Berita » MENYONGSONG KEBANGKITAN KEDELAI DI SULAWESI TENGGARA

grtalo-7

Dalam sepuluh tahun terahir (2000 – 2010) luas pertanaman kedelai di Propinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) berfluktuasi dari 1.600 ha hingga 6.700 ha. Luas pertanaman kedelai tertinggi terjadi pada tahun 2009 yaitu 6.700 ha dan kemudian turun menjadi 2.650 ha pada tahun 2010, dengan tingkat produktivitas sekitar 0,9 t/ha. Sentra pertanaman kedelai di Sulawesi Tenggara berada di  Kabupaten Konawe Selatan yaitu hampir 90% dari total luas di Propinsi Sultra. Di Kabupaten Konawe Selatan, tanaman kedelai umumnya ditanam pada lahan sawah di awal musim hujan dengan pola tanam kedelai-padi-jagung. Salah satu sentra kedelai di kabupaten ini adalah di Kecamatan Lainea yaitu di Desa Pangan Jaya. Masyarakat Desa Pangan Jaya merupakan transmigran asal Jawa (umumnya Jawa Timur dan Jawa Tengah) pada tahun 1972. Petani menanam kedelai sejak tahun 1979 dan mencapai puncaknya antara tahun 1985 hingga 1995, yaitu dengan adanya pengusaha kapas dari Amerika yang menanam kapas yang ditumpangsarikan dengan kedelai. Pada tahun 1995 pengusaha tersebut bangkrut dan sejak itu petani tidak lagi menanam kedelai akibat ketidak-pastian pemasaran, dan kalaupun ada pembeli seringkali harganya dipermainkan. Masyarakat sesungguhnya sangat berminat menanam kedelai, tetapi yang berbiji besar karena permintaan industri tahu dan tempe setempat menginginkan kedelai berbiji besar yang selama ini banyak menggunakan kedelai impor. Dalam upaya menyebar-luaskan inovasi teknologi pertanian, pada tahun 2011 Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) melaksanakan percontohan budidaya kedelai di lahan sawah di Desa Pangan Jaya Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan Propinsi Sulawesi Tenggara seluas 1,5 ha, melibatkan tiga petani koperator, menggunakan varietas Argomulyo dan Burangrang. Kedua varietas tersebut selain berbiji besar juga berumur genjah (76-80 hari). Tanah di lokasi tersebut adalah Ultisol, dan berdasarkan uji tanah yang dilakukan oleh BPTP Sultra  pH tanah sekitar 5, kandungan P dan bahan organik sangat rendah, kandungan N rendah, dan K sedang. Penanaman dilakukan pada tanggal 21 Juni 2011 dan dipanen pada tanggal 7-13 September 2011. Periode tanam tersebut merupakan penanaman off season, karena tanam raya biasanya pada awal musim hujan. Teknologi budidaya yang diperkenalkan adalah:

  1. Tanpa olah tanah.
  2. Saluran drainase setiap 4 m dengan kedalaman 20 cm dan lebar 20 cm.
  3. Tanam secara tugal dengan jarak tanam 40 cm x 15-20 cm, 2 biji/lubang.
  4. Pemupukan dosis 150 kg/ha Phonska + 100 kg/ha SP36 + 600 kg/ha dolomit + 1 t/ha pupuk kandang. Dilomit dan pupuk kandang dicampur rata dan diberikan bersamaan tanam dengan cara disebar rata dipermukaan tanah sekaligus untuk menutup lubang tanam. Pupuk Phonska dan SP36 diberikan setelah tanam dengan cara disebar rata.
  5. Penyiangan dilakukan dua kali pada saat tanaman kedelai berumur 15 hari dan 45 hari.
  6. Pengendalian hama dan penyakit sesuai hama dan penyakit yang menyerang menggunakan pestisida kimia.
  7. Panen dengan sabit.
  8. Perontokan biji dengan threser.

