Berita ยป Meramahkan Lingkungan

Masyarakat semakin sadar akan arti kualitas lingkungan, baik sebagai sumberdaya maupun sebagai penopang kehidupan. Usaha pertanian memang berhadapan langsung dengan masalah lingkungan, karenanya perlu sikap bijak dalam memanfaatkan lingkungan.Menyadari pentingnya lingkungan, petani di Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, membentuk Asosiasi Petani Ramah Lingkungan. Asosiasi ini memang bukan satu-satunya, karena di tempat lain terdapat asosiasi serupa, tetapi keberadaannya di Sumberharjo memang perlu mendapatkan apresiasi.Diawali oleh pemahaman SLPHT sejak empat tahun lalu, dan kepahaman tersebut benar-benar diterapkan oleh petani Sumberejo pada usaha pertanian. Diterapkannya dan semakin dipahaminya SLPHT, melahirkan Asosiasi Petani Ramah Lingkungan dua tahun yang lalu yang diketuai oleh Pak Dayat. Awalnya diinisiasi oleh 25 petani, yang tentu mendapatkan pendampingan dari penyuluh, berkembang sekarang hingga 75 anggota yang menerapkan pertanian ramah lingkungan.Tujuannya adalah menerapkan usaha pertanian yang ramah lingkungan. Berbagai kegiatan telah dilakukan seperti pemanfaatan mikroorganisme lokal dan dibuat molnasi, molbuah, fermentasi urin sapi dsbnya, tutur wakil ketuanya Pak Widodo. Bahkan sejak beberapa bulan yang lalu mulai dikembangkan PGPR untuk memperbaiki mikroorganisme tanah dengan bahan baku dari fermentasi akar bambu; akar rumput gajah; dan akar alang-alang.

Pak Widodo dan pembuatan beragam molPak Sriyono, Penyuluh Pertanian Prambanan, yang menjadi motor pertanian ramah lingkungan, menyampaikan dengan kegiatan tersebut penggunaan pestisida dapat ditekan dan hasil pertanian meningkat. Petani pun semakin sadar, akan arti pertanian ramah lingkungan, jerami padi sekarang sudah tidak ada yang dibakar di lahan, digunakan untuk mulsa atau dijadikan pakan. Dengan demikian komposisi dan populasi mikroorganisme tanah yang menguntungkan tidak terganggu. Hasil pertanian meningkat, harga jual pun meningkat, urai Pak Sriyono.

MMA/AW