Berita » Bangkitkan Kedelai di Bojonegoro dengan Promotor Kang Yoto

Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Timur dan pernah mendapatkan penghargaan bidang kedelai di tingkat nasional. Prestasi tersebut harus dibangkitkan kembali dan Badan Litbang Pertanian melalui Balitkabi melakukan Gelar Varietas Unggul dan Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Sawah. Gelar teknologi dilakukan pada Juli–September 2014, pada luasan 7 ha di lokasi Kelompok Tani Ngestu Tani di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Sebanyak 6 varietas unggul dan 13 calon varietas digelar pada gelar teknologi tersebut. Pertumbuhan kedelai optimal dan gelar teknologi tersebut tidak hanya sebagai ajang diseminasi tetapi juga merupakan media pembelajaran dan media interaksi yang bagus antara peneliti – penyuluh – petani. Selama pelaksanaan gelar memang petani yang tergabung dalam kelompok Ngestu Tani dan penyuluh di Kecamatan Kapas berpartisipasi aktif dan berinteraksi dengan peneliti dan teknisi Balitkabi. Puncak gelar teknologi dilakukan panen dan temu wicara pada 20 September 2014. Gelar dilakukan di tengah lokasi gelar varietas dan dihadiri oleh Bupati Bojonegoro beserta beberapa jajaran SKPD, Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro dan jajarannya, kepala Balitkabi dan peneliti/teknisi, Kasubid PHP Puslitbangtan, serta peneliti BPTP Jawa Timur.


Bupati Bojonegoro, Drs. H. Suyoto M.Si (Kang Yoto) disela-sela panen dan kunjungan lapang memberikan perhatian penuh terhadap keragaan varietas kedelai di lapang bahkan mendiskusikannya dengan peneliti dan petani. Mengawali sambutannya pada acara temu wicara, Kepala Balitkabi, mengingatkan kembali posisi teknologi dan inovasi, di mana inovasi adalah teknologi yang bernilai ekonomi menguntungkan dan diadopsi oleh pengguna, karenanya mempercepat teknologi menjadi inovasi adalah tugas bersama jajaran aparat Kemtan. Paparan Ir. Abdullah Taufiq MS (peneliti sekaligus penjab gelar teknologi) tentang kondisi fisika dan kimiawi tanah yang dihubungkan dengan rekomendasi untuk peningkatan produksi kedelai di Bojonegoro, menarik perhatian Bupati Bojonegoro dan dikomunikasikannya secara komunikatif kepada peserta temu wicara. Empat hal disampaikan oleh Kang Yoto yaitu: (1) harus bisa ngomong karo lemah (berbicaralah dengan tanah), (2) ngerti cuacane (tepat musim), (3) bibite cocok (varietas harus sesuai), dan (4) bisa memperlakukan dengan benar (menerapkan teknologi anjuran). Kedelai merupakan tanaman yang menyehatkan manusia dan lahan, jangan hanya berpikir padi saja, dan kedelai serta tanaman yang lain dianggap pengisi waktu (luwung). Petani harus sinau (belajar) sehingga luwung bisa untung. Temu wicara juga diikuti oleh sekitar 250 petani, penyuluh, kelompok-kelompok tani. Pada kesempatan tersebut diserahkan publikasi Balitkabi kepada Bupati. Kesan dari petani peserta gelar teknologi berterima kasih dan penghargaan atas percontohan yang dilakukan oleh Balitkabi. Panen dan temuwicara diakhiri dengan doa dan Kang Yoto terus memberikan semangat kepada petani dengan mengajak menyuarakan yel-yel : Orang Bojonegoro: sehat – produktif – bahagia.MMA/AW