Berita » Membangkitkan Penangkar Benih Kedelai di Pujut, Lombok Tengah

Bimtek produksi benih kedelai di Lombok Tengah, 26 April 2018.

Bimtek produksi benih kedelai di Lombok Tengah, 26 April 2018.

Penting dan perlunya penumbuhan penangkar benih kedelai di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dirasakan oleh Pemerintah Daerah setempat dalam rangka menjadikan Loteng sebagai salah satu sentra produksi benih kedelai di Provinsi NTB. Selain itu, Loteng juga bertekad berswasembada benih kedelai. Hal tersebut beralasan karena di kabupaten tersebut realisasi tanam kedelai pada MT 2016/2017 adalah terluas kedua (12.036 ha) di NTB (45.927 ha) setelah Kabupaten Bima (16.184 ha). Informasi dari Dinas Pertanian Loteng, pada tahun 2017 Loteng sudah mampu menghasilkan benih kedelai bersertifikat sebanyak 900 ton.

Kegiatan Sekolah Lapang (SL) – Desa Mandiri Benih Kedelai Badan Litbang Kementerian Pertanian, yang dilaksanakan di Kabupaten Loteng, tepatnya di hamparan lahan sawah tadah hujan wilayah Kelompok Tani “Pade Mele” Desa Segala Anyar, Kecamatan Pujut, Kabupaten Loteng, pada dasarnya adalah dalam rangka penumbuhan penangkar benih kedelai baru di Loteng guna mendukung gagasan Kabupaten Loteng sebagai salah satu sentra produksi benih kedelai di NTB, sekaligus menuju Loteng berswasembada benih kedelai. Penanggung jawab kegiatan ini adalah peneliti BPTP NTB, Ibu Nani Herwati, S.P., M.Si.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, di lokasi kegiatan SL-Desa Mandiri Benih Kedelai Desa Segala Anyar, Kecamatan Pujut pada tanggal 26 April 2018, dilaksanakan Bimtek (Bimbingan Teknis) produksi benih kedelai yang dilaksanakan oleh BPTP NTB bersama Balitkabi Malang. Peserta Bimtek terdiri dari 50 orang petani, PPL setempat, dan beberapa peneliti dan penyuluh BPTP NTB. Sebagai narasumber utama pada Bimtek kali ini adalah dari BPSB Provinsi NTB (Ir. H. Wildan, mengenai praktek rouging di lapangan), BPTP NTB (Tantawizal, SP., mengenai pengendalian hama/penyakit), dan Balitkabi Malang (Prof. Dr. Didik Harnowo, mengenai teknologi produksi dan penanganan pascapanen benih).

Dua varietas kedelai yang diproduksi pada kegiatan ini adalah Anjasmoro dan Dena 1 seluas tiga hektar. Kondisi pertanaman cukup baik, saat ini memasuki fase berbunga penuh. Peserta Bimtek sangat antusias mengikuti acara ini. Yang lebih menggembirakan dan menyemangati petani peserta adalah bahwa benih yang akan dihasilkan Kelompok Tani di lokasi kegiatan ini akan dibeli oleh Dinas Pertanian Loteng. Sikap Pemerintah daerah setempat, dalam hal ini Dinas Pertanian Loteng, perlu diapresiasi karena hal tersebut akan mendorong dan membangkitkan semangat petani untuk menjadi penangkar benih kedelai di wilayah ini, guna mendukung terwujudnya swasembada benih kedelai di Loteng. Atas dasar hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa prinsip “bisnis plan” dalam pelaksanaan SL-Produksi Benih Kedelai sudah dilaksanakan.

Semoga pertanaman kedelai pada kegiatan ini aman hingga panen dengan produktivitas tinggi dan berhasil menjadi benih kedelai bersertifikat, serta terealisir lahirnya penangkar benih kedelai baru di Loteng, khususnya di Kecamatan Pujut.

Keseriusan peserta dalam mengikuti Bimtek (kiri), dan peserta Bimtek mengunjungi lokasi pertanaman kedelai (kanan).

Keseriusan peserta dalam mengikuti Bimtek (kiri), dan peserta Bimtek mengunjungi lokasi pertanaman kedelai (kanan).

DH