Berita » Menguji Kehandalan Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Sawah

Keragaan Kedelai varietas Detap 1 pada uji paket teknologi budidaya kedelai di lahan sawah, di Desa Banaran Wetan, Kec. Bagor., Kab. Nganjuk

Keragaan Kedelai varietas Detap 1 pada uji paket teknologi budidaya kedelai di lahan sawah, di Desa Banaran Wetan, Kec. Bagor., Kab. Nganjuk

Melaksanakan arahan Mentan Syahrul Yasin Limpo yang menggerakan seluruh jajaran Kementerian Pertanian untuk tetap bekerja meski di tengah pandemi virus Corona, peneliti Balitkabi (Balitbangtan) didukung 20 petani kooperator dari Kelompok Tani Gemah Ripah, Desa Banaran Wetan, Kecamatan Bagor melaksanakan uji paket teknologi budidaya kedelai.

Tiga paket teknologi budidaya kedelai, yaitu teknologi petani (paket A), teknologi rekomendasi setempat (paket B) dan teknologi perbaikan (paket C) diuji pada lahan sawah seluas 5 (lima) hektar. Tanam paket teknologi C dan B sudah dilakukan pada tanggal 5-6 Maret 2020, serta 19-20 Maret 2020 karena menunggu panen padi. Sedangkan paket teknologi A merupakan teknologi cara petani setempat.

Saat ini ketiga paket teknologi tanaman berumur 50-55 HST karena waktu tanam yang berbeda dan berada pada fase pembentukan polong. Keragaan tanaman pada teknologi budidaya yang diperbaiki (paket C) sangat baik dan cukup seragam, dengan tinggi tanaman sekitar satu meter dengan jumlah polong sekitar 70 per tanaman. Demikian pula dengan teknologi rekomendasi (paket B), keragaan tanaman baik meskipun tidak setinggi tanaman pada paket C. Keragaan teknologi petani (paket A) juga cukup baik, meskipun tanaman tumbuh tidak teratur karena ditanam dengan cara sebar, Pertanaman cukup baik karena air cukup tersedia dari air hujan maupun sumur pompa, serta dukungan petani kooperator yang rajin merawat tanaman. Meskipun polong terlihat cukup banyak, kewaspadaan terhadap pemantauan hama dan penyakit tetap dilakukan. Kendala tikus juga ditemui di beberapa titik, didapatkan polong muda berserakan akibat gigitan tikus, tetapi polong tidak dimakan. Semakin cepat tua polong, diharapkan dapat mengurangi serangan hama tikus.

Pada kegiatan uji paket teknologi ini diperkenalkan kepada petani VUB kedelai Detap 1, selain varietas Anjasmoro yang telah lama dikenal dan ditanam di lokasi ini. Tanggapan petani terhadap kehadiran varietas Detap 1 sangat positif. Mereka menyukai varietas ini karena lebih cepat berpolong (berumur genjah) dibandingkan varietas yang biasa mereka tanam seperti Anjasmoro dan yang lainnya. “Tanamannya kokoh dengan daun utuh bagus“ ujar salah seorang petani kooperator.

Ketika disampaikan jika kelebihan Detap 1 adalah kedelai tahan pecah polong yang artinya polongnya tidak mudah pecah jadi akan sangat membantu mengurangi kehilangan hasil di lapangan, mereka semakin antusias untuk mengetahui saat panen nanti. Menurut Kepala Desa Banaran Wetan, Bapak Suraji, sebetulnya petani di sana tidak fanatik dengan varietas yang mereka tanam. Di mana ada petani yang sudah panen kedelai dengan menggunakan varietas apapun maka itulah yang akan dijadikan benih, lanjut Kades Banaran Wetan itu. Bahkan disarankan oleh Bapak Kades, agar petani lain menanam Detap 1, asal benihnya tersedia.

Bapak Agus Ketua Kelompok Tani/Petani kooperator pada pertanaman kedelai menggunakan teknologi paket B

Bapak Agus Ketua Kelompok Tani/Petani kooperator pada pertanaman kedelai menggunakan teknologi paket B

Polong varietas Detap 1 pada paket C (teknologi perbaikan) di lahan sawah di Desa Banaran Wertan Nganjuk

Polong varietas Detap 1 pada paket C (teknologi perbaikan) di lahan sawah di Desa Banaran Wertan Nganjuk

Keragaan tanaman kedelai varietas Anjasmoro pada paket A teknologi petani

Keragaan tanaman kedelai varietas Anjasmoro pada paket A teknologi petani

Keragaan Detap 1 paket B teknologi rekomendasi

Keragaan Detap 1 paket B teknologi rekomendasi

Syt