Berita » Optimalkan Sumber Pangan Lokal untuk Penyediaan Pangan bagi Semua

Menteri Pertanian memberikan sambutan pada pembukaan HPS ke-39 di Konawe Selatan

Menteri Pertanian memberikan sambutan pada pembukaan HPS ke-39 di Konawe Selatan

Indonesia memiliki potensi sumberdaya pangan lokal luar biasa yang perlu dioptimalkan perannya untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Sagu, ubi kayu, ubi jalar, dan komoditas lokal lainnya sangat potensial sebagai bahan pangan pangan pokok untuk masyarakat Indonesia, setidaknya untuk mensubsitusi bahan pangan padi/beras. FAO sangat mendukung program dan gerakan diversifikasi pangan yang telah digagas Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pertanian RI. Program dan gerakan tersebut dinilai sangat strategis sehingga perlu segera diwujudkan. Demikian antara lain yang ditegaskan oleh Mr. Stephen Rudgard, perwakilan FAO PBB untuk Indonesia dan Timor Leste, dalam sambutannya pada Peringatan HPS (Hari Pangan Sedunia) ke-39, yang di Indonesia dilaksanakan di Desa Puudambu, Kecamatan Angata, Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara pada 2-5 November 2019.

Secara eksplisit, Steven menyatakan kekagumannya pada pelaksanaan HPS ke-39 di Indonesia: “Today is very impresive: Our Actions are Our Future, World Food Day 39, Healthy Diet for Zero Hunger World ”. Selain acara puncak/pembukaan pada tanggal 2 Nopember 2019 dan Gelar Lapang Inovasi Teknologi (Geltek) di Desa Pudambu oleh Badan Litbang Kementerian Pertanian, juga dilaksanakan Pameran di lapangan Ex MTQ di Kota Kendari, diikuti oleh Pemda dan Instansi Pemerintah lainya, serta Organisasi Swasta dari berbagai penjuru Nusantara. Dilaporkan, pembukaan HPS ke-39 dihadiri oleh lebih dari 5.000 peserta.

Tema HPS Nasional tahun ini adalah: “Teknologi Industri Pertanian dan Pangan menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045”. Delegasi negara lain yang hadir pada acara ini tidak kurang dari 23 orang, antara lain dari: Armenia, Ethiopia, Marocco, Mercy-USA, Suriname, Belanda, Australia, Bangladesh, FAO Bolivia, FAO Indonesia, JICA, Saudi Arabia, Venezuela, World Food Programme (WFP), Afghanistan, dan Nagoya University Japan. Tiga gubernur yang hadir pada acara ini yakni Gubernur Sulawesi Tenggara, Kalimantan Utara, dan Jambi.

Menteri Pertanian Dr.Syahrul Yasin Limpo menuju tempat pembukaan HPS ke-39 (kiri) dan sebagian peserta saat acara pembukaan (kanan)

Menteri Pertanian Dr.Syahrul Yasin Limpo menuju tempat pembukaan HPS ke-39 (kiri) dan sebagian peserta saat acara pembukaan (kanan)

Suasana geltek tanaman akabi (kiri) dan pengunjung antusias meminta benih akabi yang dibagikan Balitkabi (kanan)

Suasana geltek tanaman akabi (kiri) dan pengunjung antusias meminta benih akabi yang dibagikan Balitkabi (kanan)

Suasana stan pameran Arena MTQ di Kendari (kiri) dan kunjungan Ka Balitbangtan Dr. Fadry Djufry di Stan Balitkabi (kanan)

Suasana stan pameran Arena MTQ di Kendari (kiri) dan kunjungan Ka Balitbangtan Dr. Fadry Djufry di Stan Balitkabi (kanan)

Beberapa hal penting lainnya yang disampaikan Mr. Steven adalah: (a) Pangan untuk semua, sehingga perlu upaya lebih keras untuk mengakhiri kelaparan dan segala bentuk kekurangan gizi, (b) Indonesia pengonsumsi beras terbesar dunia, tetapi kurang mengkonsumsi sayur dan buah, perbanyak konsumsi biji-bijian (kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan lainnya), (c) Keseimbangan dalam mengkonsumsi pangan sangat penting; oleh karena itu diversifikasi (keberagaman) pangan melalui penerapan pola pangan sehat adalah sangat penting, (d) Harga bahan pangan pokok yang masih mahal perlu diatasi dengan perbaikan dalam value chain, (e) Tingginya alih fungsi lahan pertanian subur dan semakin banyaknya jumlah petani berusia tua, masih tingginya kehilangan (losses) pangan pada aspek transportasi, serta perlunya peningkatan efisiensi dalam aspek produksi dan transportasi pangan, penerapan sistem pertanian keluarga (family farming), dan dorongan agar lebih banyak pemuda yang tertarik menekuni bidang pertanian di perdesaan.

Menteri Pertanian RI, Dr. Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.H., pada pembukaan HPS ke-39 kali ini antara lain menyatakan: (a) Peringatan HPS ke-39 kali ini mudah-mudahan menjadi rahmat dari Allah SWT untuk menjadikan pertanian kita esok hari dan di masa mendatang lebih baik dalam rangka penyediaan pangan bagi semua dan untuk terwujudnya Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia 2045, (b) Perlu inovasi dalam sistem pangan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dalam mengatasi berbagai tantangan bidang pertanian dan pangan, (c) Kita, dari Pusat hingga Daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Desa/Kelurahan), harus memiliki cara pandang yang sama dalam menangani pertanian dan pangan, dan harus bertekad untuk tidak boleh lagi ada masyarakat yang kelaparan atau kekurangan gizi, dan (d) Indonesia punya alam yang luar biasa, mulai lahan, air, kelimpahan sinar matahari, sumberdaya hayati, dll., yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat, termasuk untuk penyediaan pangan secara mencukupi bagi semua,(e) Memanfaatkan setiap jengkal tanah dengan tanaman pangan pendukung penyediaan pangan, juga (f) pengembangan bioindustri untuk terus digalakkan.

Selain itu Mentan akan (1) memasukkan pengenalan pertanian ke sekolah, (2) Indonesia punya potensi besar untuk memproduksi padi, jagung, kedelai, hortikultura, dan ternak. Untuk hal tersebut perlu energi tinggi, (3) mulai tahun 2020 dikembangkan pertanian keluarga (family farming), terutama di Provinsi percontohan yakni Sultra, Jambi, dan Kaltara, dan (4) pengembangan pertanian harus berbasis hasil riset, karena di setiap provinsi mempunyai lembaga riset yang handal.

Bersamaan dengan acara pembukaan HPS ke-39 diserahkan berbagai bantuan secara simbolis antara lain : benih padi, jagung, aneka kacang, bibit kakao dan hortikultura traktor roda 3, kartu tani, KUR Rp.100 juta/kelompok tani, dll. kepada kelompok tani, serta MoU antara Menteri Pertanian untuk pengembangan pertanian keluarga (family farming) dengan Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara, Jambi dan Kalimantan Utara.
DH