Berita » Menghapus Kelaparan di Dunia

a.menghapus-kelaparan

Menyambut kunjungan kerja Direktur Jenderal FAO (Dr. Jose Graziano da Silva) ke Indonesia, 27-29 Mei 2013, diawali oleh kunjungan Direktur Departemen Perikanan dan Aquakultur (Fisheries and Aquaculture) FAO, Prof. Dr. Indroyono Susilo, dan salah satu agendanya adalah memberikan kuliah tamu di Badan Litbang Pertanian di Aula BBSDLP Cimanggu Bogor, 25 Mei 2013. Kuliah tamu dihadiri oleh pejabat eselon II Badan Litbang Pertanian, FKPR, peneliti, termasuk Kepala Balitkabi, Dr. Muchlish Adie.

Indonesia patut berbangga, karena salah satu putra terbaiknya, saat ini menduduki jajaran direktur FAO, konon, Prof. Dr. Indroyono Susilo, juga mencalonkan sebagai Direktur Jenderal FAO, hingga memasuki putaran, tersisa tiga kandidat.

Program kerja Dirjen FAO, memfokuskan pada lima agenda utama (Five Pillars) meliputi: (1) eradicate hunger (menghilangkan kelaparan), (2) move toward more sustainable systems of food production and consumption (sistem produksi yang berkesinambungan), (3) achieve greater fairness in the global management of food (manajemen pangan yang lebih adil), (4) complete FAO’s reform and decentralization, dan (5) expand South-South cooperation and other partnerships. Berdasarkan trend dan tantangan global, disusunlah Lima Tujuan Strategis FAO ke Depan (Five strategic objectives), yaitu pertama: menghilangkan kelaparan, kerawanan pangan dan malnutrisi; kedua : Meningkatkan produksi pertanian, perikanan dan kehutanan yang berkelanjutan secara ekonomi, sosial dan linkungan; ketiga : Meningkatkan penghasilan penduduk desa, khususnya wanita dan anak-anak melalui peningkatan kesempatan kerja dan peningkatan akses pada unit produksi, keempat : Mendorong terwujudnya sistem pertanian dan pangan yang efisien dan inklusif di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional, dan kelima : Meningkatkan ketahanan penghasilan penduduk desa terhadap segala goncangan dan krisis yang terjadi.

Indonesia merupakan salah satu negara yang dianggap sukses memperhatikan dan mengatasi masalah pangan. Tercatat pada Sidang FAO ke 35 tahun 2005, Indonesia mendapatkan penghargaan karena statusnya From Rice Importer to Self Sufficiency. Direncanakan pada Kongres ke 38 FAO, Juni 2013, Indonesia bersama dengan 19 negara lainnya juga akan mendapatkan penghargaan di bidang pangan.

Prof. Indroyono Susilo, mengajak peneliti Badan Litbang Pertanian, untuk lebih terlibat dan aktif dalam pencaturan internasional, bahkan mengundang peneliti Badan Litbang Pertanian untuk bergabung dengan FAO. Kegiatan Global Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS), juga telah diikuti oleh negara Indonesia. Kuncinya memang ada di Connectivity dan Networks.

MMA/AW