Berita ยป Memberitakan Porang di TV Tani

Porang masih menjadi pusat perhatian berbagai kalangan, mulai dari petani, instansi pemerintah, pihak swasta, maupun masyarakat luas. Apa yang menarik dari porang? Tanaman ini memiliki keunggulan mudah dibudidayakan, cocok dibudidayakan dalam sistem agroforestri, memiliki kandungan gizi yang baik untuk kesehatan, dan bernilai ekonomi tinggi. Ketertarikan dengan porang mengantarkan Larasati, reporter dari TV Tani untuk menggali lebih jauh potensi porang ke Balitkabi (21 Januari 2021).

Pada kesempatan tersebut, Kepala Balitkabi (Dr. Ir. Titik Sundari, M.P.), yang didampingi oleh peneliti, menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan TV Tani, yaitu seputar apa itu umbi porang, bagaimana budidayanya, wilayah pengembangan, pemanfaatan umbi porang menjadi olahan pangan yang menyehatkan, dan prospek serta potensi umbi porang di Indonesia. Dijelaskan bahwa porang merupakan tanaman yang tergolong dalam famili Araceae dengan kisaran tumbuh dari dataran rendah sampai 1100 m di atas permukaan laut. Kandungan glukomanan yang tinggi pada porang merupakan magnet pemikat komoditas ini.

Umbi porang tidak dapat dikonsumsi langsung, karena memiliki kandungan kristal kalsium oksalat yang cukup tinggi, sehingga dapat menyebabkan rasa gatal. Oleh karenanya, diperlukan pengolahan pasca panen untuk mengurangi/menghilangkan kandungan oksalat dalam umbi. Umbi porang yang telah melalui proses pasca panen dapat diolah menjadi sejenis makanan tradisional Jepang berupa mie (shirataki) dan sejenis tahu (konyaku). Fungsi glukomanan yang serupa dengan serat pangan disinyalir memiliki kelebihan-kelebihan tertentu, yaitu meningkatkan fungsi pencernaan dan sistem imun, menurunkan kadar kolesterol dan gula darah, serta membantu menurunkan berat badan.

Tidak mengherankan bagi kaum urban yang memiliki tingkat kesadaran tinggi pada gaya hidup sehat, olahan pangan seperti mie shirataki maupun beras tiruan dari glukomanan umbi porang menjadi pilihan untuk mengontrol asupan kalori dan mencegah makan yang berlebih. Namun demikian, teknologi pasca panen untuk mendapatkan tepung glukomanan yang memiliki tingkat kemurnian tinggi menjadi tantangan dalam pengembangan porang kedepan. Teknologi pemurnian tepung glukomanan dapat memberikan nilai tambah yang nyata, baik bagi pelaku industri maupun petani di dalam negeri.

RTH

Kepala Balitkabi, Dr. Ir. Titik Sundari, M.P. saat wawancara dengan TV Tani.

Kepala Balitkabi, Dr. Ir. Titik Sundari, M.P. saat wawancara dengan TV Tani.

Ratri Tri Hapsari, S.P., M.Si. (pemulia porang Balitkabi) dan B.S. Koentjoro, M.Kom. (Subkoordinator Substansi Jasa Penelitian) saat wawancara dengan TV Tani.

Ratri Tri Hapsari, S.P., M.Si. (pemulia porang Balitkabi) dan B.S. Koentjoro, M.Kom. (Subkoordinator Substansi Jasa Penelitian) saat wawancara dengan TV Tani.