Berita » Memanfaatkan Lahan Hutan untuk Kesejahteraan Masyarakat Desa

Pada tanggal 21 Oktober 2014, Prof. Nasir Saleh dan Ir. Budhi Santoso Radjid MS menjadi nasumber pada Seminar Pemanfaatan Lahan di Bawah Tegakan untuk Kesejahteraan Masyarakat Desa Hutan. Pertemuan diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Blora, dihadiri lebih kurang 50 peserta yang terdiri dari pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), pengurus Paguyuban Pengelolaan Hutan bersama Masyarakat (PHBM) dan staf Dinas Kehutanan Kabupaten Blora, staf Perhutani KPH Blora, Cepu, Randublatung, Kebonhardjo, Mantingan, dan Ngawi. Seminar ini dilakukan sebagai kelanjutan acara penyerahan sharing produksi Perum Perhutani ke LMDH pada tahun 2014 yang mencapai lebih kurang Rp.4,02 Milyar.
Dalam sambutannya Bupati Blora, Bpk. Djoko Nugroho, meminta pengurus LMDH agar lebih memanfaatkan dana sharing yang diterima dari Perum Perhutani tersebut untuk kegiatan produktif sehingga LMDH bertambah kuat dan pada gilirannya masyarakan di sekitar hutan sejahtera. Pada kesempatan tersebut Dr. Nasir Saleh menyampaikan bahwa berdasar hasil penelitian kerjasama Balitkabi Malang dengan Perhutani KPH Blora pada tahun 2013 dan 2014, dengan pengelolaan yang tepat tanaman ubikayu yang ditanam di bawah tegakan jati muda (umur maksimum 3 tahun) tidak akan mengganggu/merusak tanaman jati, tidak menguruskan tanah, dan hasil ubikayu mencapai kisaran 12-30 t/ha. Hasil itu sesungguhnya tergantung kesuburan lahan, kedalaman lapis olah, dan pemeliharaan. Data juga menunjukkan bahwa tinggi dan pertumbuhan lingkar tanaman jati justru lebih baik dibanding pertanaman yang di bawah tegakan yang tidak diusahakan (dibiarkan tidak terpelihara). Ir. Budhi Santoso MS menambahkan bahwa tergantung umur tanaman dan jarak tanam pohon jati, berdasar survei di KPH Blitar masyarakat memanfaatkan lahan di bawah tegakan dengan tanaman nanas, papaya, rumput pakan ternak (Kolonjono), atau cabai. Di KPH Ngawi di bawah tegakan tanaman jati yang berumur tua dan sudah rimbun telah dikembangkan tanaman porang (iles-iles) yang memang toleran naungan. Pada prinsipnya tanaman yang diusahakan di bawah tegakan harus: (a) sesuai yang kondisi tegakan yang ada (umur, jarak tanam, naungan) sehingga tidak harus memangkas/merusak tanaman pokok, (b) tanaman harus dikelola dengan baik (tata letak dan jarak tanam, diberi pupuk yang cukup, dan dipelihara dengan baik).Prof Nasir Saleh/AW