Berita » Menyiapkan Taman Teknologi Pertanian di Mollo-Povinsi NTT

1.tnt_ntt_1

Taman Teknologi Pertanian (TTP) dan Taman Sain Pertanian (TSP) merupakan salah satu program Quick Wins Jokowi–JK yang dalam pelaksanaannya pada tahun 2015 ditugaskan kepada Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Litbang. Tujuan dari program TTP dan TSP adalah meningkatkan penerapan dan alih teknologi hasil litbang Kementerian/LPNK Ristek, swasta dan perguruan tinggi kepada masyarakat, membangun model percontohan pertanian terpadu yang mengintegrasikan: pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu siklus produksi, serta meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang terampil dan mandiri dibidang agroteknologi dan agribisnis. Salah satu lokasi TTP yang dikembangkan Balitbangtan pada tahun 2015 ini adalah TTP di Provinsi NTT. Lokasi TTP NTT akan dibangun di Desa Netpala, Kec Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Penetapan lokasi ini setelah melalui serangkaian survei oleh Tim BPTP NTT dan Tim BB Padi. Berdasarkan 11 kriteria standard dari Balitbangtan dan 6 kriteria tambahan dari Tim TTP NTT, Desa Nepala mendapatkan skor tertinggi, sehingga desa tersebut ditetapkan sebagai calon lokasi TTP dengan nama TTP Mollo. Lokasi TTP di Desa Netpala seluas sekitar 100 ha, merupakan kawasan lahan kering berada pada ketinggian sekitar 1000 m dpl, komoditas existing adalah hortikultura (jeruk dan aneka sayur), pangan (jagung, ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah), dan ternak (sapi) (Gambar 1). Sumber air di desa ini selain curah hujan adalah air permukaan yang berupa mata air, air sungai, air tanah dangkal, dan air tanah dalam. Desa Netpala berada di bagian Utara Kota SoE, yaitu ibu kota Kabupaten TTS atau berjarak 20 km dari SoE dan 4 km dari Kota Kapan.

Gambar 1. Kondisi Desa Netpala, Kec Mollo Utara, Kabupaten TTS, NTT Untuk menyusun progam pembangunan TTP dilakukan Pemahaman Pedesaan secara Partisipatif/Parcipatory Rural Apraisal, (PRA). Tim PRA yang merupakan gabungan peneliti dari BPTP NTT, BB Padi, Balitklimat, PSEKP, Balitsereal, dan Balitkabi, didampingi oleh Ka BB Padi dan Ka BPTP NTT. Tim PRA disambut hangat masyarakat setempat dengan upacara adat (Natoni), dan dilanjutkan dengan penyambutan oleh pejabat setempat (Camat dan Ka Desa) (Gambar 2). Kegiatan di lapang berupa wawancara (Gambar 3) yang dibagi ke dalam empat kelompok, yaitu kelompok pangan, kelompok hortikultura, kelompok jeruk, dan kelompok ternak.

Gambar 2. Penerimaan secara adat dan penerimaan oleh camat

Gambar 3. Kegiatan wawancara, diskusi, dan arahan Ka. BB Tanaman pangan yang dibudidayakan di Desa Netpala antara lain jagung, ubi jalar, kacang tanah, dan ubi kayu. Jagung merupakan tanaman utama dan dimanfaatkan sebagai makanan pokok dengan olahan tradisional, sedangkan ubi jalar, kacang tanah dan ubi kayu sebagaian kecil (±10%) dikonsumsi sebagai makanan selingan dan sebagian besar (90%) dijual langsung ke pasar lokal. Luas pertanaman yang dikelola per petani dari tiga kelompok tani sampel (kelompok tani Akar Mas, Tol Feu, dan Silo Meo) adalah 0,2-0,5 ha. Produktivitas rata-rata komoditas tanaman pangan yang dibudidayakan secara umum relatif masih rendah. Mayoritas Petani memiliki keinginan yang kuat untuk peningkatan hasil dan kualitas hasil termasuk keterbukaan terhadap inovasi teknologi baru. Masalah yang di hadapi petani dalam usaha tani berbasis pangan di Desa Netpala, Kecamatan Mollo Utara berturut-turut adalah terbatasnya penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB), teknik budidaya dan pengolahan hasil yang tradisional, serta terbatasnya akses petani terhadap sumber inovasi dan teknologi. Oleh karena itu teknologi yang direkomendasikan adalah pengenalan VUB, perbaikan teknik budidaya, teknologi pengolahan hasil, serta introduksi komoditi potensial untuk dikembangkan.Novita N./Suarni/Priatna Sasmita