Pada tanggal 13 September 2011 diadakan temu lapang yang dihadiri oleh 120 peserta yang terdiri atas 110 petani dari 12 kelompok tani dan PPL Kecamatan Lainea. Sedangkan 10 peserta lainnya dari aparat desa dan kecamatan, kepala Diperta Kabupaten Konawe Selatan dan staf, Kepala BPTP dan Staf, serta peneliti dari Balitkabi. Kepala BPTP Sultra (Dr. M. Taufiq) dan Kepala Diperta Kabupaten Konawe Selatan (Ir. Agussalim, MP) dalam sambutannya menyambut baik dukungan Balitkabi dalam upaya pengembangan kedelai di Konawe Selatan khususnya dan Sultra pada umumnya, terutama dalam teknik budidaya dan penyediaan benih. Desa Pangan Jaya merupakan desa yang dicanangkan sebagai kawasan untuk produksi benih dan akan dilakukan pembinaan oleh BPTP Sultra hingga dua tahun ke depan dan sudah dimulai pada tahun 2011. Desa Pangan Jaya  mempunyai lahan sawah seluas 200 ha dengan pola tanam saat ini jagung-padi-jagung, dan dengan masuknya kembali kedelai maka pola tanam akan menjadi kedelai-padi-kedelai. Untuk produksi benih, penanaman kedelai akan dilakukan pada bulan Juni/Juli sehingga dapat dijadikan benih pada pertanaman kedelai awal musim hujan (biasanya bulan Nopember). Dalam temu lapang tersebut juga dilakukan panen simbolis yang dilakukan oleh Kepala BPTP Sultra, Kepala Diperta Kabupaten Konawe Selatan, Camat Lainea, dan Kepala Balitkabi yang diwakili oleh Ir. Gatut WAS, MP. Sebelum panen dilakukan penjelasan singkat tentang budidaya kedelai oleh Ir. Abdullah Taufiq, MP (Balitkabi). Keragaan pertanaman beragam dari sedang hingga baik. Hasil panen terhadap tanaman yang pertumbuhannya sedang didapatkan hasil 1,3 t/ha untuk varietas Argomulyo (dikonversi dari hasil petak berukuran 375 m2), sedangkan yang pertumbuhannya baik diperoleh hasil 2,1 t/ha  (dikonversi dari hasil petak berukuran 350 m2). Varietas Burangrang menunjukkan keragaan yang lebih baik dari varietas Argomulyo, namun belum diproses sehingga hasilnya belum bisa disampaikan, sehingga petani lebih menyukai varietas Burangrang dibandingkan Argomulyo. Petani sangat puas dan senang dengan hasil tersebut, dan baru pertama kali ini sejak tahun 1979 menanam kedelai dengan sistim tanpa olah tanah (TOT) dan dengan adanya demplot tersebut petani semakin yakin bahwa menanam kedelai di lahan sawah setelah padi dapat dilakukan dengan sistim TOT. Dalam sambutannya mengahiri acara temu lapang, ketua Gapoktan Desa Pangan Jaya (Bapak Mashari) menyatakan bahwa tanam kedelai dengan sistim TOT adalah sesuatu yang baru bagi petani setempat. Berdasarkan pengakuan petani koperator, banyak petani yang membeli hasil panennya untuk dijadikan benih pada musim tanam bulan Nopember 2011. Teknik budidaya tersebut membutuhkan biaya usaha tani sebesar Rp 5.558.000 per hektar. Harga kedelai di lokasi setempat saat itu antara Rp 5.500 – 7.000/kg. Dengan asumsi harga terendah dan tingkat hasil terendah diperoleh keuntungan Rp 1.932.000/ha atau nisbah B/C 0,37. Apabila dapat mencapai hasil 2,1 t/ha maka akan diperoleh keuntungan Rp 6.332.000/ha atau nisbah B/C 1,21. Dengan demikian, budidaya kedelai akan menguntungkan dan menarik minat bila produktivitasnya 2 t/ha, dan dengan teknik budidaya yang dicontohkan tersebut peluang untuk mendapatkan hasil 2 t/ha cukup tinggi. Secara umum, petani sangat tertarik dan antusias untuk menanam kedelai yang sudah ditinggalkannya selama 15 tahun. Demplot kedelai dan temu lapang yang dilakukan oleh Balitkabi di Desa Pangan Jaya Keamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan merupakan awal kebangkitan kembali kedelai di Sulawesi Tenggara pada umumnya dan di Kabupaten Konawe Selatan pada khususnya.

Panen simbolis kedelai varietas Burangrang. Dari kiri Kepala BPTP Sultra (Dr. M. Taufiq), Peneliti Balitkabi (Ir. Gatut WAS, MP), Kepala Diperta Kab. Konawe Selatan (Ir. Agussalim, MP), dan Camat Lainea (Hermawan, S.Sos)

Salah seorang peserta temu lapang sedang bertanya seputar kedelai kepada nara sumber

Salah seorang petani koperator (Pak Dasim) sedang memanen kedelai varietas Argomulyo.

Dua petani koperator (Pak Dasim dan Pak Kusmin) sedang melakukan pembijian kedelai hasil kegiatan demplot yang dilakukan oleh Balitkabi pada MK II tahun 2011

 

Petani koperator (Pak Dasim) sedang melakukan proses pembersihan dan penjemuran kedelai yang baru dibijikan dengan threser