Metode 1, jumlah genotipe yang diuji lima klon ditambah satu hingga dua varietas pembanding. Lingkungan tumbuh (pupuk: organik dan anorganik) dua taraf, yakni sedang dan tinggi atau optimal, dengan lahan berkesuburan rendah hingga tinggi. Jumlah lokasi sebanyak enam lokasi, (2) Metode 2, jumlah genotipe yang diuji lima klon ditambah satu hingga dua varietas pembanding, lingkungan tumbuh (pupuk: organik dan anorganik) /standar. Jumlah lokasi sebanyak delapan lokasi (tiga lokasi untuk optimasi hasil).

Dalam presentasinya Prof. Subandi menyampaikan perlunya tambahan informasi dalam deskripsi varietas, yaitu: (1) Macam dan takaran pupuk yang digunakan: 10 t pupuk organik + 400 kg Urea + 250 kg SP36 + 200 kg KCl/ha, dan (2) Lokasi uji multilokasi: dua  tanah Inceptisol (kesuburan tinggi),  dua tanah Alfisol (kesuburan sedang), dan dua tanah Ultisol (kesuburan rendah).

Gagasan yang disampaikan oleh Prof. Subandi mendapat banyak respon dari peneliti yang hadir, diantaranya adalah: (1) Untuk memperoleh hasil maksimal tidak hanya dengan input pupuk tinggi, tetapi perubahan musim juga sangat berpengaruh, (2) Merubah pendekatan metode uji multilokasi dapat dilakukan dengan tidak merubah aturan, yaitu dengan merubah kinerja internal (meningkatkan kolaborasi pemulia dengan peneliti bidang ilmu lain), (3) Pada uji multilokasi peneliti harus mengetahui informasi awal lokasi (kesuburan, musim, dan iklim).

Dr. Andy Wijanarko selaku Koordinator Program Balitkabi menyampaikan bahwa gagasan Prof. Subandi sudah disampaikan di tingkat Puslitbang TP dan mendapat tanggapan sebaiknya uji multilokasi dilakukan pada skala luas, sehingga diperoleh hasil riil bukan dari ubinan, selain itu dapat digunakan sebagai sumber benih.

Dr. Joko Susilo Utomo selaku Kepala Balitkabi menambahkan apabila aturan yang menyebutkan bahwa set uji multilokasi harus menggunakan pemupukan sesuai rekomendasi tidak bisa diubah, maka sebagai tambahan informasi selain deskripsi hasil rata-rata varietas, perlu ditampilkan yield max dari varietas tersebut.

Data yield max bisa diperoleh setelah varietas dilepas dengan melakukan pengujian skala luas meliputi: input tinggi, pengamatan hama dan penyakit, serta analisis usaha taninya, sehingga dapat diperoleh informasi yang lengkap dari suatu varietas.

uji2

WR