Berita » Menguntungkan, Tumpangsari Jagung/Ubikayu vs Kedelai

Modifikasi pengaturan tanaman seperti tumpangsari dapat meningkatkan hasil secara nyata, dengan investasi tenaga kerja minimal. Sistem tumpangsari sangat menguntungkan, selain meningkatkan hasil, tumpangsari juga dapat meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi risiko gagal panen, mengurangi tingkat serangan penyakit, mengendalikan gulma, dan lebih efisien dalam penggunaan sumber daya lingkungan dibandingkan monokultur.

Tumpangsari jagung + kedelai dan ubikayu + kedelai memberikan kontribusi besar terhadap produksi kedelai sekaligus mempertahankan hasil panen jagung maupun ubikayu. Secara umum, tumpangsari jagung/ubikayu + tanaman aneka kacang lebih menguntungkan dibanding tanaman monokultur pada luas yang sama. Produktivitas lahan pada tumpangsari dinilai berdasarkan rasio kesetaraan lahan atau Land Equivalent Ratio (LER). Besarnya nilai LER tergantung pada pemilihan kultivar kedelai, karena setiap kultivar memberikan respon berbeda terhadap pola tumpangsari jagung + kedelai maupun ubikayu + kedelai.

Tumpangsari jagung + kedelai (saat kedelai umur 27 hari).

Tumpangsari jagung + kedelai (saat kedelai umur 27 hari).

Dalam upaya mendukung program pengembangan kedelai melalui pola tumpangsari, Balitkabi telah menyediakan teknologi budidaya tumpangsari serta penyediaan varietas unggul kedelai yang sesuai untuk tumpangsari. “Varietas kedelai yang sesuai adalah Dena 1 dan Dena 2 karena toleran naungan,” kata Dr. Titik Sundari, pemulia kedelai Balitkabi. Di samping itu telah diperoleh beberapa galur kedelai yang sesuai untuk tumpangsari.

Tumpangsari ubikayu + kedelai (saat kedelai umur 27 hari).

Tumpangsari ubikayu + kedelai (saat kedelai umur 27 hari).

TS