Berita » Optimisme Kab. Grobogan Meningkatkan Produktivitas Kedelai di Atas 3,5 t/ha

‘Mungkinkah produktivitas kedelai di Grobogan bisa ditingkatkan hingga 3,5 t/ha? “Mungkin”, dengan cepat Bapak Ali Muhtar salah satu penangkar benih kedelai yang juga ketua kelompok Tani Kabul Lestari Desa Panunggalan Kec. Pulokulon, Kab. Grobogan Jawa Tengah menjawab pertanyaan tim Balitkabi saat berkunjung ke rumahnya di Grobogan akhir Oktober 2020. Di tahun 2018 salah satu petani mereka pernah mencapai hasil kedelai 4 t/ha, demikian diungkapkan pak Ali dan Dul Karim. Menurut Pak Ali, budi daya yang dilakukan pada saat mencapai hasil tersebut adalah dengan tanam pada musim yang tepat dan penambahan pupuk SP36 selain pupuk Phonska. Pemupukan pertama menggunakan Phonska sebanyak 200 kg/ha pada umur 10-12 HST kemudian pemupukan kedua menggunakan SP-36 dengan dosis 150 kg/ha umur menjelang berbunga. Varietas yang digunakan adalah varietas Grobogan.

Kabupaten Grobogan merupakan sentra kedelai yang sudah turun-temurun melakukan budi daya kedelai sejak tahun 1990an. Saat itu varietas yang pertama kali ditanam adalah Petek, Ijen, Lumajang Bewok dengan hasil biji sekitar 1 t/ha. Tahun 1998, terdapat perkembangan varietas yang digunakan mulai dari Lokon, Anjasmoro, hingga akhirnya beralih ke varietas Grobogan yang sudah menjadi varietas idola petani Grobogan. Saat ini petani sudah mulai mengenal varietas baru kedelai yaitu Dega 1. Menurut mereka, Dega hampir sama dengan Grobogan baik dari penampilan maupun hasil, namun umurnya lebih genjah daripada Grobogan. Memang varietas Dega 1 merupakan VUB Balitbangtan Kementan RI yang dirilis pada 2016, adalah hasil dari Silang tunggal antara Grobogan dan Malabar.

Lahan kedelai di Grobogan merupakan lahan sawah tadah hujan yang mengandalkan pengairan dari air hujan. Rata-rata petani memiliki lahan seluas 0,5 ha. Musim tanam kedelai sekitar bulan Oktober yang merupakan musim labuhan atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Pola tanam dalam setahun adalah padi-jagung/tembakau-kedelai. Hasil kedelai yang dicapai berkisar antara 2,8 – 3,5 t/ha (rata-rata 3,2 t/ha, 635 kuintal/2000 m2). Dalam budi daya kedelai petani menerapkan teknologi berbasis kearifan lokal dengan prinsip meminimalkan penggunaan bahan kimiawi untuk menjaga kualitas tanah.

Teknologi eksisting telah dilakukan secara turun temurun dan memberikan hasil yang cukup baik dengan beberapa sentuhan teknologi seperti penggunaan benih berlabel, jarak tanam, dan penggunaan alsintan untuk tanam dan prosesing. Teknologi eksisting yang diterapkan oleh petani Grobogan meliputi waktu tanam serempak pada satu-dua bulan setelah panen jagung, tanpa olah tanah setelah panen jagung, ukuran bedengan selebar 2,5 m dengan saluran drainase lebar 35 cm dalam 40 cm, pemberian pupuk kandang atau Petroganik, 3 ton/ha sebelum tanam, menggunakan benih berlabel Grobogan, Dega 1, menggunakan seed treatment (Marshal atau Regent Red), cara tanam tugal atau alat tanam padi dengan jarak tanam 35 cm x 15 cm, 35 cm x 18 cm, umumnya 20 cm x 20 cm, 2-3 biji per lubang, pupuk Phonska 150-200 kg/ha pada sebelum umur 15 HST dengan cara dilarik kemudian ditutup, gulma dikendalikan secara manual dengan tangan atau cangkul satu kali sebelum berbunga umur 15-25 HST, pemberian pupuk organik cair buatan setempat, pengendalian hama penyakit dengan pestisida Atabron atau Ayuna, hanya sekali, melihat gejala di lapang (serangan hama penyakit relatif rendah), tidak ada pengairan, hanya mengandalkan hujan, panen secara manual dilakukan sekitar umur 80 HST saat seluruh daun sudah luruh, brangkasan langsung dibawa ke rumah dijemur 2-3 hari kemudian dibijikan menggunakan threser, dijemur satu- dua kali.

Produktivitas kedelai di Kabupaten Grobogan berpeluang untuk ditingkatkan menjadi 4 t/ha. Caranya adalah dengan memoles teknologi eksisting yang ada yaitu dengan tanam pada musim tanam yang tepat (Oktober), penggunaan benih bermutu (varietas berbiji besar, umur genjah (Grobogan, Dega 1), aplikasi Pupuk NPK dan SP-36. Meskipun demikian usahatani kedelai di Grobogan juga menghadapi kendala. Harga jual yang rendah dan tidak ada kepastian harga membuat petani kedelai menjadi lesu dan mulai beralih ke tanaman hortikultura (bawang merah) karena memberikan pendapatan yang lebih besar dari kedelai. Untuk itu petani sangat mengharapkan jaminan harga yang layak, dan apabila produktivitas dapat ditingkatkan 3,5-4 t/ha akan diperoleh keuntungan yang lebih banyak sehingga kesejahteraan petani tercapai. Semoga.

grobogan grobogan1

Tim Balitkabi saat survei optimasi teknologi budi daya  kedelai di Grobogan bersama Bapak Ali Muhtar dan Dul Karim Kelompok Tani Kabul Lestari I, Desa Panunggalan Kec. Pulokulon,kab. Grobogan, Oktober 2020

Tim Balitkabi saat survei optimasi teknologi budi daya kedelai di Grobogan bersama Bapak Ali Muhtar dan Dul Karim Kelompok Tani Kabul Lestari I, Desa Panunggalan Kec. Pulokulon,kab. Grobogan, Oktober 2020

HP/RDP/AA