Berita » Memasok Produksi Kedelai dari Hutan Kayu Putih Perhutani Ponorogo

dele_k_putih_0

Panen kedelai di hutan kayu putih Ponorogo mampu mencapai rata-rata 1,5 ton per hektar. Bahkan beberapa petani mencapai hasil biji 2,2 ton per ha. Jika di antara tegakan tanaman hutan perhutani yang kini masih kosong ditanami kedelai secara intensif maka tambahan produksi kedelai secara nasional akan sangat nyata. Kedelai tak hanya diambil hasil bijinya namun juga menambah kesuburan tanah hutan. Demikian informasi yang dipetik dari Panen Raya dan Gelar Teknologi Budidaya Kedelai di Kawasan Hutan Kayu Putih di Desa Sidoharjo, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo (31/5/2012).

Gelar Teknologi Budidaya Kedelai di kawasan hutan kayu putih, yang dilakukan Badan Litbang Pertanian dan dilaksanakan oleh Balitkabi dan Puslitbang Tanaman Pangan ini, menjawab permintaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wonorejo kepada Menteri Pertanian saat Temu Wicara Kedelai di Kawasan Hutan Jati di Ngawi (9/1/2012) lalu.

Sukses kedelai di hutan jati Ngawi, peneliti Balitkabi lalu mengembangkan sekaligus mengkaji teknologi budidaya kedelai di bawah tegakan pohon kayu putih. Sosialisasi kepada pesanggem dan pihak terkait pun dilaksanakan. Tanam dilaksanakan pada 2-3 Maret 2012, pada lahan yang tanahnya diolah dan tidak diolah pada luas 6 ha, di wilayah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Madiun, Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Sukun. Pada lahan tiap pesanggem dibuat saluran drainase pada jarak 4–8 m. Benih ditanam dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm. Varietas unggul dan benih bermutu dengan daya tumbuh >90% sangat ditekankan karena benih unggul merupakan faktor awal yang sangat penting untuk keberhasilan usahatani. Pupuk dasar yang diberikan adalah 50 kg Urea/ha, SP36 100 kg/ha dan 100 kg KCl/ha. Pengendalian gulma dilakukan pada umur 2-3 minggu dan 4-5 minggu. Hama dan penyakit dikendalikan mengikuti hasil pemantauan pengendalian hama terpadu. Ternyata dengan menerapkan teknologi ini, petani pesanggem di hutan kayu putih di Ponorogo mampu menghasilkan kedelai hingga 2,2 t/ha, dengan rata-rata 1,5 ton per hektar.

Pertanaman para pesanggem di bawah tegakan kayu putih itulah yang dipanenraya oleh Bupati Ponorogo, Wakil Bupati Ponorogo, Wakil Ketua DPR Ponorogo, Kepala Perum Perhutani Unit II Jatim, Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Kepala Badan Litbang Pertanian yang diwakili Kepala Puslitbangtan Dr. Hasil Sembiring. Gelar Teknologi diikuti oleh 500 orang terdiri dari petani LMDH, Petugas/Mandor/Administratur KPH Madiun Perhutani Unit II, Penyuluh, Peneliti, Dinas Instansi terkait se Kabupaten Ponorogo.

Seusai panen raya diadakan temu wicara, dipandu oleh Agus Idhar, dari TVRI Pusat. Dr. Hasil Sembiring menekankan bahwa pemanfaatan lahan hutan untuk produksi kedelai merupakan terobosan yang menjadi perhatian Menteri Pertanian. Di samping itu tanaman kedelai tak hanya menyumbang hasil biji, namun juga membantu menyuburkan lahan hutan. Dukungan langsung pun muncul dari Dr Maman Suherman, Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, dan Ir Bambang, Kepala Perum Perhutani Unit II yang hadir pada panen raya ini.

Ir Bambang menyampaikan terima kasih kepada Badan  Litbang Pertanian yang telah melakukan gelar teknologi kedelai di kawasan hutan kayu putih. Beliau menuturkan: “Ini merupakan kerja nyata Badan Litbang Pertanian yang layak diteladani. Penanaman kedelai di antara pohon kayu putih tanpa merugikan pertumbuhan pohon kayu putih, bahkan tanahnya menjadi bertambah subur”.

Bahkan Bupati Ponorogo, H. Amin S.H, yang terkesan dengan sukses kedelai di bawah tegakan hutan kayu putih di wilayahnya ini, mengharapkan agar Badan Litbang Pertanian dapat secara kontinyu memberikan inovasi teknologinya seperti varietas unggul dan teknologi budidaya spesifik lokasi, kepada masyarakat tani di Kabupaten Ponorogo khususnya dan masyarakat tani di Indonesia pada umumnya.

Berkait dengan itu Bupati Ponorogo memberikan tiga pesan penting untuk pesanggem, yaitu: 1) tetap menjaga fungsi hutan, 2) mengelola dengan baik untuk tanaman pangan dan ikut memelihara hutan, dan, 3) menjaga dari gangguan keamanan, pencurian dan pengrusakan hutan.

Tak hanya pejabat yang terkesan. Pengurus LMDH Wonorejo dan bagi warga Desa Sidoharjo merasa sangat surprise; gembira dan tidak menyangka tanaman kedelainya begitu bagus sehingga dikunjungi para pejabat dan peneliti untuk melihat kesuksesan mereka bertanam kedelai di hutan kayu putih ini. Tak lupa dengan budayanya, kegembiraan ini juga disambut para pesanggem dengan menggelar seni tradisional Reog Anak-anak untuk memeriahkan gelar yang baru pertama kali terjadi di wilayah mereka. Pak Budi, Ketua LMDH Wonorejo yang terkesan dengan galur harapan kedelai toleran naungan pun mengusulkan nama SUKUN, Sukses Untuk Kedelai Nasional.

Pada gelar teknologi kali ini aneka varietas unggul juga diperkenalkan. Selain penananam varietas unggul Gepak Kuning (yang asli Ponorogo), varietas unggul kedelai Wilis, Kaba, Argomulyo Anjasmoro, Grobogan juga digelar. Demikian juga varietas kedelai terbaru Gema dan calon varietas kedelai toleran naungan dan kekeringan juga diperkenalkan agar petani bisa memilih sesuai kebutuhannya.

Melihat dampak peningkatan produksi, antusiasme petani, dan potensi lahan Perhutani pembinaan model seperti ini layak untuk dikembang-teruskan. Selamat kepada para pesanggem, Perhutani, Pak Bupati Pnorogo, dan Badan Litbang Pertanian.

Panen raya kedelai di bawah tegakan hutan kayu putih oleh Bupati (baju batik), ketua DPR Ponorogo, Direktur
Aneka Kacang dan Ubi, Kepala Perhutani Unit II, dan Kapuslitbangtan.

Sambutan Kepala Balitkabi (kiri) dan Kapuslitbangtan (kanan) mengawali Panen Raya dan Temu Wicara Prof Marwoto (memegang mic) memberikan penjelasan kepada Bupati Ponorogo (baju batik, tengah)
didamping Kepala Puslitbangtan saat meninjau pameran hasil inovasi Teknologi Badan Litbang Pertanian (kiri)
dan suasana temu wicara (kanan).