Berita » Partisipasi Peneliti Balitbangtan dalam Training Workshop On Germplasm Management System

korsel

Dua peneliti Balitbangtan dari Balitkabi (Ratri Tri Hapsari) dan BB-Biogen (Yusi Nurmalita Andarini) pada tanggal 11‒20 Mei 2015 berpartisipasi dalam kegiatan The 3rd AFACI International Training Workshop On Germplasm Management System Di Jeounju, Korea Selatan. Kegiatan training dan workshop diorganisasi oleh AFACI dalam rangka memberikan kesempatan belajar dan bimbingan teknik kepada anggota AFACI untuk mengelola dan mengembangkan plasma nutfah di negaranya masing-masing. Training diikuti oleh 22 orang peserta yang berasal dari 11 negara anggota AFACI, yaitu dari Bangladesh, Cambodia, Indonesia, Republic Kyrgyz, Lao PDR, Mongolia, Nepal, Filipina, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam (Gambar 1). Acara training dan workshop dibuka oleh Dr. Chun Hye-kyung sebagai president National Academy of Agricultural Science (NAAS), RDA (Rural Development Administration).


Gambar 1. Peserta training berfoto bersama President NAAS, peneliti dan tim AFACI. Pada workshop ini, setiap negara menyampaikan “country report” mengenai statistik pertanian dan status manajemen plasma nutfah. Agenda selanjutnya, kunjungan ke National Agrobiodiversity Center (NAC) (Gambar 2) dan Agricultural Exhibition Hall yang berada di Jeounju. Bank gen di Korea termasuk ke dalam lima besar bank gen di dunia selain di USA, Jepang, Jerman, dan Belgia. Total koleksi plasma nutfah yang dimiliki RDA sebanyak 408.455 aksesi dengan 9.893 spesies. RDA memiliki dua bank gen yang terletak di Jeounju dan Suwon. NAC di Jeounju, dikhususkan untuk penyimpanan plasma nutfah jangka pendek (working collection) sedangkan di Suwon khusus untuk penyimpanan plasma nutfah jangka menengah-panjang (mid-long term storage).


Gambar 2. fasilitas tank cryoperservasi (kiri), Bank gen RDA (tengah), bank DNA di Jeounju (kanan). Walaupun NAC di Jeounju baru berdiri tahun 2014, namun pada saat kunjungan peserta training, fasilitas penelitian dan penunjang sudah ditata secara lengkap, apik dan menarik. Salah satunya adalah Agricultural Exhibition Hall (AEH) yang merupakan tempat peragaan sejarah pertanian Korea dari jaman kuno, saat ini dan rencana pertanian mereka di masa mendatang (Gambar 3). AEH tak ubahnya seperti museum namun didesain sangat menarik dan menyenangkan, sehingga pengunjung anak-anak pun dapat belajar dan terhibur disini. AEH juga menyediakan ruangan seperti bioskop dengan teknologi 4D (empat dimensi) yang dilengkapi dengan kursi yang dapat bergerak mengikuti alur film yang diputar. Film yang diputar bertemakan kepedulian seorang anak korea yang merawat tanaman dengan baik.


Gambar 3. Fasilitas pameran produk pertanian (kiri), rumah kaca masa depan yang dapat dipantau dengan remote (tengah),
salah satu desain dinding yang menarik untuk anak-anak (kanan). Kegiatan kuliah singkat dan praktikum juga dilakukan pada training ini. Materi yang diberikan antara lain kegiatan molekuler dasar yang mencakup ekstraksi DNA dan amplifikasi PCR menggunakan marker, praktik menggunakan software powermarker untuk menganalisis keragaman genetik data molekuler, teknik cryopreservation dan kultur in vitro (Gambar 4).


Gambar 4. Praktikum mengekstraksi DNA (kiri), teknik cryopreservation (tengah), teknik kultur in vitro (kanan). Selain itu, para peserta training juga melakukan field trip ke lembaga penelitian kaktus dan tanaman sukulen di Goyang dan lembaga penelitian bunga di Yesan (Gambar 5). Lembaga penelitian kaktus memiliki teknik budidaya yang sangat baik, sehingga dapat memperbanyak tanaman secara cepat dan masiv. Hampir 75% hasil riset dari lembaga penelitian ini, menyumbang pasar kaktus di Korea. Selain fokus ke pasar domestik, kaktus juga merupakan komoditi eksport yang sangat menguntungkan petani. Pasar eksport kaktus Korea terutama untuk memenuhi pasar Belanda dan USA.


Gambar 5. Bank gen kaktus (kiri), beragam tanaman sukulen yang dikomersialkan (tengah), lembaga penelitian bunga di Yessan (kanan). Sebelum acara penutupan, panitia meminta feedback evaluasi training dari semua peserta. Secara umum peserta training menyambut positif semua kegiatan yang telah dilakukan dan menyarankan agar alokasi waktu untuk materi dan praktikum molekular dan cryopreservation ditambahkan lagi.

RTH/KN