Berita » Musim panen kedelai di Bagor, Nganjuk

Bagor-nganjuk1

Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Timur. Keberhasilannya, pernah menjadi kiblat pengembangan kedelai, bahkan pernah meraih juara kedelai nasional. Hingga saat ini, Nganjuk, masih menjadikan tanaman kedelai sebagai salah satu primadona pertanian.

Pola tanam di Nganjuk, sangat intensif. Diawali oleh tanaman padi, diikuti kedelai, disambung dengan tanaman bawang merah dua kali tanam, dan sebagian petani masih meneruskannya dengan menanam jagung untuk dijual sebagai pakan atau jagung bakar. Keterangan Pak Subono, Ketua Kelompok Tani Ngudi Mulyo, Bagor Nganjuk; kepada pemulia kedelai, Muchlish Adie, 9 Mei 2013, saat melakukan observasi Uji adaptasi kedelai toleran hama pengisap polong di Desa Banaran Wetan, Bagor, Nganjuk.


Musim panen kedelai di Bagor, Nganjuk

Saat ini, di Bagor memang sedang panen raya kedelai. Sebagian besar petani menanam kedelai yang mereka sebut sebagai varietas Surya, sebagian kecil menanam varietas Wilis. Penuturan petani, hasil Wilis lebih tinggi (2,10 t/ha) dan harga jualnya sekarang juga lebih tinggi (Rp 7,000/kg) dibandingkan dengan Surya (hasilnya 1,96 t/ha) dan harga jual varietas Surya Rp 6,800/kg. Masalahnya, umur Wilis lebih dalam daripada Surya, sehingga kurang sesuai untuk pola tanam di Nganjuk yang sangat ketat, setelah kedelai akan ditanam bawang merah dua kali tanam.

Pak Subono, Ketua Kelompok Tani Ngudi Mulyo; publikasi Balitkabi di ruang pertemuan kelompok

Cara tanam kedelai dilakukan secara sebar, namun pemupukan dan pengendalian OPT telah dilakukan oleh petani. Menurut Pak Subono, cara sebar biayanya lebih sedikit dibandingkan dengan ditugal, lahan 1/7 ha butuh 1 tenaga selama 2 jam, bandingkan dengan cara tanam tugal yang membutuhkan sebanyak 4 orang selama 5 jam kerja. Benih yang diperlukan untuk tanam sebar untuk 1 ha mencapai 70 kg sedangkan dengan tanam menggunakan tugal hanya 40 kg.

Apapun yang terjadi, petani masih sangat antusias menanam kedelai.

MMA/AW