Berita » Panen dan Temu Lapang Kedelai di Mataram

a.ntb_1

Dukungan Badan Litbang Pertanian dalam peningkatan produski kedelai nasional terus dilakukan secara masif dan nyata di lapang. BPTP NTB melakukan demplot PTT kedelai seluas 1 ha yang berdampingan dengan pengembangan program SLPTT kedelai seluas 100 ha. Demplot dilaksanakan di Kelurahan Ampenan Utara, Ampenan, Mataram yang ditanam 18–23 Juli 2013 menggunakan varietas Anjasmoro.Keragaan dari demplot varietas Anjasmoro cukup bagus dan dilakukan panen dan temu lapang kedelai di sekitar lokasi demplot pada 10 Oktober 2013. Selain dihadiri oleh sekitar 100 orang petani dan penyuluh, panen dan temu lapang juga dihadiri oleh Sekretaris Bakorluh Provinsi NTB, Dinas Pertanian Provinsi NTB, Kepala BP4K Kota Malang dan Dinas Pertanian Kota Mataram. Dua peneliti Balitkabi, Dr. Suharsono dan Dr. Muchlish Adie ikut hadir dan bertindak sebagai narasumber. Kepala BPTP NTB menyampaikan bahwa demplot yang dilakukan di tengah-tengah pelaksanaan SLPTT kedelai diharapkan menjadi media percontohan yang perlu segera direplikasi ke tempat lain melalui peran penyuluhan. Dengan cara demikian maka pemacuan produksi kedelai khususnya di NTB dapat segera dilakukan.
Kepala Bakorluh juga mendorong petani untuk meningkatkan produktivitas kedelai di NTB. Tantangannya bagaimana memposisikan kedelai menjadi menarik dan membuat petani bergairan untuk menanamnya. Kuncinya ada di jaminan harga dan produktivitas. Pemulia kedelai Balitkabi (Muchlish Adie) menyampaikan posisi dan status kedelai di Indonesia dan gambaran kedelai di sentra dunia. Kedelai dunia sekitar 97% disumbang dari lima negara yakni Amerika, Brasilia, Argentina, Cina dan India. Varietas Anjasmoro yang dihasilkan dari demplot berkisar 2,40 t/ha dengan rata-rata jumlah polong/tanaman mencapai 70 polong. Rata-rata hasil kedelai di Amerika mencapai 2,74 t/ha, Brasilia sekitar 2,31 t/ha dan India adalah 1,08 t/ha.Temuwicara yang dipandu oleh Kepala BPTP NTB diikuti oleh petani dan penyuluh secara antusias. Keluhan dan pertanyaan petani hanya terfokus kepada siapakah yang akan menjamin harga kedelai yang telah ditetapkan sebesar Rp7.000, bagaimana jika dalam waktu yang tidak terlalu lama ini akan terjadi panen raya kedelai. Sekali lagi dipertanyakan siapakah yang akan mengawal dan menjamin harga jual kedelai petani. Yang juga menarik, petani berkeluhkesah kenapa berbagai bantuan dari pemerintah selalu terlambat, baik benih, pupuk dsbnya. Pada akhirnya penyuluh diminta untuk segera menyebarluaskan inovasi kedelai yang telah diterapkan di demplot kedelai, sehingga NTB yang selalu menjadi juara kedelai nasional tetap dapat dipertahankan.MMA/AW