Berita » Memandirikan Benih Kedelai di Lampung

Penggunaan benih varietas unggul diyakini mampu menjadi pengungkit produktivitas kedelai. Tahun 2017 Balitkabi mendapatkan tugas untuk melakukan pendampingan pemandirian benih kedelai di BPTP sentra produksi kedelai. Tanggal 10−12 Juli 2017, peneliti Balitkabi, A.A. Rahmianna, Sri Wahyuni Indiati, dan Muchlish Adie, melakukan pendampingan mandiri benih kedelai.

BPTP Lampung telah melakukan produksi benih kedelai untuk memperkuat penyediaan benih pada musim tanam Agustus–November 2017. Dalam rangka menyongsong tahun perbenihan 2018, Dinas Pertanian Provinsi Lampung juga telah menetapkan CPCL kedelai dan menargetkan kebutuhan benih dapat disediakan secara mandiri dari produsen yang ada di Lampung.

BPTP Lampung juga terus memperkuat pemahaman petani kedelai akan teknologi budidaya dan produksi benih kedelai. Pelatihan dilakukan pada Kelompok Tani Sri Makmur III yang berada di Desa Margodado, Ambarawa, Pringsewu, diikuti sekitar 40 petani dan dihadiri oleh peneliti BPTP Lampung, peneliti Balitkabi dan POPT dari Kecamatan Ambarawa. Peneliti Balitkabi menyampaikan: (1) pengenalan varietas dan produksi benih, (2) budidaya kedelai untuk produksi benih, serta (3) pengenalan dan pengendalian hama dan penyakit pada kedelai.

Pelatihan dan kunjungan lapang mandiri benih kedelai.

Pelatihan dan kunjungan lapang mandiri benih kedelai.

Respon dan kemampuan petani memahami tentang budidaya kedelai cukup maju. Permasalahan budidaya kedelai saat ini adalah hama kutu kebul. Petani mengupayakan berbagai cara termasuk penggunaan pestisida nabati (pesnab) bersumber tanaman gadung. Yang menarik petani telah memanfaatkan pematang sawah sebagai sumber benih kedelai, dengan luas sawah ¼ ha mampu dihasilkan benih kedelai sekitar 30 kg. Di Ambarawa petani sangat fanatik terhadap Varietas Gepak Kuning karena harga jual mencapai Rp20.000/kg untuk taoge. Nilai jual yang sangat tinggi.

 

MMA