Berita » Pak Wardono: Potret Petani Kedelai Andal dari Bantul

panen

Usianya memang sudah tidak muda lagi, tetapi semangat untuk menggeluti kedelai, tidak kalah dengan yang muda-muda. Jika berdiskusi tentang kedelai, bicaranya tegas, lugas. Saat pemulia kedelai Balitkabi (Muchlish Adie) hadir pada pelatihan PTT Kedelai di Bantul, Ibu Retno (peneliti BPTP Jateng), mengajak Pak Dono mengobrol, dan beliau yang datang dari rumahnya di Kecamatan Pandak, Bantul, bergegas hadir dengan senang hati.

Antara Bu Retno dan Pak Dono, lama memendam penasaran tentang varietas kedelai yang ditanam pak Dono. Pak Dono telah lama menanam kedelai. Kata beliau varietas yang ditanam itu Lokal Garut. Tanamannya tinggi, polongnya banyak, dan petani sekitar selalu membeli benih dari saya, cerita Pak Dono. Musim tanam kemarin, dari luasan 800 m2, pertanaman kedelai Lokal Garut miliknya menghasilkan 231 kg (sekitar 2,90 t/ha). Setiap musim tanam tidak kurang dari 2 ton pak Dono menjual benih kedelai Lokal Garut kepada petani. Naluri sebagai pemulia, Pak Muchlish, apakah warna bulunya putih dan umur kedelainya sekitar 85 hari. Diiyakan oleh Pak Dono, sambil menyerahkan contoh benih, yang menurut Pak Dono, ini sudah diseleksi dua kali. Tentu sebagai peneliti, Pak Muchlish akan meneliti lebih lanjut benih yang diserahkan Pak Dono, apakah Lokal Garut dimaksud merupakan varietas unggul yang telah dilepas tetapi berkembang di Bantul, ataukah segregan (hasil segregasi) dari varietas unggul. Jawabnya perlu tahap-tahap penelitian.

Dengan tetap berapi-api, Pak Dono menjelaskan bahwa varietas Lokal tersebut sudah ditanam lebih dari 30 tahun.  Diimbuhkan pula, heran melihat petani kok membeli benih kedelai, padahal sudah diajarkan untuk memilih tanaman terbaik, dibijikan dan digunakan sebagai benih sendiri. Tapi upaya tersebut sulit diterima petani. Juga, Pak Dono betul-betul gerah, melihat benih bantuan yang kualitasnya kurang baik. Diumpamakan oleh beliau, misalnya mendapatkan bantuan benih 40 kg, tapi mutunya jelek dengan daya tumbuh 75%, jika sehektar menghasilkan 2 ton, maka petani rugi 500 kg, karena populasi tanaman hanya 75%.  Dibantu 40 kg benih gratis, tapi rugi 500 kg.

Pak Dono, berjuang untuk kedelai

Keandalan Pak Dono memang tidak diragukan. Pada tahun 2004, di areal kedelainya, menggondol juara kedelai nasional. Kemampuan mengelola benih juga tidak diragukan, karena jaminan mutu benih dari Pak Dono, maka petani kedelai selalu mendatangi untuk membeli benih pada awal musim tanam. Banyak orang mengatakan daya simpan kedelai sangat singkat, tetapi bagi saya, hal itu tidak berlaku, saya bisa menyimpan kedelai hingga setahun, daya tumbuhnya masih di atas 80%.  Apalagi sekarang banyak jerigen, yang bisa digunakan sebagai wadah penyimpanan kedelai. Resepnya kata Pak Dono, selalu melakukan seleksi terhadap tanaman kedelai, sehingga benih kedelai murni. Yang penting menurut beliau, jangan sekali-kali menjemur benih kedelai tanpa alas, jangan memaksakan benih kedelai dijemur hingga matahari sangat terik. Benih kedelai yang telah dijemur dan telah kering, didiamkan sebentar, baru dimasukkan ke dalam jerigen. Setahun disimpan tidak apa-apa, urai beliau. Teknologi yang telah diterapkan beliau memang telah benar, dan memang benar. Jika pascapanen benar, kedelai bisa disimpan di atas 6 bulan. Pengalaman serupa juga dilakukan oleh teman-teman petani di NTB, yang juga mampu menyimpan kedelai hingga setahun.

Kepiawaian beliu di bidang kedelai, pada tahun ini, beliau diminta untuk menyiapkan mengikuti lomba Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI) kedelai sekaligus akan mengikuti lomba Penangkar Benih Kedelai. Semoga berhasil Pak Dono.

Berbincang, Pak Muchlish, Pak Dono, Bu Retno