Berita » Mendiskusikan Kembali Tanaman PRG

Pemaparan FGD PRG di Kemtan.

Pemaparan FGD PRG di Kemtan.

Produk Rekayasa Genetik (PRG), menjadi bagian penting pada budidaya tanaman pertanian di beberapa negara dan pengembangannya di Indonesia telah banyak diusulkan oleh berbagai lembaga riset baik dari kalangan pemerintah maupun perusahaan. Untuk menyikapi hal tersebut, PVTPP (Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian) Kementerian Pertanian melakukan FGD Terbatas pada tanggal 26 Februari 2018 di Kemtan Jakarta. Dihadiri oleh beberapa Peneliti Balitbangtan, Biro Perencanaan, Biro Hukum dan perwakilan dari beberapa Direktorat Jenderal terkait dan staf ahli Mentan. Muchlish Adie (Peneliti Balitkabi) diundang hadir pada FGD tersebut.

Arahan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Hari Priyono, pengembangan PRG di Indonesia harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan bijaksana. Kita harus memikirkan keberadaan petani yang sejumlah 30 juta orang dengan kepemilikan lahan sempit, akses ke teknologi dan bahkan akses permodalan, sangat terbatas. Jangan sekali-kali berpaling akan persoalan tersebut dan kebijakan di Kementerian Pertanian memang harus berpihak kepada saudara petani tersebut. Sekali kita telah meluncurkan PRG maka tidak ada no-return. Hal yang sama mengapa kita belum meratifikasi UPOV, karena Kemtan masih berkomitmen terhadap aset palsmanutfah yang dimiliki NKRI. Itu kekayaan kita yang harus diamankan dan dilindungi.

Pada FGD disampaikan dua paparan tentang Perkembangan PRG (Prof. Dr. Bahagiawati) dan Aspek kehati-hatian PRG di Indonesia (Prof. Dr. Sumarno). Menurut Prof. Bahagiawati, “opponent” terhadap PRG sejak dulu hingga sekarang berputar pada kecurigaan terhadap pencemar lingkungan, berbahaya bagi kesehatan, dan monopoli benih. Dengan demikian menurut Prof. Sumarno perlu sikap kehati-hatian. Jangan memandang PRG secara berlebihan karena pada hakekatnya tidak lebih dari 1 VUB dengan 1 sifat tambahan.

Arahan Sekjen Kementan dan peserta FGD.

Arahan Sekjen Kementan dan peserta FGD.

Saat diskusi banyak dipertanyakan sikap Kemtan terhadap PRG, perlu pemahaman dan edukasi tentang PRG termasuk kepada pejabat, bahkan banyak didiskusikan tentang status riset PRG yang sudah dilakukan saat ini. Yang didorong adalah lembaga riset di Indonesia (termasuk Balitbangtan) harus menghasilkan PRG yang dirancang dan dikembangkan oleh periset Indonesia. Pada akhir diskusi, Sekjen Kementan menegaskan kembali periset jangan bersikap leberalisme, pikirkan nasib 30 juta petani seperti di atas. PRG memang adalah buah suatu teknologi, tidak perlu dipungkiri. Disarankan dilakukan kembali FGD yang lebih fokus untuk menentukan sikap Kementan dan sikap kehati-hatian kita semua.

MMA